
Hari-hari berlalu begitu cepat, entah apa kabar hubungan tuan mudanya dengan perempuan itu yang pasti Doni hanya berharap agar sang tuan muda itu bahagia.
Hari ini udara begitu cerah apalagi suasana pagi ini terlihat begitu tenang, namun sesuatu tak terduga terjadi.
Setelah mendapatkan telepon dari seseorang, tubuh Doni memegang bulir-bulir keringat membasahi wajah doni. Doni terpaku, telepon yang dia pegang sampai terjatuh. Untung saja ponsel itu masih dalam kondisi baik-baik saja karena karpet tebal yang melapisi lantai.
Segera Doni memanggil Bimo, mengatakan semua ini. Reaksi Bimo sama seperti Doni tadi namun Bimo juga menangis membuat Doni menghela nafas berat. Dengan cepat Doni dan Bimo mengatur penerbangan untuk mereka kembali ke negara asal. Pesawat pribadi milik Abraham sedang dalam perbaikan berjalan setiap tahun dan belum selesai jadi Doni pun memilih menaiki pesawat komersial.
Keduanya mengatur semuanya tanpa meminta persetujuan dulu dari sang tuan muda, Doni takut sang tuan muda nanti akan terpukul dan tentunya tak akan bisa berfikir tenang jadi Doni mengatur semuanya lebih dulu agar mereka tinggal berangkat saja.
.
.
Keduanya (Doni dan Bimo ) sudah berada di depan pintu sang tuan muda.
"Kamu saja."
"Tidak.... Kamu saja."
"Kamu..."
"Kamu...."
Keduanya saling lempar perintah.
"Ck biar aku saja, kalau kita saling lempar bisa-bisa sampai besok kita tidak akan selesai berdebat," grutu Doni mendorong Bimo menyingkir dari dekat pintu.
Bimo hanya mengerucut kesal di buatnya.
Tok tok tok tok tok...
"Tuan muda...."
"Tuan muda tolong buka, ada sesuatu yang penting," pinta Doni.
Ceklek....
Pintu pun terbuka menampilkan Abraham yang baru saja berganti pakaian dengan rambut sedikit basah karena Abraham belum sempat untuk mengeringkan rambutnya.
"Ada apa?" Tanya Abraham dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
"Apa tuan muda tidak di hubungi oleh asisten tuan besar?" Tanya Doni dengan hati-hati.
"Oh ponsel ku sedang tidak aktif dan sekarang sedang ku isi daya," jelas Abraham.
"Em emmm..." Doni terlihat ragu, dia binggung harus mulai dari mana.
"Tuan muda bagaimana kalau kita duduk di sana," tunjuk Doni ke arah sofa yang tak jauh dari dari sana.
"Baiklah," jawab Abraham, dia pun berjalan menuju ke arah sofa yang di tunjukkan oleh Doni tadi.
Ketiganya pun sudah duduk di sofa, Abraham menatap Doni dengan rasa penasaran. Apa yang akan Doni bicarakan, biasanya dia akan berbicara meskipun dengan berdiri namun sekarang Doni memintanya duduk di sofa, entahlah perasaan Abraham pun menjadi tak enak.
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan" pinta Abraham dengan tatapan menyelidik.
"Maaf tuan muda mungkin yang saya sampaikan ini akan membuat tuan muda terkejut, namun saya minta tuan muda untuk tenang dan menarik nafas terlebih dahulu," pinta Doni semakin membuat hati Abraham tak karuan.
"Sebenarnya apa yang ingin Doni bicarakan?" Batin Abraham saat ini bertanya-tanya.
"Katakan jangan membuat ku binggung," pinta Abraham.
"Tuan besar dan nyonya besar....." Belum selesai Doni berbicara, Abraham sudah menyela.
"Apa yang terjadi dengan mama papa?" Tanya Abraham dengan tak sabar, raut wajahnya pun langsung berubah cemas, khawatir.
"Bagaimana bisa? Biasanya mereka menggunakan pesawat pribadi," kata Abraham tak percaya.
