Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
50. Tetangga


__ADS_3

"Baiklah nanti bapak bicarakan dengan ibu kalau sudah pulang, lagian itu masih lama beberapa bulan lagi," kata bapak dengan tenang meminta persetujuan dengan istrinya nanti.


"Don, aku harus balik hari ini juga," kata Bimo yang tiba-tiba datang dari luar.


"Lho kenapa semuanya pada kumpul di sini?" Kata Bimo bingung saat melihat ada Doni, Tina, adiknya dan bapaknya.


"Kenapa kamu buru-buru kembali?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Bimo justru Doni berbalik bertanya kepada sahabatnya itu.


"Tuan muda meminta ku kembali secepatnya, ada sesuatu yang penting," jawab Bimo tak mungkin berterus terang tentang apa yang akan dia lakukan.


"Oh. Terus kamu berangkat sekarang atau besok?" Tanya Doni memastikan.


"Sekarang saja mumpung belum terlalu malam," jawab Bimo berfikir.


"Kamu bawa mobil ku saja," tawar Doni.


"Tidak, aku sudah menghubungi Reza," jelasnya.


"Hmm...."


"Aku mau mandi dulu," kata Bimo yang merasa gerah karena tadi dia belum sempat mandi.


"Dit, tunjukkin di mana tempat mandinya," kata bapak kepada putranya itu agar menunjukkan di mana letak kamar mandi di rumah ini.


"Silahkan bang ikut aku," ajak Adit agar Bimo mengikutinya.


Bimo pun mengikuti Adit, kini sampailah keduanya.


Adit meringis tak enak saat melihat reaksi Bimo yang seperti kaget.


"Hah tidak salah nih, terus kalau aku mau pup di mana?" Batin Bimo menatap binggung.


Ya kamar mandi itu berada di paling belakang rumah, ah lebih tepatnya di halaman belakang tidak di dalam rumah. Dan tampilan kamar mandi itu terlihat aneh bagi Bimo karena Bimo baru menemukan hal seperti ini. Kamar mandi itu hanya ada bak besar dan air itu sepertinya mengalir dari mata air serta tinggi bata itu hanya sebatas leher. Namun untuk tempat buang air besar tak ada sehingga Bimo meringis memikirkan dia harus pergi kemana kalau nanti perutnya sakit.


Bimo pun clingak-clinguk mencari keberadaan seseorang di sekitarnya.


Seakan tahu pemikiran Bimo. "Kak Bimo tenang saja, aman kok di sini tidak ada yang bakal ngintip," kata Adit menenangkan.


"Benar," tanya Bimo memastikan.


"Ye tadi saja kak Doni mandi di sini tidak protes sama sekali," grutu Adit masih di dengar oleh Bimo.

__ADS_1


"Ya kan beda," sahutnya cepat.


"Ya sudah Adit tungguin deh," kata Adit yang mencari tempat untuk duduk.


"Awas kalau kamu ngintip," ancam Bimo dengan garangnya.


Dengan engan akhirnya Bimo pun mandi namun tatapan matanya begitu waspada seperti sedang mengintai musuhnya.


"Begitu amat ya teman kak Doni," guman Adit di dalam hatinya.


Sedangkan di dalam, lebih tepatnya di dalam kamar Doni dan Tina.


"Oh ya aku lupa, ini buat belanja kamu selama berada di sini," kata Doni saat ini dia menyerahkan uang 2 juta kepada istrinya.


"Hah mas banyak sekali, bukankah kita di sini cuma 4 hari," kata Tina yang melihat uang di serahkan Doni dan menghitungnya.


Ini sama saja, uang pegangannya selama sebulan saat bekerja di tempat Bu Arin kemarin, setelah sebagian besar gajinya di kirimkan ke kampung. Ya setelah gajian Tina selalu mengirimkan ke pada kedua orang tuanya dan menyusahkan 2 juta saja.


"Hah... Ku kira itu tak cukup," guman Doni kaget bercampur binggung.


"Ini mah cukup mas," kata Tina.


