Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
23. Lihatlah aku


__ADS_3

Keesokan harinya....


Abraham sedang bersiap untuk mencari informasi bagaimana perkembangan pencarian tersebut, tanpa di duga di sana Abraham bertemu dengan pria yang bernama Rendi. Pria itu juga mengaku kalau kedua orang tuanya juga menjadi korban kecelakaan pesawat itu.


Karena merasa memiliki nasib yang sama, mereka pun cepat akrab.


3 MINGGU BERLALU....


Karena dari hasil pencarian tak membuahkan hasil, pihak maskapai pun menghentikan pencarian, Abraham dan para keluarga korban hanya bisa pasrah mengingat 3 minggu lamanya para korban tak di temukan, pasti mereka semua sudah tiada mengingat jatuhnya pesawat itu berada di tengah-tengah lautan dalam. Para anak buah Abraham juga sudah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari namun semua sama saja nihil, Abraham sudah pasrah dan hanya bisa berdoa semoga keduanya tenang di sana. 3 Minggu sudah Abraham cuti kuliah.


Pagi ini di mansion Abraham mengadakan acara pengajian mendoakan kedua orang tua Abraham. Beberapa teman bisnis sang papa dan teman-teman sosialita orang tuanya pun banyak yang hadir mengucapkan bela sungkawa.


Abraham hanya mengangguk sambil menyalami semuanya, matanya sembab menahan air mata agar tidak menetes.


"Abraham maaf aku baru bisa datang, kamu yang sabar dan ikhlas ya," kata wanita cantik yang baru saja datang dan tiba-tiba memeluk Abraham. Abraham terdiam membeku, mendengar suara itu sepertinya tak asing membuat Abraham mendongak menatap ke arahnya.


"Aruna, kenapa kamu bisa di sini?" Tanya Abraham yang masih kaget.


Sedangkan Doni dan Bimo saling mengangguk.


"Semoga nona Aruna mampu menghapus kesedihan tuan muda," lirih Bimo menatap sendu ke arah tuan mudanya.


"Ya semoga saja," jawab Doni singkat, entah mengapa Doni mempunyai firasat kalau perempuan itu nanti akan membawa luka di hati tuan mudanya, namun sampai saat ini Doni hanya melihat kalau perempuan itu tak pernah menunjukkan hal buruk.


"Ya semoga pikiran buruk ku itu tidak terjadi," batin Doni mengharapkan sesuatu yang baik untuk tuan mudanya yang baik itu.


Kembali ke Aruna dan Abraham saat ini.


"Maaf aku baru datang. Aku baru dengar dari beberapa dosen yang bilang kalau kamu cuti 2 bulan karena kedua orang tua mu sedang kecelakaan," jelas Aruna mengengam tangan Abraham seolah memberikan semangat.

__ADS_1


"Terima kasih, kamu sudah menyempatkan diri untuk datang ke sini," kata Abraham mencoba tersenyum menghargai niat baik perempuan di depan itu yang berstatus masih sahabat dekat.


"Iya sama-sama, kamu tidak perlu sungkan begitu," kata Aruna.


"Oh ya kamu ke sini dengan siapa?" Tanya Abraham clingak-clinguk mencari teman-temannya yang lain di belakang Aruna namun Abraham tak menemukan keberadaan satu orang pun.


"Apa kehadiran ku masih kurang untuk mu," batin Aruna mencoba tersenyum getir. Padahal sudah ada dirinya namun Abraham masih mencari keberadaan yang lainnya.


"Maaf mengecewakan mu, aku sengaja datang ke sini sendiri diantar oleh kakak ku," lirih Aruna.


"Ah iya tidak apa-apa, kamu duduk di sana saja. Buatlah dirimu nyaman! Aku pamit sebentar ingin menyapa yang lain," jelas Abraham sebelum pamit kepada Aruna.


"Apa di hatimu ada cinta untukku, mengapa aku begitu sulit mendekatimu sekedar untuk berduaan saja," lirih Aruna di dalam hati nya dengan sedih.


