
Doni sudah selesai berolahraga, dia pun berjalan pulang karena takut perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya menunggu dia apalagi hari semakin siang.
Akhirnya sampailah Doni di depan gerbang rumah miliknya, dia membuka gerbang depan rumahnya dengan pelan. Namun Doni kaget saat melihat mbak Tina sudah berdiri di depannya dengan membawa minuman dingin.
"Ini...." mbak Tina langsung menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Doni.
Mbak Tina tersenyum manis membuat Doni menyergit heran melihatnya. "Ada apa dengan perempuan ini," batin Doni bertanya-tanya di dalam hatinya saat ini.
"Kamu sudah pulang," tanya mbak Tina semakin membuat Doni heran di buatnya.
"Terima kasih," jawabnya.
"Apa kamu mau langsung sarapan?" Tanya mbak Tina dengan antusias membuat Doni semakin curiga.
Doni menatap mbak Tina dengan sorot mata tajam penuh curiga, dia mendekatkan kepalanya menatap mata mbak Tina penuh selidik.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" Tanya Doni penuh curiga karena sikap mbak Tina yang menurutnya aneh, tak biasanya perempuan itu bersikap manis seperti ini.
"Tidak ada," jawab mbak Tina sedikit gugup kata tanpa sengaja mata mereka berdua saling bertatap.
"Ya sudah aku mau mandi dulu," kata Doni berlalu pergi meninggalkan mbak Tina yang gugup menahan nafas karena kedekatan mereka tadi.
"Hufffftttt kenapa jantungku berdetak cepat begini ya," guman mbak Tina, sekelebat bayangan tadi malam bermunculan di benaknya membuat wajahnya merah.
Ya tadi malam mbak Tina sempat melihat Doni yang tak memakai baju sedang mengobrak-abrik lemari mencari kaos.
Mbak Tina memegang pipinya. "Ah sadar Tina sadar...." Guman mbak Tina cepat.
Mbak Tina pun masuk bukan mengekor Doni ke kamar melainkan menunggu Doni di meja makan sambil menopang dagunya.
10 menit Doni pun turun dengan kaos ketat dan celana pendek selutut, rambut basah acak-acakan menambah kesan cool.
Mbak Tina tanpa berkedip menatap Doni, memperhatikan wajah Doni. Mbak Tina baru sadar kalau Doni mempunyai wajah tampan karena mbak Tina bisa lihat dari separuh wajahnya yang tidak terkena luka bakar itu.
"Mungkin kalau tidak ada luka itu, Doni akan terlihat tampan bahkan bisa seperti artis-artis yang ada drama yang sering ku tonton," guman mbak Tina di dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Doni saat melihat istrinya itu menatapnya dengan begitu intens.
"Tidak kok," elak mbak Tina saat kepergok.
"Apa kamu risih atau takut dengan wajah ku. Kalau begitu aku makan nanti saja," kata Doni membuat mbak Tina kelabakan merasa tak enak.
"Bukan.... " Teriak mbak Tina secara refleks.
Doni berhenti dan menoleh ke arah mbak Tina dengan penasaran.
"Tunggu dulu, aku cuma baru sadar kalau kamu begitu tampan," kata mbak Tina keceplosan dan langsung menutup mulutnya karena malu.
Alis Doni mengkerut mendengar ucapan perempuan di depannya. "Apa aku salah dengar," guman Doni pelan.
"Ha ha ha ha ha ha ha, apa kamu masih mengantuk sehingga bisa bicara begitu," Doni menertawakan ucapan mbak Tina saat ini, bagaimana bisa perempuan di depannya itu bilang kalau dia tampan dengan wajah seperti ini.
"Iya benar aku tidak bohong kamu benar-benar tampan," grutu mbak Tina tak ingin dianggap berbohong karena yang dia ucapkan itu benar murni dari hatinya.
Krukkkkk... Perut Doni berbunyi cukup nyaring membuat dia mendengus kesal, perutnya akhir-akhir selalu membuatnya malu.
