
Dengan langkah riang seorang pemuda berjalan dengan riang menuju ke rumahnya, entah perasaannya hari ini begitu bahagia.
Namun saat sudah di depan rumah, pemuda itu di buat kaget dan binggung.
"Di depan rumah kok ada mobil, mana bagus banget," kata seorang pemuda berkulit coklat itu sambil menatap mobil di depannya dengan tatapan berbinar.
"Eeemm....... Mungkin punya orang lewat? Atau jangan-jangan bapak memang undian berhadiah, ah mana mungkin kan bapak orangnya gaptek, lha punya hp di beri mbak Nana itupun hp jadul," gerutunya kepada diri sendiri.
Pemuda itu mengelengkan kepalanya sebelum masuk ke rumah namun saat di ruang tamu, pemuda itu kaget bukan main.
"Mbak Nana...." Teriak pemuda senang bercampur kaget, pemuda itu langsung berlari memeluk perempuan yang ada di depan dengan rasa bahagia, perempuan itu melihat tingkah pemuda itu pun tersenyum manis.
"Aaaa Adit kangen mbak Nana..." Teriak pemuda itu girang dalam pelukan sang kakak.
Ya pemuda itu tak lain adalah adik dari Tina, yang bernama Adit.
Sedangkan Doni menatap pemuda itu kesal. "Nih bocil siapa sih main peluk-peluk istri orang tanpa permisi," grutu Doni di dalam hati menahan kesal.
Tina merasakan aura dingin dari belakang punggungnya, ah dia baru ingat kalau suaminya ada di belakang.
"Apa dia cemburu?" Batinnya bertanya-tanya.
Glekk
"Duh kenapa aku bisa lupa sih kalau punya suami garang," grutu Tina di dalam hatinya.
Tina yang langsung mengerti pun secepatnya berusaha melepaskan pelukannya dari sang adik namun sang adik semakin mengeratkan pelukannya sepertinya engan melepaskan sang kakak yang telah lama tak dia temui itu.
"Mbak Nana kapan pulangnya, apa jangan-jangan mobil di depan punya mbak Nana ya," cerocos sang adik semakin membuat Tina salah tingkah, apalagi saat dia melirik ke arah suaminya yang berwajah datar itu.
Tina tak menggubris berusaha melepaskan pelukannya.
"Hei lepasin, mbak Nana susah nafas nih gara-gara pelukan mu terlalu kencang," pintanya dengan sedikit bumbu kebohongan agar sang adik segera melepaskan pelukannya secepatnya, apalagi wajah suaminya sudah semakin masam saja.
"He he he maaf mbak, kan Adit reflek karena saking senangnya bertemu dengan mbak Nana setelah sekian tahun tak bertemu," jawab sang adik beralasan namun semua itu memang kenyataan karena Adit sudah beberapa tahun tak bertemu dengan kakaknya. Mereka hanya bertukar kabar melalui hp jadul yang Tina dengan sengaja tinggalkan.
__ADS_1
Tina pun mundur ke arah sang suami dan mengandeng lengannya. "Oh ya dek, nih kenalkan suami mbak," kata Tina.
Adit pun mengerutkan keningnya binggung.
Melihat adiknya yang diam saja, Tina pun menarik tangan sang adik agar mendekat ke arah Doni.
"Mas Doni, ini adikku Adit," kata Tina memperkenalkan adiknya yang bandel itu kepada sang suami agar suaminya itu tak salah paham dan cemburu.
Dan benar saja, reaksi sang suami langsung berubah. Bibir Doni tersenyum ramah menjabat tangan pemuda yang dia baru ketahui adalah adik dari istrinya itu.
"Doni...." Kata Doni menjulurkan tangannya namun tak ada balasan membuat Tina merasa tak enak hati. Doni menarik tangganya kembali dengan lesu.
"Oh adik, aku kira sepupu jauh atau bahkan tetangga yang tak punya sopan santun. Hampir saja ku pukul tuh muka polosnya, nyebelin banget sih pake peluk-peluk istri orang gak mau lepas," guman Doni di dalam hati nya dengan rasa kesalnya.
