Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
70. Ke pesta


__ADS_3

Malam hari tepatnya pukul 20.00.


Doni mengandeng tangan sang istri menuju ke aula tempat diadakannya pesta.


"Apa kamu gugup?" Tanya Doni menatap sang istri penuh perhatian. Karena Doni merasakan tangan sang istri sedikit bergetar, dari situlah Doni tahu kalau istrinya itu sedang gugup.


"Iya," jawab Tina dengan lesu.


Doni pun memberhentikan langkah kakinya, dia berbalik menatap sang istri dengan penuh kelembutan.


"Kamu tarik nafas dan hembuskan pelan-pelan terlebih dahulu, agar rasa gugup mu hilang," kata Doni memerintahkan istrinya itu untuk mengatur nafasnya.


Tina pun mengikuti perintah sang suami. Dia menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan.


"Sudah?" Tanya Doni.


Tina hanya mengangguk sebagai jawaban. "Tenang ada aku, aku akan selalu berada di samping mu jadi kamu jangan gugup dan takut," kata Doni menenangkan.


Doni pun membawa Tina untuk berkumpul dengan teman-temannya


"Hai Don," sapa Bimo ber tos ria di susul Gre, Reza dan Mark.

__ADS_1


Mereka semua membawa pasangan kecuali Bimo.


"Bim mana pasangan mu?" Ledek Gre.


Bimo hanya tersenyum kecut mendengar ucapan dari temannya itu.


Mark dan Doni mengelengkan kepalanya melihat tingkah jahil Gre. Reza terkekeh melihat wajah Bimo yang masam.


"Nanti masih nyangkut di rumahnya," jawab Bimo dengan nada malas.


"Ha ha ha ha ha, dari tahun lalu bilangnya masih nyangkut. Kapan di bawa?" Goda Gre.


"Hei sudah-sudah, kalian jangan meledek Bimo terus," lerai Mark.


Doni hanya tersenyum tak berniat menimpali ucapan mereka menjawab atau apapun itu.


Dari kejauhan Doni melihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya seolah meminta Doni untuk mendekat ke arah orang tersebut.


"Sayang ayo kita ke sana," ajak Doni kepada istrinya. Sedangkan Tina hanya diam dan mengikuti langkah-langkah kemanapun suaminya itu pergi.


Ya sebelum itu dan tak lupa Doni berpamitan kepada teman dan sahabat yang ada di depannya saat ini.

__ADS_1


Namun saat Doni berjalan meninggalkan tempatnya tadi dan mengandeng tangan sang istri, langkah Doni yang tadinya penuh semangat menjadi pelan, Doni samar-samar mendengar seseorang seperti membicarakannya, ya Doni mendengar orang itu menyebutkan namanya dan sang istri. Tangan sang Doni terkepal erat penuh emosi yang siap menumbangkan lawannya.


Tina yang menyadari perubahan sikap Doni pun menoleh dan bertanya kepada sang suami. "Ada apa?" Tanya Tina heran kenapa suaminya itu berhenti di tengah jalan, padahal orang yang memanggilnya itu masih jauh berada di depan.


"Ah tidak," jawab Doni dengan dengan tenang Dia segera mengatur nafasnya dan wajahnya karena Doni tak ingin lepas kendali dan membuat istrinya itu takut. Doni tak ingin memperlihatkan kemarahan di depan sang istri apalagi dalam keadaan hamil.


"Ah tidak apa-apa, kupikir tadi aku kenal orang itu," jawab Doni acuh tak acuh.


Dari pembicaraan orang tadi, Doni bisa menyimpulkan bahwa mereka meledek atau mengolok-olok dirinya tak pantas bersanding dengan Tina.


"Ayo sayang, kasihan temanku sudah lama menunggu," ajak Doni menarik tangan sang istri dengan kelembutan.


Akhirnya Doni sampai di depan temannya itu.


"Hai bro apa kabar?" Tanya pria dengan penampilan seorang seorang pria angkuh di depannya itu.


"Dia istri kamu?" Tanya pria yang seumuran dengannya itu.


"Iya, kenapa?" Tanya Doni dengan malas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2