Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
27. Pengakuan


__ADS_3

3 jam berlalu....


Abraham menunggu mereka dengan gelisah, berkali-kali dirinya melirik ke arah jam yang ada di dinding, segera Abraham berdiri dari sofa menuju lemari pendingin untuk mengambil minuman dingin agar pikirannya bisa segar dan tak kusut karena memikirkan Doni dan yang lainnya saat ini yang tak kunjung datang.


Berkali-kali Abraham menghela nafas panjang, menenangkan pikirannya saat ini. Dia berfikir positif kalau Doni dan yang lain pasti berhasil dan mereka tidak akan terluka, ya mengingat bagaimana hebatnya Doni dan yang lainnya selama ini dalam melindungi dirinya selama ini.


Abraham pun kembali duduk di sofa sambil meneguk habis minuman kaleng yang masih tersisa di tangannya saat ini.


Drap drap drap drap drap....


Terdengar suara langkah kaki yang cukup banyak menggema di sana, Abraham pun bergegas menuju tempat di mana mereka biasanya berkumpul.


Melihat mereka semua kembali membuat Abraham menghela nafas lega.


"Tuan muda," sapa mereka dengan serempak.


Doni pun meminta yang beberapa anak buahnya agar segera memasukkan para penghianat itu kedalam sel bawah tanah tentunya untuk mendapatkan balasan yang sesuai dan untuk pak tuan itu Doni sengaja meminta mereka menaruhnya di ruangan khusus yang sengaja di sediakan oleh sang tuan muda untuk pak tua itu.


"Akhirnya kalian kembali, saya sudah berfikir kalau kalian kenapa-kenapa karena sampai jam segini kalian belum kembali-kembali," kata Abraham terlihat dari wajahnya yang tengah khawatir saat ini, sampai dia melupakan ketegasan yang selalu dia tampilkan di wajahnya selama ini.


Mereka bertiga (Mark, Tito dan Doni) tersenyum sedangkan Bimo saat ini masih berada di mansion mengurus semua kekacauan yang di akibatkan oleh mereka tadi. Bimo yang akan mengatur semuanya agar kembali damai seperti semula.


Bimo juga tak menyangka ternyata banyak dari mereka yang berkhianat dan selama ini dia dan Doni tak menyadarinya. Ah iya dia dan Doni selama ini mengikuti sang tuan muda ke luar negeri untuk menuntut ilmu.


Bimo mengelengkan kepalanya, dia bisa membayangkan bagaimana perasaan sang tuan mudanya itu, orang yang selama ini dia percaya ternyata adalah dalang dari semua ini.


.


.


Ruangan itu sedikit gelap, cahaya di ruangan itu terasa suram karena lampu penerangan cukup kecil, begitu ada orang yang masuk tak akan ada yang tahu kalau orang itu tidak mendekat ke arahnya.


Tap tap tap tap tap.... Langkah kaki Abraham terdengar saat dia berjalan menuju pria tua yang sedang terikat di sana.


Pria itu mendongak mencoba membuka matanya melihat siapa yang datang menghampiri dirinya saat ini.

__ADS_1


"Halo paman Albert atau lebih tepatnya Mr Al," kata Abraham tersenyum menyeramkan.


"Tu-an muda," pria itu tergagap tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Kenapa paman?" Tanya Abraham dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha, meskipun aku tertangkap tetapi aku puas melihat keluarga ini hancur. Ha ha ha ha ha ha....."


Pria itu tak lain adalah kepala pelayan yang sudah berada di sini selama 8 tahun karena kepala pelayan yang lama di tugaskan untuk menjaga mansion milik almarhum sang kakek.


"Kenapa paman tega seperti ini, apa yang membuat paman sepertinya membenci keluarga ku,'' lirih Abraham menatap sendu laki-laki tua yang sudah dia anggap seperti keluarga sendiri.