"Hah....! Benar? Apa tidak salah?" Tanya sang adik di dalam hati. Meskipun awalnya kaget namun setelah itu dengan cepat Adit menormalkan kembali wajahnya agar sang kakak tak melihat reaksinya. Dia takut menyinggung perasaan kakaknya itu.
Bibir Adit berkedut, saat melihat wajah Doni. Pemuda itu masih belum percaya dengan apa yang diucapkan kakak perempuannya, dia mengira kakak perempuannya itu sedang mengerjai dirinya saat ini.
"Suami?" Tanya Adit memastikan sekali lagi takut telinganya salah mendengar atau kakaknya itu mengerjainya.
Tina justru meringis tak kunjung menjawab pertanyaan tadi, apalagi Tina saat melihat tatapan adiknya itu.
"Benar, ini suami kakak," tanya sang adik sekali lagi, namun semua rasa ragu seperti sirna saat melihat raut sang kakak seperti tak ada kebohongan sama sekali.
Doni saat ini sudah berfikir buruk, dia seakan tahu kalau adik iparnya itu kaget atau bahkan tak menerimanya.
"Ssttttt jangan banyak tanya, nanti ku jelaskan," bisik Tina di telinga sang adik karena takut sang adik berbicara keceplosan dan menyinggung perasaan pria yang resmi menjadi suaminya itu.
"Iya mbak," jawabnya dengan mengangguk. Tina pun melirik sang adik, lebih tepatnya kode agar adiknya itu menjawab salam perkenalan tadi.
"Oh iya sampai lupa, saya Adit adiknya mbak Nana," kata Adit menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh merasa tak enak mengabaikan tangan kakak iparnya tadi karena melamun tak jelas.
"Ayo masuk kamu dulu ganti baju. Eh tunggu tinggu... Emm emm tetapi di kamar kamu ada temannya mas Doni yang istirahat," kata sang kakak merasa tak enak hati.
"Ya sudah ayo semua ke meja makan," ajak Tina mengandeng keduanya.
__ADS_1
"Ayo," jawab sang adik bahagia saat melihat wajah bahagia sang kakak.
Mereka bertiga menuju meja makan, namun semua makanan sudah tak ada membuat pria itu kesal.
"Lho mana makanannya mbak?" Tanya Adit binggung.
"Ya mana ku tahu, tadi setelah selesai memasak mbak menaruhnya di sini," jelasnya dengan binggung, bagaimanapun dia tak tahu kemana raibnya semua makanan yang ada di meja makan itu.
"Mbak Nana cari dulu, kamu mandi cepat," kata Tina.
"Siap bos," jawab sang adik berlalu kamarnya.
Namu dia di buat tertegun saat melihat ke samping rumah, memang ada pintu di samping dapur yang menghubungkan dengan halaman samping.
Tina menghela nafas kasar, mau marah pun percuma saja karena semua itu ulah teman ibunya yang mengambil semua makanan di meja tanpa permisi.
"Lho nak Tina, sudah pulang?" Tanya perempuan yang sering dipanggilnya dengan sebutan mbok Nah itu.
"Iya mbok,"
"Mbok nah, em itu itu?" Tina binggung harus kan bertanya kenapa semua lauk di meja makan di bawa tetangganya itu.
"Kenapa sih nak?" Tanyanya dengan polos seperti tak bersalah.
Tina hanya mendesah tak tahu harus bagaimana. " Tidak apa-apa mbok, Tina masuk dulu," kata Tina berlaku masuk.
"Lho tuh anak kenapa?" Kata mbok nah yang tak sadar.
Tina dengan kesal langsung duduk di meja makan.
"Kenapa?" Tanya Doni saat melihat istrinya itu masuk dengan wajah cemberut.
"Tidak apa-apa," jawabnya namun mulutnya masih terlihat masam.
Bersambung...
__ADS_1