
Keesokan harinya....
Doni terbangun dengan malas dia berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya agar rasa kantuk itu segera hilang.
20 menit Doni sudah siap dengan pakaian hitamnya.
"Hei mau kemana kamu? Pagi begini sudah begitu rapi?" Tanya Bimo yang masih bersandar dengan malas diatas ranjang.
"Ck dasar pemalas, ini sudah jam 5 pagi harusnya kamu sudah bersiap," kata Doni yang masih duduk diatas ranjang memasang jam tangan dan mengecek semuanya takutnya ada yang tertinggal seperti ponsel ataupun dompet miliknya.
"Bersiap kemana?" Tanya Bimo yang masih linglung.
"Ah sudahlah, kamu lanjut tidur saja. Biar aku sendiri yang bereskan semuanya," grutu Doni meninggalkan Bimo yang masih kebingungan saat ini.
"Memang hari ini kita mau kemana sih," guman Bimo menggaruk kepalanya dengan binggung.
"Ah sudahlah, tadi kan Doni nyuruh aku tidur lagi. Lumayan meskipun cuma bentar," kata Bimo sambil merebahkan tubuhnya lagi ke atas ranjang.
.
.
Doni berjalan dengan gagah menuju ke arah markas yang tak jauh dari sana. Beberapa bodyguard yang melihat ataupun melewati Doni pun menunduk hormat karena Doni adalah orang kepercayaan atau tangan kanan sang tuan muda, ya meskipun ada beberapa dari mereka yang sedikit takut melihat wajah Doni.
Markas itu berada di belakang tepatnya di belakang mansion tertutup oleh hutan jadi tidak akan ada yang mengira kalau di sana ada markas kecil.
Brak...
Doni membuka pintu dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Beberapa orang (anak buah Doni) yang berada di sana menoleh memastikan siapa yang berani masuk ke sini kecuali orang-orang tertentu saja, ya tidak semua bodyguard boleh masuk ke tempat ini karena tempat ini didirikan oleh sang tuan muda dan di kelola oleh Tito, Mark dan beberapa bodyguard kepercayaan lainnya. Semua ini sengaja Abraham sembunyikan karena dia tak percaya semuanya, takut ada penyusup yang sengaja menyamar dan mencari rahasia keluarganya atau yang lebih parahnya lagi adalah berniat membunuhnya.
"Bagaimana?" Tanya Doni memecah kesunyian.
Sreett... Seseorang menarik kursi untuk Doni duduk.
"Dia masih setia menutup mulutnya bos," jawab salah satu orang di sana.
"Ck biarkan saja nanti dia pasti akan bicara," kata Doni percaya diri tak lupa senyum sinis yang tersungging di bibirnya.
Pria itu diikat dengan keadaan yang cukup mengerikan, wajahnya sudah babak belur dengan pelipis dan sudut bibir berdarah.
Prok prok prok prok prok prok...
Doni bertepuk tangan membuat pria itu semakin heran. "Apa yang dia lakukan?" Batin pria di depannya itu bertanya-tanya.
__ADS_1
Muncullah seseorang dengan pakaian yang sama dengan Doni berjalan mendekat ke arah sana dan menyeret seseorang dan mendorongnya sampai tersungkur di depan kaki Doni.
Pria itu menyipitkan matanya, namun setelah itu dia kaget saat tahu pria yang tersungkur di kaki Doni adalah temannya.
"Ha ha ha ha ha, bagaimana kejutan dari ku? Menarik bukan," kata Doni menyeringai lebar membuat kedua pria yang babak belur itu menelan ludahnya kasar.
G L E E K
"I-ini bagaimana bisa?" Kata ria itu tergagap tak percaya kalau temannya itu bisa tertangkap.
"Ha ha ha ha ha ha ha," Doni tertawa jahat.
"Siksa keduanya sampai mereka bicara jujur," kata Doni dengan perintah yang membuat siapapun yang mendengarnya ketakutan.
Doni yakin keduanya di perintahkan seseorang untuk menyakiti sang tuan muda.
Ctasssss...
"Ahhh...."