"Lihatlah aku yang selalu ada untuk mu Abraham," lirih Aruna sendu menatap punggung kekar itu semakin jauh melangkah meninggalkan dirinya.


Sedangkan kakak Aruna hanya menatap Aruna sambil duduk membaur dengan beberapa laki-laki yang khusyuk berdoa dan membaca surat Yasin.


"Ehemm...." Seseorang menghampiri perempuan cantik yang sedang murung itu.


"Nona yang sabar, tuan muda bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan kata-kata namun dia juga bukan orang yang peka dengan perasaan ataupun tentang cinta. Bersabarlah untuk mendekati tuan muda. Suatu saat nanti mungkin tuan muda akan luluh dengan perasaan Nina," kata Bimo menghampiri Aruna.


"Ah anda yang selalu mengawal Abraham kan?" Tanya Aruna.


Doni tersenyum lalu mengangguk.


"Saya permisi dulu Nona," pamit Bimo undur diri.


"Ah iya. Terima kasih atas sarannya," jawab Aruna dengan tersenyum tulus.

__ADS_1


Bimo pun pergi mengecek semuanya, takut ada orang yang berniat jahat dengan menyusup ke sini mengingat keluarga ini baru saja kehilangan pimpinannya. Sedangkan Doni berkeliling mengikuti sang tuan muda dari jarak aman, mengingat di dalam dunia bisnis banyak musuh terselubung yang siap menumbangkan lawan yang dianggap pesaing kuatnya. Apalagi dalam keadaan seperti ini.


"Tuan muda, semua bingkisan sudah di persiapkan," kata Doni.


"Oh ya terima kasih Don," lirih Abraham.


Abraham meminta souvernir dan nasi boks untuk mereka sebagai ucapan rasa terima kasih karena mereka semua sudah ikhlas meluangkan waktu ikut mendoakan kedua orang tuanya.


Setelah acara pengajian dan dpa itu selesai, mereka semua berpamitan kepada Abraham. Banyak yang kasihan karena di usia muda Abraham harus hidup sebatang kara karena harus kehilangan kedua orang tuanya.


Saat ini Aruna masih setia duduk menunggu Abraham sedangkan sang kakek sudah pergi karena ada urusan mendadak. Meskipun awalnya Aruna tak ingin sendirian di sini karena sang kakak pergi, Aruna masih tertunduk diam mengingat masa lalu yang terlihat begitu indah meskipun jarang melihat mereka berada di rumah waktu itu dan sibuk berpergian.


"Tuan muda stop," Doni menepis minuman yang handal Abraham minum.


"Doni apa-apaan ini?" Tanya Abraham dengan raut wajah binggung karena dengan gerakan cepat Doni menepis minuman tadi.


Pyar....


Gelas itu terjatuh beserta dengan minuman di dalamnya saat ini, beberapa orang yang belum pergi sempat menyergit heran kelakuan Doni namun mereka merasa lega saat dengan lantang doni menjelaskan semuanya.


"Maaf tuan, sepertinya ada penyusup karena saya tadi melihat gerak-gerik pria itu mencurigakan dan menuang sesuatu di minuman yang hendak anda ambil, Apa ini musuh masih yang sama," jelas Doni dengan suara pelan seperti berbisik.


"Kamu cepat selesaikan semuanya," pinta Abraham.


Sedangkan Doni harus sibuk mencari pria yang seperti menghilang dengan cepat.


Doni pun memasang earpiece miliknya agar tersambung dengan yang lainnya, dia tak ingin orang tadi lolos dengan mudah.


"Tetapi bagaimana bisa dia masuk dengan penjagaan yang begitu ketat? Apa dia adalah teman bisnis tuan besar dulu," guman Doni di dalam hatinya sambil menyisir tiap sudut ruangan.

__ADS_1


Senyum Doni mengembang saat melihat sosok itu sepertinya berniat kabur terlihat dari gerak-geriknya yang mencurigakan dan sering menoleh ke depan belakang, kanan dan kiri seperti pencuri takut ketahuan.


Bersambung...


__ADS_2