Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
38. Pergi berdua


__ADS_3

Doni terdiam memilih sibuk merapikan lemari pakaian miliknya seolah tak terganggu dengan sura langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya saat ini. Doni bisa menebak siapa itu namun Doni memilih diam, Doni merasa penasaran ingin tahu apa yang akan perempuan itu katakan nantinya.


Mbak tina melangkah pelan menuju kamar yang terlihat mewah, bahkan bermimpi pun mbak Tina tak pernah bayangkan. Jujur dari saat melihat tampilan rumah Doni, Mbak Tina bertanya-tanya dalam hatinya bagaimana bisa seorang bodyguard bisa memiliki rumah yang mewah menurut mbak Tina meskipun tak semegah rumah milik sang tuan muda Abraham dan nyonya Arin. Namun niat itu dengan cepat mbak Tina urungkan karena takut menyinggung perasaan Doni nantinya.


"Emmm terus aku tidur di mana?" Tanya mbak Tina dengan sedikit ragu apalagi tas yang ada di dalam sana seperti tas miliknya.


''Kamu ingin tidur di mana?'' Tanya doni memancing di pikiran mbak Tina.


Awalnya mbak Tina sedikit kecewa di dalam hatinya saat Doni berbicara seperti itu, apa yang di katakan tadi di ruang tamu itu cuma basa-basi saya pikir mbak Tina.


''Mungkin dia minder dengan wajahnya atau dia berfikir kalau aku tak pantas untuknya,'' batin mbak Tina menatap Doni dengan sendu karena dia tahu kejadian yang membuat wajah Doni bisa seperti itu dari orang-orang yang bekerja di di mansion.


''Eeeemmmm terserah kamu karena ini rumah mu,'' cicit mbak Tina dengan suara seraknya.


''Kamu saat ini sudah resmi menjadi istri ku meskipun kita menikah dengan paksaan tetapi aku sudah memantapkan diriku saat pak penghulu mulai menjabat tangan ku, kalau aku akan berusaha mencintaimu dan membahagiakan mu jadi kita tak perlu untuk pisah ranjang. Tetapi itu semua tergantung dirimu juga karena aku tak bisa memaksakan perasaan mu, kalau kamu ingin tidur di sini dengan ku... Aku akan dengan senang hati menyambutnya dan kalau kamu ingin tidur di kamar sebelah silahkan itu artinya kamu memilih untuk menjaga jarak dengan ku, lagian aku juga sadar dengan kondisi ku yang seperti monster ini,'' jelas Doni panjang lebar terus melanjutkan menyusun pakaian dengan rapi tak lupa jam tangan, sepatu, kaca mata dan sepatu.


Lemari itu khusus untuknya saja dan masih ada satu lemari lagi di sisi kanan untuk mbak tina.


Mbak Tina pun masuk kedalam kamar, dia sudah bertekad akan menerima pria di hadapannya itu dengan ikhlas, mungkin ini sudah jodoh yang di pilihkan untuknya itulah yang di pikirkan oleh Mbak Tina.


Doni tersenyum tipis saat tahu kalau perempuan itu masuk ke dalam kamar, itu tandanya kalau mereka suami istri sesungguhnya.


''Kamu bisa taruh semua baju mu di lemari yang ada di sana,'' kata Doni.


Mbak Tina melihat lemari itu lebih dari cukup bahkan bisa memuat baju seisi toko pikir mbak Tina.


"Terus sisanya untuk menyimpan apa?'' Tanya mbak Tina dengan polosnya.


''Kamu bisa mengisinya dengan tas, sepatu atau apapun itu terserah kamu. Oh ya aku sudah memesan baju untuk mu mungkin sebentar lagi akan datang,'' jelas Doni saat melihat baju milik mbak Tina cuma sedikit.


''Ha....'' mbak Tina melongo kaget.


krukkkkk.... Terdengar suara dari perut Doni membuat mbak Tina yang mendengarnya pun tersenyum namun dengan cepat memalingkan wajahnya agar pria itu tak mengetahuinya.

__ADS_1


''Ccck memalukan saja ni perut,'' grutu Doni di dalam hatinya.


"Kamu lapar?'' Tanya mbak Tina pelan.


''Hmmmm...."


"Bagaimana kalau aku masakan kamu sesuatu?'' Tawar Mbak Tina.