"Tolong...."
"Ampuni aku...."
"Aahhhhh....."
Doni meninggalkan mereka dan mempercayakan semuanya kepada mereka.
Saat Doni masih berada di sana samar-samar dia mendengar pria itu menyebutkan nama, mana seseorang yang pastinya Abraham kenal.
Tangannya mengepal erat." Barani mengusik tuan muda, jangan salahkan nanti kalau aku menghilangkan mu dari bumi ini," kata Doni dengan begitu menggebu-gebu karena emosi.
Doni berbalik ke arah ruangan tadi. Bughh.....
Pria itu tersungkur akibat bogem Doni yang tak main-main itu.
"Katakan sejujurnya kalau kamu ingin keluarga mu baik-baik saja," ancam Doni.
Doni terpaksa membawa-bawa keluarga pria itu agar pria itu takut dan mengakui semuanya.
"Tolong jangan apa-apakan keluarga saya, jangan bawa mereka karena mereka tidak bersalah," pinta pria itu memelas sedangkan pria di sebelahnya itu masih terdiam.
Doni melirik ke arah pria yang masih terdiam seperti tak punya rasa takut sekalipun. Doni sadar mungkin pria itu tak punya seseorang yang akan dia khawatirkan jadi dia tak merasa takut akan ancaman dari Doni.
__ADS_1
"Kamu kenapa diam saja?" Tanya Doni menyeringai lebar.
Dia melirik ke arah anak buahnya, anak buahnya pun mengerti dan langsung menyeret pria itu ke ruangan satunya.
Tak berapa lama...
"Ahhhh...."
"Aaaaa..."
Terdengar suara teriakan yang begitu nyaring membuat tubuh pria di depannya tadi semakin ketakutan di buatnya.
"Iya saya akan mengaku," kata pria di depannya itu dengan gemetar.
Doni menoleh dan tersenyum manis namun bagi anak buahnya senyum itu bukan senyum yang membuat orang tenang melainkan sebaliknya.
"Ayo katakan," kata Doni dengan senyum yang sama.
"A-ku di suruh untuk meracuni tuan muda Abraham oleh seseorang pria tuan namun aku tak mengenalnya, aku hanya ikut dia saja," jelasnya dengan ketakutan menunjuk ke arah ruangan di mana pria tadi di siksa.
Doni mengangguk mengerti.
"Kamu tidak tahu siapa yang menyuruhmu itu?" Tanya Doni memastikan.
pria itu mengelengkan kepalanya dengan cepat berkali-kali, memang benar dia tak tahu siapa si penyuruh asalkan dia bisa pulang membawa uang untuk keluarganya tak perduli apakah hasil perbuatannya itu akan merugikan seseorang ataupun tidak.
"Tetapi teman ku itu menyebutnya Mr Al dan aku tak tahu siapa itu karena orang itu selalu memakai topeng kalau bertemu dengan kita," jelasnya.
"Bagus karena kamu mau jujur, aku akan membebaskan dirimu tetapi dengan catatan. Kamu dan keluarga mu harus menghilang dari kota ini dan jangan sampai aku bertemu dengan mu lagi atau kamu berani mengusik kami lagi kalau tidak ucapkan selamat tinggal kepada keluarga mu," kata Abraham dengan tegas membuat pria itu membeku di tempat.
Setelah itu pria itu mengangguk cepat, dia tak tahu harus pindah ke mana namun dia harus secepatnya pergi karena pria di depannya itu terlihat begitu mengerikan dengan aura yang mampu membuatnya takut.
"Lepaskan dia," perintah Doni.
Kemudian pria itu di seret paksa menuju mobil dan mungkin pria itu akan di buang oleh anak buah Doni di tempat yang jauh dari mansion.
"Mr Al ya," guman Doni.
D E G...
"Kenapa aku baru sadar," lirih Doni dengan rasa tak percaya.
"Aku harus selidiki semuanya sendirian karena takutnya bukan hanya dia saja tetapi masih ada tikus-tikus yang bersekongkol dengannya," batin Doni.
__ADS_1
Bersambung...