"Memang di sini kamu mau ambil uang dimana?" Tanya Doni menarik turunkan alisnya.


"He he he he, iya ya," jawab Tina cengengesan karena dia baru sadar.


MALAM HARI....


"Hati-hati di jalan, titip tuan muda beserta keluarganya sampai aku kembali," kata Doni saat berpelukan dengan Bimo.


"Jangan lama-lama liburnya, biar kerjaan aku tidak tambah banyak," kata Bimo membuat Doni berdecak kesal.


Doni melerai pelukannya. "Ck kamu ini."


Bimo pun berpamitan dengan bapak, ibu, Adit dan Tina.


Reza yang sudah turun juga ikut menyalami kedua orang tua Tina dan menyapa Doni sebentar.


Pemandangan itu di lihat beberapa tetangga, ada yang iri, kepo dan ada juga yang cuek acuh tak acuh.


Apalagi Reza membawa mobil sang tuan muda, mobil yang jauh lebih bagus dari punya Doni. Tentunya mobil itu mencuri perhatian warga karena mereka biasanya cuma melihat di tv saja karena tak ada orang kampung yang pernah melihat mobil seperti itu lewat kampung mereka dan baru kali ini saja.

__ADS_1


"Mobilnya bagus banget sih, jadi ngiler deh," guman perempuan yang ikut melihat ke arah rumah Tina.


"Iya Bu, mana yang keluar cowok cakep," sahut perempuan di sampingnya.


"Bu itu suaminya Tina ya?" Tanya si A


"Iya mungkin, kan kemarin siang aku tanya ibunya katanya si Tina pulang sama suaminya," sahut B


"Tetapi kok aneh ya suaminya, masa dari yang saya lihat tadi siang pake masker, terus ini malam juga pakai, aneh banget ngak sih," kata si C.


Nah terjadilah aksi saling sahut menyahut memberi asumsi sendiri dan bumbu-bumbu penyedap agar semua semakin panas.


Bimo pun masuk ke dalam mobil dan duduk di depan kemudi di susul Reza yang ikut masuk.


"Bro balik dulu jangan lama-lama liburnya," sahut Reza melambaikan tangan ke arah Doni sebelum masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil yang di kendarai Bimo melaju meninggalkan kampung Tina.


Kini ke lima orang itu sudah berada di dalam ruang tamu.


"Kak Doni, majikan kak Doni itu kaya banget ya. Mobilnya bagus banget, ngelihat aja baru kali ini," kata Adit dengan antusias.


Doni tersenyum tipis sedangkan ibu dan bapak mengelengkan kepalanya saat melihat kelakuan anak laki-lakinya, keduanya pun memilih pergi masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


"Tuan muda, dia pengusaha dan perusahaannya juga bukan 1 tetapi memiliki cabang di seluruh kita dan beberapa juga ada di luar negeri," jelas Doni semakin membuat Adit tertarik.


"Oh ya kak tuan muda masih buka lowongan tidak jadi bodyguard, aku pengen kerja di sana," kata Adit malu-malu.


"Kamu tuh ada-ada saja, sekolah saja belum lulus," grutu Tina menjewer telinga sang adik.


"Ampun kak,lepasin," pinta Adit memelas. Akhirnya Doni pun memberi kode sang istrinya agar melepaskan jewera nya kepada Adit.


Dengan kesal Tina melepaskan jewera nya.


"Kamu sekolah saja yang benar, setelah itu kita akan jemput kalian sekeluarga untuk tinggal bersama kakak kamu. Kamu juga jangan pikirkan masalah pekerjaan, lebih baik fokus saja sekolah dulu. Nanti kak Doni akan buatkan usaha kecil-kecilan untuk kalian," jelas Doni panjang lebar.


Di dalam kamar, kedua orang tuanya yang mendengar itupun terharu.


"Ternyata menantu kita begitu baik," lirih sang ibu.


"Iya, ibu benar. Jadi kita harus membela menantu kita dari gosip-gosip yang membingungkan.

__ADS_1


__ADS_2