Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
57. Doni pamit pulang


__ADS_3

Malam hari.


Doni sudah siap dengan pakaian santainya yang tak lain adalah kaos hitam dan celana jeans dengan warna senada juga. Wajah Doni sudah dia cuci dengan bersih tak ada sisa maupun jejak bedak milk sang istri.


Doni memakai jam tangannya tak lupa masker untuk menutup separuh wajahnya.


"Sayang jaga diri baik-baik, ingat jangan nakal," kata Doni saat dia dan Tina masih berada di dalam kamar.


"Kenapa tidak besok saja berangkatnya?" Keluh Tina seakan tak rela Doni pergi meninggalkan dirinya, meskipun hanya sesaat karena pekerjaan. Tina merasa nyaman dengan kehadiran pria itu namun baru saja rasa itu muncul, dia harus merasa hampa untuk sesaat.


"Kamu tahu kan, pekerjaan ku di tuntut profesional jadi aku harus ada di sana di pagi buta," jelas Doni agar istrinya itu tak merengek lagi.


"Ayo kita keluar, aku harus berpamitan dengan bapak, ibu dan Adit juga," ajak Doni.


Dengan wajah sedih Tina pun mengangguk, Doni mengandeng tangan sang istri. "Setelah semuanya selesai aku pasti datang jemput kamu," bujuk Doni agar istrinya itu sedih lagi.


"Lho nak Doni, kenapa bawa tas segala?" Tanya bapak saat melihat menantunya itu keluar dengan membawa tas kecil di punggungnya.


"Mas Doni mau pamit kembali ke kota pak, ada pekerjaan," jelas Tina.


"Benar itu nak? Kenapa terburu-buru?" Tanya ibu.


"Iya Bu," jawab Doni singkat karena tak ingin mengungkapkan alasan dia harus balik secepatnya.


"Doni titip Tina ya pak, Bu," kata Doni dengan sopan mencium tangan kedua orang tua istrinya itu.


"Oh ya Adit mana?" Tanya Doni saat tak melihat batang hidung sang adik ipar yang selalu ceria itu.


"Mungkin tuh anak lagi main di rumah temannya," kata ibu.


Doni pun berjalan menuju ke arah mobil di ikuti oleh sang istri.


"Oh ya sampai lupa, ini buat Adit. Bilang yang rajin belajar," kata Doni menyerahkan sesuatu ke arah sang istri.


"Ini apa?" Tanya sang istri yang begitu penasaran.


"Sudah nanti juga tahu," kata Doni tertawa kecil.saat melihat wajah penasaran istrinya itu.


Tina menyergit heran, tak tahu apa isi di dalamnya saat ini. Itu seperti kardus besar seperti sepatu namun terasa begitu enteng. Ingin rasanya Tina merobek bungkus kado itu dan melihat isi di dalamnya namun niat itu dia urungkan saat melihat tulisan kecil di atasnya mungkin ini tulisan suaminya.


"Aku pergi ya, kalau ada apa-apa hubungi aku," kata Doni saat membuka pintu mobil.


Cup...


Doni mengecup kening sang istri.


"Jangan lupa menghubungiku setelah sampai" kata Tina setelah sang suami masuk dan menutup pintu mobil.

__ADS_1


Doni membuka sedikit pintu kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arah Tina sekeluarga sebelum mobil itu melaju meninggalkan kampung halaman sang istri.


"Tina itu suami mu kemana?" Tanya seorang wanita yang baru saja lewat dan menyaksikan semuanya.


"Mas Doni harus segera kembali ke kota karena ada pekerjaan penting," sahut Tina malas.


"Lho Tina kok tidak ikut pulang dengan suami mu, jangan bilang kamu lagi bertengkar atau dia meninggalkan mu di desa ya," tebak perempuan itu dengan antusias.


"Laras jaga mulut mu jangan berbicara macam-macam takutnya jadi fitnah," kesal Tina berlalu pergi mengabaikan perempuan yang seumuran dengannya itu.


"Halah bilang saja itu benar," kata perempuan yang bernama Laras itu dengan sinis.


"Sudah lah nak Laras, sebaiknya kamu pergi jangan suka buat gosip aneh-aneh," sahut ibu Tina juga ikut kesal.


"Iya nak jangan fitnah anak kami," sungut bapak juga ikut kesal mendengarnya.


"Sebaiknya kamu pergi," kata bapak dengan sorot mata penuh amarah dan ancaman itu.


