Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
66. Mulai posesif


__ADS_3

4 bulan berlalu....


Kini perut Tina sudah tampak sedikit membuncit meskipun.


Tina berjalan dengan cepat, ternyata dia kesiangan. Tina menoleh ke arah jam dinding ternyata sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.


"Sayang hati-hati," pinta Doni dengan cemas saat melihat istrinya itu berjalan dengan cepat seperti biasanya membuat Doni dilanda khawatir. Istrinya itu berjalan seperti orang yang tak hamil, bagaimana Doni tak khawatir dibuatnya.


Tina pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar, dia menoleh mengerutkan keningnya melihat suaminya itu ternyata sudah bangun padahal Doni baru pulang sekitar jam 3 dini hari.


Sudah biasa suaminya itu pulang malam kadang jam 1 ataupun jam 2 dan keesokan harinya jam setengah 7 Doni sudah rapi.


"Ish mas Doni, jangan lebay deh. Kan biasanya aku berjalan seperti ini," protes Tina sedikit kesal, sejak dia dinyatakan hamil suaminya itu menjadi cerewet dan sering membatasinya ini itu. Bahkan Doni juga memperkejakan 2 asisten rumah tangga dan 1 satpam dan 1 tukang kebun yang akan datang tiap Minggu. Sungguh Tina hanya bisa mengelengkan kepalanya, dia tak menyangka dia sekarang bagaikan nyonya besar.


"Sudahlah sayang jangan banyak gerak, kalau kamu ingin apa-apa tinggal minta saja sama bik Jumi, ingat kamu itu sedang membawa anak kita jadi kamu jangan capek-capek kesana-kemari," kata Doni mengomel seperti ibu-ibu komplek, dari suaranya itu terdengar seperti membatasi semua keinginan istrinya itu.


Tina memutar bola matanya malas. Suaminya itu sekarang terlihat menjengkelkan dimatanya saat ini.


"Padahal aku kan cuma ingin buat nasi goreng," jelas Tina mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kamu di sini saja temani aku," kata Doni menarik tangan sang istri mendekat ke arahnya.


"Lho mas Doni tidak kerja?" Tanya Tina heran saat melihat suaminya itu justru bermalas-malasan di atas ranjang.


"Tidak," jawab Doni mengelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tina mengerutkan keningnya binggung.


"Apa kamu lupa kalau bapak dan ibu mau ke sini jadi aku sengaja mengambil libur 3 hari," jelas Doni, kini tangannya itu beralih memeluk sang istri dan mengarahkan kepalanya di perut sang istri, berkali-kali Doni mencium lembut perut istrinya itu yang sedikit membuncit.


"Oh iya, aku lupa kalau ibu mau datang," Tina menepuk keningnya pelan.


Doni mengelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu, kadang-kadang sering melupakan sesuatu.


"Mas geli, cepat mandi sana sudah jam 6 pagi masih saja bermalas-malasan," grutu Tina yang kesal karena karena tingkah suaminya itu.

__ADS_1


"Sayang bagaimana, apa ibu sama bapak sudah menghubungi mu?" Tanya Doni mengalihkan pembicaraan, kedua tangannya saat ini masih sibuk memeluk istrinya tanpa mau merespon ucapan istrinya itu.


"Belum," jawab Tina dengan cepat.


"Apa teman mas Doni belum memberi kabar mereka sudah sampai mana," tanya Tina sedikit cemas.


"Kamu tenang saja, ingat di sini," kata Doni masih setia mengusap perut istrinya itu.


"Lagian mereka juga baru sampai di sana jam 1 malam tadi, mungkin mereka memilih berangkat pagi atau siang. Kita kan tak tahu, lagian ini masih pagi aku takut mereka masih tidur," jelas Doni.


Tina pun mengangguk setuju.


"Aku belum beli kue, cemilan dan buah untuk mereka nanti,'' kata Tina dengan cemas.


