
"Ck baru sampai sini belum sehari saja sudah apes ketemu wanita seperti itu," grutu Bimo di dalam kamarnya.
Bimo yang merasa sudah lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Nih kasur isi kapas apa pasir keras banget," gumannya sebelum menutup mata tidur.
Sedangkan di kamar Doni dan Tina.
"Sayang kenapa kedua orang tuamu memanggil mu dengan nama Nana?" Tanya Doni begitu penasaran.
"Oh itu..."
"Mungkin karena dulu aku masih kecil aku tidak bilang kata Tina dan aku selalu bilang ke orang-orang nama ku Nana, jadi bapak, ibu, adik dan teman bahkan tetangga ada yang menyebut nama ku Nana. Nah itu berlanjut sampai sekarang," jelas Tina panjang lebar.
"Oh pantes tetapi aku suka nama panggilan itu terdengar lebih lucu," kata Doni tersenyum tulus.
"Mas Doni istirahat saja, aku mau temani ibu masak takutnya nanti mas Doni lapar," kata Tina saat menjauh dari Doni namun itu sia-sia saat Doni dengan cepat memeluk istrinya itu dari belakang.
Deg
Jantung Tina berdetak kencang tak berirama akibat ulah sang suami.
"Mas...." Rengek Tina menutupi rasa gugup dan malu, namun Doni justru mengeratkan pelukannya.
"Sttt...! Sebentar saja sayang," lirih Doni masih engan melepaskan pelukannya itu.
Benar saja tak sampai 5 menit Doni melepaskan pelukannya.
"Ya sudah pergilah, berkumpulah dengan kedua orang tua mu pasti mereka berdua merindukan mu," kata Doni setelah melaksanakan pelukannya dari sang istri.
Tina menoleh ke arah sang suami. "Tidurlah pasti mas Doni lelah."
Setelah berbicara seperti itu, Doni menatap kepergian istrinya dengan pandangan rumit. Doni tak menyangka kalau istrinya begitu membela dirinya di depan kedua orang tuanya.
"Terimakasih," lirih Doni.
DI RUANG TAMU....
"Bapak lihat ini bagus tidak," kata ibu seraya memutar tubuhnya menunjukkan baju baru miliknya.
"Astaghfirullah Bu, nanti ketahuan nak Doni dan nak Bimo, kita bisa malu," kata bapak mengelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang seperti anak kecil.
__ADS_1
"Tenang saja pak, mereka pasti tidur karena ibu lihat tadi wajah mereka kelelahan," kata ibunya.
"Terserah ibu saja lah," jawab bapak pasrah.
"Oh ya pak, itu mobil di depan milik siapa?" Tanya ibu kepo.
Sedangkan bapak hanya menepuk keningnya, mengapa istrinya yang biasanya kalem menjadi begini.
"Entahlah Bu, bapak tidak tahu. Ibu tanya saja sama Nana."
"Menurut bapak, apa yang membuat anak kita mau menikah dengan pria itu," bisik ibu di telinga bapak agar tidak terdengar di oleh anak dan tamunya.
"Mung...." Bapak langsung menghentikan ucapannya saat melihat anaknya itu berjalan mendekat ke arahnya saat ini.
Bapak langsung memberi kode kepada istrinya itu agar diam, namun ibu yang belum paham di buat binggung.
"Bapak kenapa malah diam," protes istrinya itu.
"Wah ibu cantik sekali," kata Tina membuat bapak melotot agar istrinya itu tak berbicara macam-macam atau menyinggung anak dan menantunya, bapak bisa melihat kalau pria itu baik meskipun wajahnya terlihat menyeramkan.
"Benar kah ibu cantik?" Tanya ibu tersipu malu.
"Iya, benar kok sampai Nana saja pangling," jawab sang anak semakin membuat ibunya merona. Bapak hanya mengelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu.
"Mas Doni sedang tidur pak, mungkin dia kelelahan sedari pagi menyiapkan semuanya sendirian," jelasnya.
"Nana, ibu mau tanya tetapi jangan marah ataupun tersinggung," kata sang ibu menarik tangan anaknya agar mengikutinya duduk.