"Ini semua salah kedua orang tua kamu, mereka sibuk mengembangkan usaha mereka tetapi mereka tak pernah memperhatikan bagaimana pegawainya, saat aku membutuhkan pertolongan karena uangku tak cukup untuk membiayai operasi dan biaya perawatan istriku, saat istriku telah tiada mereka baru memberikan bantuan uang. Ha ha ha ha ha ha semua terlambat istri ku telah tiada dan mereka seolah-olah tak merasa bersalah," kata pria itu dengan tawa pilu mengingat kepergian sang istri.


"Apa paman meminta bantuan kepada mama dan papa? Terus kenapa waktu itu paman tidak meminta bantuan ku?" Tanya Abraham menatap pria itu dengan sendu.


"Meskipun aku tidak meminta bantuan, harusnya mereka tahu dan mengerti, terus untuk apa aku meminta bantuan dengan anak ingusan yang waktu itu masih SD ha ......" Sinis pak tua itu.


"Terus kenapa paman juga ingin mencelakai ku dengan membakar vila yang ku tempati waktu itu?" Tanya Abraham.


Di luar ruangan.


"Bagaimana?" Tanya Bimo yang baru sampai kepada Doni.


"Entahlah tuan muda masih di dalam," jawab Doni acuh.


"Oh ya besok temani aku jalan yuk," pinta Bimo.


"Kemana?" Tanya Doni mengerutkan keningnya, tidak biasanya minta di temani untuk pergi keluar.


"Aku bosen, pengen cari udara segar biar awet muda sekalian cuci mata," kata Bimo tersenyum membayangkan sesuatu yang Doni tak tahu.


"Cuci mata, cuci saja dengan air kran kan bisa kenapa repot-repot keluar," grutu Doni.


"Ck kamu itu kebanyakan main sama samsak tinju jadi tidak gaul, masa cuci mata saja tak tahu," grutu Bimo mengerucutkan bibirnya sebal.

__ADS_1


"Bukannya tidak tahu tetapi aku curiga sama kamu, tidak biasanya kamu mengajak ku pergi dan senyum mu itu terlihat mengerikan bagi ku," kata Doni dengan jujur tanpa basa-basi lagi.


"He he he he he, ketahuan banget ya," kata Bimo cengengesan.


"Hmm..."


"Sebenarnya aku mau kencan buta dengan seseorang, kamu harus dan wajib temani aku," pinta Bimo namun sepertinya terdengar seperti paksaan.


"Haissss kamu itu, kita harusnya segera menyelesaikan semua ini, eh kamu malah mau kencan buta," grutu Doni.


"Ya kan aku sudah kenal lama dia di sosial media jadi dia ngajak aku ketemu mumpung dia ada di kota ini, ayolah Don kamu ikut aku ya ya ya biar aku tidak gugup," kata Bimo membuat Doni menghela nafas panjang.


"Apa kamu tidak berfikir hah.... Bagaimana kalau perempuan itu tahu wajah ku dan malah kabur," kata Doni membuat Bimo terdiam lupa satu hal.


"Kamu kan bisa 0akwinmasker dan kaca mata, ayo lah Don bantu aku," pinta Bimo merengek seperti anak kecil membuat Doni mengangguk dengan terpaksa.


"Yes besok jangan lupa,"


"Hmmm..."


"Ya sudah aku balik ke mansion dulu ya," pamit Bimo pergi dengan cepat sebelum Doni berubah pikiran tentunya.


Tak lama...


Abraham keluar dengan wajah yang entahlah Doni tak bisa tebak karena ada raut marah dan kesedihan di dalamnya sekaligus.


"Tuan muda," Doni menunduk.


"Kamu urus semuanya, oh ya besok aku akan pergi ke perusahaan jadi persiapkan semuanya."


Doni mengangguk mengerti, dia paham dengan kata-kata tuan mudanya itu.


Setelah berbicara seperti itu, Abraham pergi meninggalkan Doni.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2