Mbak Tina cepat tanggap, dia langsung mengisi piring Doni dengan nasi saat Doni membalik piringnya itu. Tak lupa ayam dan berbagai lauk di piring Doni dengan senyum mengembang membuat Doni curiga, namun dengan cepat Doni menepis pikiran itu dan melanjutkan makannya.
Doni menyuapkan makanan ke mulutnya, Doni mengangguk. "Ah ternyata masakan perempuan ini lumayan enak juga," gumannya di dalam hati.
"Kapan kita pergi menemui kedua orang tua ku?" Tanya mbak Tina dengan tak sabar.
Doni berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan mendongak menatap wajah Mbak Tina membuat mbak Tina gugup ketakutan. "Apa aku salah bicara?" Batin mbak Tina binggung saat melihat reaksi Doni saat ini.
Ternyata Doni tahu kenapa perempuan ini berlaku begitu manis kepadanya. "Apa dia tak sabar ingin pulang? Karena kangen dengan kedua orang tuanya atau dia ingin mengadu kepada kedua orangtuanya dan membatalkan pernikahan ini," batin doni bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Terserah kamu saja, ingin menemui mereka kapan saja tetapi lebih baik dalam waktu dekat ini," jawab Doni cepat kembali tenang dan melanjutkan makannya tadi.
"Bagaimana kalau 2 hari lagi, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibu dan bapak," kata mbak Tina dengan antusias.
"Hmmm....."
__ADS_1
"Benar kamu mau?" Tanya mbak Tina memastikan.
"Iya sekarang kamu makan jangan berisik seperti burung beo," grutu Doni melanjutkan makannya yang tertunda.
"He he he he he, maaf," jawab mbak Tina cengengesan.
Mbak Tina pun mulai makan dengan lahap mengingat pria yang telah resmi menjadi suaminya itu mau mengabulkan keinginannya bertemu dengan kedua orang tuannya yang berada di kampung.
Selesai makan Doni menegak minuman di gelas itu hingga tandas tak tersisa, Doni menyeka mulutnya dengan tisu setelah itu di mengeluarkan amplop coklat dan menaruhnya diatas meja.
"Ini sisa gaji mu selama mengurus si kembar," kata Doni.
Mbak Tina terharu, dia tak menyangka akan menerima sisa gajinya mengingat kejadian yang memalukan yang dia lakukan, mbak Tina tak pernah berharap gaji itu.
"Terima kasih," jawab mbak Tina, dia segera meraih amplop itu dan menghitungnya.
Mbak Tina semakin sedih saat melihat jumlah uang di sana jumlahnya lebih dari gajinya.
"Kenapa?" Tanya Doni saat melihat ekspresi wajah mbak Tina yang justru menangis.
"Hiks hiks hiks hiks hiks," bukannya menjawab mbak Tina justru menangis sesenggukan.
Doni mendekati mbak Tina secara refleks dia merangkul mbak Tina. "Stttt jangan menangis," kata Doni menghiburnya. Pelukan itu membuat mbak Tina merasa nyaman dan mampu mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Hiks hiks hiks hiks, aku... Aku sudah begitu jahat tetapi kenapa mereka masih baik kepada ku. Hiks hiks hiks hiks.... Aku merasa malu," jelas mbak Tina sesenggukan.
"Sudahlah jangan bersedih, Tuan muda sudah memaafkan semuanya karena ketulusan mu mengasuh si kembar selama ini.
Tunjukkan kepada tuan muda dan nyonya Arin kalau kamu sudah berubah," kata Doni membuat mbak Tina mendongak menatapnya dengan sendu.
"Iya aku harus berterima kasih kepada nyonya Arin, mungkin tuan muda memaafkan kesalahan ku karena nyonya juga. Kapan-kapan ajak aku ke sana untuk meminta maaf dan berterima kasih," lirih mbak Tina.
Doni hanya mengangguk.
Bersambung....
__ADS_1