"Pesawat pribadi milik keluarga tuan muda ada dua dan dua-duanya di pinjam oleh rekan bisnis tuan besar," jelas Doni.
"Tidak ini tidak mungkin, pasti kamu bohong kan? Atau ini hanya mimpi," lirih Abraham menahan buliran air mata yang siap jatuh.
"Tuan muda, tolong anda harus ikhlas," pinta Bimo.
"Hiks hiks hiks hiks hiks," Abraham terisak membuat Bimo dan Doni merasa bersalah.
"Ayo kita pergi, aku ingin pulang," pinta Abraham dengan linglung.
"Tuan muda, tolong jangan begini. Saya dan Bimo sudah menyiapkan semuanya tinggal menunggu anda berkemas saja," sahut Doni.
"Benar yang di katakan oleh Doni, tuan muda harus tenang dan berfikir jernih, karena kalau anda begini bagaimana dengan kamu," kata Bimo menyadarkan Abraham.
"Baiklah, aku akan berkemas. Oh ya pesawatnya jam berapa?" Tanya Abraham berusaha tegar.
__ADS_1
"Sekitar 40 mint lagi tuan," jawab Doni.
Abraham mengangguk dan meninggalkan keduanya menuju kamar, dia mengemas barang-barang yang penting dan dia butuhkan saja, untuk baju Abraham hanya membawa baju yang melekat di tubuhnya saja.
Sedangkan Doni dan Bimo berkemas tak lupa membawa barang-barang yang penting saja.
Mereka semua sudah berada di garasi, Doni memasukkan barang milik tuan mudanya juga tas miliknya dan Bimo.
Ketiganya meninggalkan mansion itu dengan tergesa-gesa, untuk urusan lainnya Abraham meminta Doni maupun Bimo mengatur semuanya.
Dia hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong di dalam mobil, Bimo maupun Doni memilih diam karena tahu kalau hati tuan mudanya itu tak baik-baik saja.
Mobil sudah sampai di bandara, mereka langsung menuju ke dalam.
Ketiganya sudah berada di pesawat dan lagi-lagi reaksi Abraham masih sama seperti tadi.
5 jam perjalanan, akhirnya pesawat mendarat di negara asal.
Mobil yang menjemput mereka juga sudah siap. Ketiganya masuk dalam diam. Mobil melaju dengan cepat menuju mansion besar milik keluarga Abraham.
20 menit mobil sudah terparkir rapi di garasi, Abraham berlari menuju segala ruangan mencari keberadaan kedua orang tuanya.
"Paman mana papa mama?" Tanya Abraham mengoyangkan tubuh Mark yang terdiam membeku.
"Tuan muda tenangkan diri anda," pinta kepala pelayan mendekati sang tuan muda.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, dimana mereka?" Tanya Abraham lirih.
"Kita masih menunggu perkembangan, menunggu tim SAR mencari tubuh mereka," jelas nya semakin membuat Abraham sedih.
"Benar mungkin mereka masih hidup," jawab Abraham berfikir positif.
Mereka semua terdiam, tito menepuk pundak Bimo yang sedari tadi bergetar menahan kesedihannya.
"Bawalah tuan muda ke kamar, biarkan dia beristirahat," pintanya.
Doni maupun Bimo pun membawa sang tuan muda untuk beristirahat meski awalnya sang tuan muda memberontak, meminta di lepaskan karena dia ingin pergi ikut mencari keberadaan kedua orang tuanya.
Tito mengelengkan kepalanya sedih melihat tuan mudanya yang rapuh itu. Dia hanya meminta sang tuan muda untuk istirahat agar pikirannya lebih jernih. Untuk masalah pencarian, Mark dan dia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk membantu mencari namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda mereka mengubungi dan mengatakan apapun.
Abraham hanya pasrah saat Doni dan Bimo menariknya menuju kamar. Dia hanya bisa menangis dan memutar semua memori tentang kedua orang tuanya itu dengan harapan keduanya selamat.
__ADS_1
Bersambung....