"Tetapi aku belum mengisi bahan-bahan di kulkas, bagaimana kalau kita belanja dulu sambil jalan-jalan dan beli makanan," tawar Doni.


"Boleh,'' mbak Tina pun setuju.


"Terus kalau orang yang mengantarkan baju nanti bagaimana?" Tanya mbak Tina yang teringat ucapan Doni tadi.


"Kamu tidak perlu khatir biar aku yang urus, ayo bersiap katanya kamu ingin beli bahan makanan,'' kata Doni.


Garasi mobil...


"Kamu kira aku supir, ayo turun dan duduk di depan temani aku,'' perintah Doni kepada perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Mbak Tina merasa canggung, diapun turun dan membuka pintu depannya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Akhirnya mobil pun sampai setelah Doni memarkirkan mobilnya dia pun mengandeng tangan mbak Tina tak lupa masker dan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya.


Mbak Tina yang melihat tampilan Doni di buat tercengang bagaimana tidak, Doni terlihat keren dengan kaca mata hitam, celana jeans sobek dan kaos putih pres body yang begitu memikat. Ah rasanya dia seperti upik abu.


"Kenapa kamu menunduk begitu ? "Tanya Doni saat melihat gelagat aneh perempuan di sampingnya itu.


"Aku malu..." Cicit mbak Tina dengan pelan sesekali menunduk melihat tampilannya saat ini.


"Mungkin kalau wajahnya tidak terluka pasti Doni begitu tampan," pikir mbak Tina di dalam hati.


"Kenapa?'' Tanya Doni menyergit heran.


Mbak Tina diam memilih tak menjawab pertanyaan doni namun Doni akhirnya paham saat melihat perempuan itu menunduk menatap ke arah baju yang dia kenakan.

__ADS_1


"Ayo...'' Doni menarik tangan mbak Tina berbalik menuju toko baju yang terdekat.


"Kenapa kita ke sini?" Tanya mbak Tina pelan sesekali menarik tangan Doni karena tak percaya diri masuk ke dalam toko yang tampilan luarnya dapat di pastikan toko itu menjual barang-barang mewah.


"Tentu saja beli baju,'' jawab Doni dengan santai.


"Tetapi.... Di sini bajunya mahal-mahal ,'' tolak mbak Tina dengan cepat.


''Sttttt ayo masuk , kamu gak malu di lihatin pegawai toko,'' kata Doni melirik para pegawai toko yang memperhatikan mereka.


Saat keduanya masuk, seorang perempuan cantik menghampiri mereka berdua.


"Bisa di bantu?" Tanya perempuan cantik tadi.


"Tolong carikan baju mode terbaru untuk istri ku,'' jelas Doni membuat pegawai itu paham.


Mata Mbak Tina tertuju ke baju yang tergantung rapi tak jauh darinya, saat pertama melihatnya, dia langsung tertarik dengan baju berwarna peach itu setelah baju di bayar, Doni meminta mbak Tina untuk memakainya setelah itu keduanya keluar dari toko menuju restoran karena perut Doni sudah keroncongan, Doni langsung menarik perempuan itu masuk sebelum mbak Tina sempat mengeluarkan pendapat.


Setelah makan, barulah mereka menuju lantai dasar untuk membeli sayur dan beberapa perlengkapan untuk rumah baru mereka.


"Eh kita kemana lagi?" Tanya mbak Tina saat dia di tarik lagi entah menuju kemana.


"Diam dan ikut saja jangan banyak bertanya," pinta Doni agar perempuan itu tidak bawel dan bertanya terus tanpa henti bisa-bisa Doni pusing di buatnya.


"Eh...." Mbak Tina kaget saat keduanya berhenti di depan salon.


"Kita ke sini ngapain?" Bisik mbak Tina melirik ke arah salon.


"Ayo masuk saja," ajak Doni.


"Silahkan tuan, nyonya. Anda ingin melakukan perawatan apa?" Tanya pegawai dengan sopan.


Doni meminta segala perawatan wajah, potong rambut dan meni pedi bukan untuk dirinya tetapi untuk mbak Tina, mendengar nya membuat mbak Tina merasa terharu, pria di depannya itu begitu baik.

__ADS_1


Setelah dua jam lamanya, akhirnya mbak Tina selesai. Doni begitu puas dengan hasilnya.


Bersambung....


__ADS_2