
Doni mengengam tangan istrinya dengan lembut.
"Kenapa kamu tidak melepaskan saja masker itu dari wajah mu," pinta perempuan di depannya itu dengan penuh perhatian.
Padahal mereka berdua, eh bertiga dengan supir tentunya di dalam mobil dan bisa-bisanya Doni memakai masker. Apa tidak sesak itulah yang dipikirkan Tina saat ini.
"Apa kamu tidak risih," kata Doni berterus terang takut perempuan yang sudah menjadi istrinya itu tidak nyaman saat melihat wajahnya yang jelek.
Tina pun membingkai wajah suaminya itu dengan kedua tangannya. "Aku tidak merasa risih ataupun takut," katanya dengan senyum, senyuman tulus.
Tina tak bisa membayangkan kalau laki-laki lain yang menikahinya mungkin akan memperlakukan dirinya dengan buruk. Tina bersyukur karena dari awal pria di depannya yang sering dia anggap menyeramkan itu ternyata berhati lembut dan penuh perhatian kepadanya.
Doni yang mendengar ucapan istrinya itu di buat memerah telinganya karena tersipu malu.
"Terima kasih," lirih Doni dengan cepat membawa istrinya itu kedalam pelukan.
"Ehemmm...."
"Ehemmm....."
Doni dan istrinya masih belum sadar kalau di dalam mobil bukan hanya mereka berdua saja.
Karena kesal tidak di gubris akhirnya pria yang duduk di depan kemudi itu membuka suaranya.
"Ck.... Aku bukan patung ya," grutu Bimo dengan tatapan datar andalannya karena kesal sedari tadi dia bagai patung, mendengarkan serta melihat tingkah keduanya dari kaca mobil.
Keduanya pun menoleh baru sadar kalau di dalam mobil bukan hanya ada mereka saja.
"He he he he he, sorry sorry aku lupa ada kamu," kata Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sedangkan Tina yang awalnya kaget dengan cepat menormalkan kembali wajahnya berpura-pura cuek karena dia merasa malu kepada teman suaminya itu.
Ya siapa sangka supir itu adalah Bimo teman suaminya. Tina juga tak menyangka Bimo sudah berada di dalam dan melihat keduanya tadi.
"Kita jadi berangkat atau main mau lanjutin drama cinta-cintaan ini," sinis Bimo yang jengah melihat keduanya asyik bermesraan.
"Apa mereka tak tahu kalau ada jomblo di sini," pikir Bimo kesal sendiri melihat mereka justru asyik bermesraan tadi.
"Jadi lah masa sudah rapi begini batal, nanti mertua ku nungguin aku kan kasihan," grutu Doni melirik tajam Bimo.
__ADS_1
Melihat lirikan kesal Doni, Bimo melotot ke arah Doni membuat Doni tersenyum licik.
"Kamu jangan marah, nanti jaket yang ada tanda tangan aktor kesukaan kamu ku berikan ke Gre loh," kata Doni mengancam membuat Bimo kelabakan.
"Jangan dong, iya-iya kalian bebas bermesraan jangan hiraukan aku," kata Bimo pasrah.
"He he he he he he, lucu juga ya melihat Bimo yang biasanya dingin berwajah datar itu kelabakan begini. Ternyata kalau mereka berdua bisa lucu begini berbeda kalau di mansion kemarin, mereka semua berwajah datar, kejam dan menyeramkan tak ada yang berani membantah ucapan mereka kecuali non Aurel, ah jadi kangen tuh anak bagaimana kabarnya sekarang?" Guman Tina di dalam hatinya saat ini merasa kangen dengan gadis kecil yang sering membuatnya repot dengan ulah-ulah lucu dan menggemaskan yang terkadang membuat semua penghuni mansion kelabakan.
"Mana alamatnya?" Tanya Doni kepada sang istri.
"Hah..." Tina pun tersadar dari lamunannya karena tepukan Doni dengan lembut di tangannya.
"Ini si Bimo minta alamat rumah kamu di kampung," jelas Doni membuat Tina pun paham kenapa Doni bertanya seperti itu.
Melihat istrinya yang mengobrak-abrik tas kecil yang dia bawa membuat Doni binggung namun memilih diam melihat apa yang dilakukan istrinya itu
"Ini alamat lengkapnya," kata Tina menyerahkan selembar kertas berisi alamat.