"Apa persediaan di rumah sudah habis?" Tanya Doni binggung, seingatnya baru empat hari lalu dia membeli buah begitu banyak, cemilan seperti keripik dan tak lupa kue kering 2 toples.


"He he he he, buahnya tinggal jeruk saja dan kuenya tinggal 1 toples, sedangkan untuk kripik sudah habis," kata Tina cengengesan.


"Hah...." Doni mengelengkan kepalanya, bagaimana bisa semuanya itu habis dalam 4 hari, sungguh ajaib istrinya itu.


"Tetapi...."


"Kamu tenang saja, serahkan semuanya kepada ku," kata Doni.


Dengan cepat Doni menyambar ponsel miliknya yang tak jauh dari sana.


Doni sibuk mengetikkan sesuatu yang Tina pun tak tahu, setelah itu Doni menaruh ponselnya.


"Aku mau mandi dulu," kata Doni bergegas bangun.


"Oh ya minta bik Jum untuk memasak banyak," pinta Doni.


Tina pun mengangguk, dia berjalan menuju ke arah pintu.


"Tunggu...."

__ADS_1


Tina menoleh. "Apa?" Tanya Tina penasaran.


"Ingat, kamu hanya duduk manis melihat bik Jum dan Mbak Retno memasak, jangan sampai aku selesai mandi dan mencium mu dengan bau masakan," perintah Doni mutlak membuat Tina menghela nafas kesal.


"Siap paduka raja," jawab Tina memberi hormat, dia tak mau protes karena dia tak akan menang melawan suaminya yang posesif itu.


Doni terkekeh melihat tingkah laku istri nya itu, Doni pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Tina berjalan ke dapur dengan wajah kesal mengomel tak jelas.


DI DAPUR...


"Nyonya kenapa? Ada yang ingin nyonya makan biar saya buatkan," kata Mbak Retno, perempuan yang menjadi art nya berumur 40 tahunan. Sedangkan bik Jum usia sudah sekitar 50 an dan hanya bertugas memasak saja.


Doni menyarankan agar menambah satu art lagi untuk membantu membersikan rumah namun Tina menolak karena Tina tak begitu suka terlalu ramai, lagian sebentar lagi kedua orang tuanya juga akan tinggal di sini, setelah menunggu Adit lulus sekolah.


"Tidak mbak, aku cuma mau kalian berdua masak makan ini jumlahnya cukup banyak karena kedua orang tua saya akan datang," kata Tina dengan ramah, dia juga menyerahkan daftar apa saja yang akan di masak tak lupa minumannya juga.


"Kenapa Mbak Retno selalu memanggilku nyonya, jujur aku merasa tak nyaman mendengarnya," grutu Tina mengerutkan keningnya.


"Maafkan saya nyonya, ini semua permintaan tuan Doni," jejas Mbak Retno.


Karena perintah itu dari suaminya Tina hanya bisa pasrah. Bukan tanpa alasan Doni meminta mereka semuanya memanggilnya tuan dan nyonya, dia tak ingin istrinya itu tak di hormati karena dia pernah mendengar art temannya pernah menjelekkan temannya itu di belakangnya. Doni tak ingin kejadian itu terjadi di rumahnya jadi Doni sengaja melakukan semua ini demi kebaikan dia dan istrinya.


Tina pun hanya duduk manis menunggu keduanya selesai memasak, untuk mengusir kebosanan Tina pun menyalakan televisi agar dia tak bosan ataupun mengantuk.


Doni sudah selesai mandi, sekarang dia sudah berada di atas memperhatikan tingkat sang istri dari lantai atas.


Tringkkk....


Doni merogoh saku celananya, melihat siapa yang menghubungi dirinya atau lebih tepatnya adalah siapa yang menganggu kesenangannya saat ini.


Doni tersenyum saat melihat ternyata itu adalah pesan yang di kirim oleh temannya dan mengabarkan kalau Mereka semua sedang bersiap untuk berangkat. Doni pun membalas pesan itu dan meminta temannya itu untuk berhati-hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2