"Siapa yang fitnah, aku kan bertanya," sungut wanita itu tak mau di salahkan dan di usir seperti ini.


"Pergi...." Murka bapak menunjuk ke arah wanita itu.


Dengan kesal, perempuan yang bernama Laras itu menghentakkan kakinya meninggalkan tempat itu tak lupa mulutnya senantiasa mengomel sepanjang jalan pulang ke rumahnya. "Ish dasar pak tua, aku kan bicara benar ngapain dia marah-marah."


Adit baru pulang dari rumah temannya itu pun masuk ke dalam rumah, namun Adit menyergit heran saat melihat suasana nampak sepi biasanya ada bapak dan ibu yang menonton tv serta mbak Nana dan kak Doni yang bersantai di teras rumah menikmati suasana malam hari. Namun saat ini semuanya sunyi sepi.


"Pak Bu ....." Teriak Adit saat sudah berada di ruang tamu.


"Ibu dan bapak di dapur Dit," teriak bapak menyahuti dari arah dapur atau lebih tepatnya bapak saat ini sedang duduk di meja makan.


Adit pun berjalan menuju ke arah di mana kedua orang tuanya berada.


"Lho bapak tumben jam segini ada di sini biasanya kan di depan lihat tv?" Tanya Adit heran.


"Terus mbak Nana sama kak Doni mana pak? Kok tidak kelihatan," tanya Adit.


"Suami mbak mu sudah balik ke kita," jelas ibu memberitahu.


"Lho kok tidak pamit ke Adit sih, mbak Nana bisa-bisanya pulang tidak bilang-bilang," grutu Adit dengan memanyunkan bibirnya.


"Mbak Nana mu masih di sini," jelas bapak.


"Lha tadi bapak bilang kak Doni pulang," kata Adit heran.


"Iya cuma nak Doni saja yang pulang, mbak Nana mu ada di kamar tuh. Nak Doni pulang terburu-buru katanya ada pekerjaan penting, mungkin dia tak sempat berpamitan dengan kamu," jelas bapak.


"Eh iya pak, tadi ibu lihat Tina di kasih nak Doni kotak seperti bungkusan kado terus ibu dengar nak Doni sebut nama Adit," kata ibu yakin baru teringat sesuatu.

__ADS_1


"Benar Bu, jangan-jangan itu buat Adit," kata Adit berbinar cerah.


Dia langsung berlari menuju kamar sang kakak.


Ibu dan bapak mengelengkan kepalanya melihat kelakuan anak laki-lakinya itu. " Tuh anak langsung kabur pak," kata ibu.


"Ibu kan tahu sifat tuh anak," kata bapak menimpali.


Tok tok tok tok tok tok


"Mbak Nana, mbak...."


Adit berteriak sambil mengetuk pintu kamar kakaknya itu.


Tina yang sedang rebahan pun langsung bergegas bangun dan menuju ke arah pintu.


"Ada apa sih Dit, gedor-gedor pintu kamar mbak seperti itu," grutu Tina saat membuka pintu kamarnya.


"He he he he he, mbak Nana mau kasih Adit sesuatu tidak?'' Tanya Adit dengan malu-malu.


"Apa?" Tina yang masih belum paham maksud sang adik.


"Ada titipan buat Adit tidak?" Ulang Adit.


Akhirnya Tina pun ingat sesuatu, dia kembali masuk ke dalam dan mengambil bungkusan kado yang di tinggalkan suaminya itu yang katanya untuk Adit.


"Nih dari mas Doni, katanya kamu harus rajin belajar," kata Tina memberikan kado itu.


"Nih apa mbak?" Tanya Adit dengan senyum mengembang.


"Mbak Nana juga tak tahu," jawab Tina yang memang benar dia tak tahu isi di dalamnya.


Adit langsung mencari tempat yang nyaman, dia langsung duduk di lantai dan membuka bungkusan kado dengan cepat, dia melotot tak percaya sedetik kemudian dia berteriak kesenangan.


"Hp baru, hore kak Doni memang terbaik," teriakan Adit membuat bapak dan ibu langsung menghampirinya.


"Ada apa sih dit teriak-teriak," tanya bapak.


"Ini pak, Adit dapat hp baru di kasih kak Doni," jawabnya dengan begitu senang.


Ketiganya mengelengkan kepalanya namun di hati bapak dan ibu ikut senang karena menantunya itu begitu baik.


"Ingat pesan mas Doni, kamu harus rajin belajar," Tina mengingatkan adiknya itu.


"Beres kak," jawab Adit dengan hormat.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2