"Nak apa kamu di paksa menikah dengan pria itu?" Tanya ibunya dengan sorot mata penasaran.
Deg...
Memang benar firasat orang tua tak pernah salah.
Tina tak menyangka, ibunya akan bertanya demikian. Ya kenyataan memang benar tetapi dia tak mungkin jujur dan mengatakan semuanya. Bisa-bisa kedua orang tuannya kaget dan marah besar, apalagi alasan yang membuat dia terpaksa menikah dengan Doni.
Tina menghela nafas panjang sebelum mencari alasan yang masuk akal.
"Aku tahu pasti ibu memandang mas Doni dari wajahnya. Mas Doni itu orang yang baik jadi jangan memandang dia dari wajahnya karena semuanya bukan salah mas Doni, itu semua karena mas Doni menyelamatkan tuan muda dari kebakaran dan mengorbankan dirinya sendiri. Apa orang yang tulus seperti dia menyakiti Nana, tentu tidak Bu itulah alasan Nana menerima mas Donie menjadi suami ku," jelas sang anak panjang lebar.
"Mas Doni juga punya rencana membawa bapak dan ibu ke kota, kita tinggal di sana bersama-sama. Biar nanti mas Doni yang menjelaskan semuanya," kata Tina membuat kedua orang tuanya saling berpandangan.
__ADS_1
"Nak bagaimana dengan sekolah adik mu?" Tanya bapak.
"Entahlah Nana belum tahu, biar nanti mas Doni saja yang sampaikan. Nana lupa apa yang kemarin mas Doni sampaikan. He he he," jawab sang anak dengan cengengesan.
"Adit mana Bu, jam segini belum pulang?" Tanya Tina mencari keberadaan adiknya namun semua nihil.
"Anak itu kalau pulang sekolah pasti mampir kemana-mana dulu sebelum pulang," jawab ibu.
"Ayo kita masak Bu, Nana sudah kangen masakan ibu padahal baru 3 tahun tak pulang," ajak Tina.
Bapak hanya mengelengkan kepalanya saat melihat kelakuan anaknya yang masih seperti anak kecil itu.
SORE HARI...
Meja makan kecil itu sudah penuh dengan berbagai macam hidangan untuk menyambut mereka semua.
Doni menguap berkali-kali setelah itu dia bangun dan mencari keberadaan istrinya. Ternyata istrinya itu sedang membersihkan ruang tamu lebih tepatnya Tina sedang menyapu.
Greeeppp....
Tina awalnya kaget namun itu hanya sesaat saat tahu siapa yang memeluknya dari belakang.
"Sayang, apa tidak lelah?" Tanya Doni masih setia memeluk istrinya.
Dari kejauhan Bimo yang mau berjalan keruang tamu, namun niat itu di urungkan saat melihat kelakuan sahabatnya apalagi panggilan sayang itu membuat telinga Bimo geli sendiri.
"Ck dasar tak tahu tempat, apa kelamaan jomblo ya Doni jadi seperti ini. Ih serem amat, amit-amit semoga nanti aku tidak seperti dia (Doni)," grutu Bimo di dalam hatinya saat ini.
Bimo pun berbalik arah menuju ke dalam kamarnya kembali.
"Aish mas Doni lepaskan nanti ketahuan orang, kita bisa malu," lirih Tina dengan wajah memerah.
Dengan sedikit tak rela, Doni melepaskan pelukannya itu.
"Mas Doni ayo makan," ajak istrinya itu.
Doni mengelengkan kepalanya menolak membuat Tina kecewa. "Kenapa?"
"Aku belum mandi takutnya bau asem dan menganggu acara makan jadi aku ingin mandi tetapi dari tadi aku binggung cari kamar mandinya," jelas Doni.
"Ayo," Tina menyeret suaminya menuju kamar mandi yang ada di luar rumah lebih tepatnya di halaman belakang.
__ADS_1
Doni tercengang karena kaget saat melihat penampilan kamar mandinya. Mau tak mau Doni pun mandi dengan cepat.
Bersambung....