Dengan cepat Doni menyerahkan alamat itu kepada Bimo tentunya setelah membacanya. "Apa kamu tahu alamat ini?" Tanya Doni dengan raut wajah penasaran.
"Emm sepertinya sih," guman Bimo masih berfikir karena tak mungkin dia bilang kalau dia sedikit lupa.
"He he he he he, jujur aku sedikit lupa," jawab Bimo terkekeh berterus terang.
Doni mendengar itupun mendengus kesal.
"Aku bisa kasih tahu nanti harus belok ke arah mana," sahut Tina yang mendengar perdebatan Doni dan Bimo, ah lebih tepatnya mereka bertengkar dengan perdebatan kecil seperti ini.
Bimo menatap perempuan itu dengan berbinar. "Benarkah?" Tanya Bimo meyakinkan.
"Iya aku tahu jadi kalian tenang saja, ayo kita berangkat," kata Tina membuat Doni merasa lega. Jujur saja Doni pun tak tahu daerah tempat tinggal istrinya itu jadi dia mengajak Bimo yang banyak pengalamannya karena Bimo sering mendapatkan tugas keluar kota maupun luar pulau, sedangkan Doni harus mengikuti kegiatan tuan mudanya itu yang sering di habiskan di kantor ataupun pertemuan dengan para pengusaha di luar negeri.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang sesuai dengan permintaan Doni agar Bimo tak mengebut tak jelas.
"Jangan ngebut-ngebut, ingat kamu bawa manusia bukan barang," kata Doni mengingatkan.
"Ya iyalah kamu manusia sejak kapan berubah jadi barang. Huuu sabar Bim sabar, untung teman kalau tidak sudah ku tendang keluar karena bawelnya ngalahin nona kecilnya," guman Bimo di dalam hati sambil mengelus dadanya.
Namun Bimo juga di buat binggung karena biasanya Bimo sering cuek dan irit berbicara. "Apa menikah membuatnya berubah," batin Bimo melirik Doni dari depan.
__ADS_1
Tina pun beberapa kali menunjukkan arah kepada Bimo.
5 jam perjalanan namun mobil tak kunjung tiba. Sedangkan Doni yang melihat istrinya sedikit mengantuk pun menyenderkan kepala istrinya di dadanya dengan cepat.
"Aku belum ngantuk," lirih Tina menahan rasa ingin menguap.
"Stttt kamu sudah mengantuk," bujuk Doni.
"Tetapi aku takut bang Bimo tersesat," lirih Tina dengan menahan rasa kantuk.
"Aku akan membangunkan mu nanti kalau Bimo binggung ataupun tersesat," bujuk Doni.
Mau tak mau Tina pun mencari posisi nyaman untuk tidur karena matanya sudah tak sanggup diajak kompromi lagi.
Satu jam berlalu...
Mobil berguncang beberapa kali membuat tidur istrinya terganggu, Doni pun sigap memegangi istrinya itu dengan posesif agar tak terjatuh.
"Emmm....'' Perempuan cantik itu membuka matanya karena tidurnya terusik.
"Hoasmm.... Apa sudah sampai?" Tanya Tina sambil mengucek matanya.
"Belum, mungkin sebenar lagi," kata Doni.
Tina pun merapikan bajunya dan kembali duduk dengan tangan.
"Iya desaku tak jauh dari sini," kata Tina bersorak gembira.
"Syukurlah, aku sudah lelah," keluh Bimo dan mengucapkan rasa syukur karena mendengar jawaban kalau desa yang di tuju tak jauh dari sana.
"Nanti ada pertigaan belok kiri dan setelah itu lurus saja, nanti terlihat kok Desanya," jelas Tina agar Bimo tak kebablasan.
Benar saja, akhirnya mobil pun sampai di desanya.
"Lurus saja nanti ada rumah kayu dengan cat hijau itu rumah ku," jelas Tina.
Mobil pun berhenti di depan rumah bercat hijau itu.
Doni terdiam, hatinya dag dig dug ser tak karuan karena sebentar lagi bertemu dengan mertuanya.
__ADS_1
Bersambung .....