
Sejak kejadian malam itu, sudah 4 tahun berlalu meskipun begitu sang tuan muda tidak pernah putus asa untuk mencari wanita yang telah memporak-porandakan hidupnya, wanita yang sudah kabur dan membawa benihnya itu.
Sungguh Doni mengacungi kegigihan sang tuan mudanya namun jauh di lubuk hati Doni terbesit rasa ragu. Apakah perempuan itu masih sendiri atau sudah menikah mengingat waktu telah berlalu begitu lama, 4 tahun waktu yang cukup untuk menemukan sandaran hatinya.
"Semoga tuan muda masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan wanita itu dan anaknya. Ah mungkin anak itu sudah besar sekarang," guman Doni dalam hatinya saat ini.
Brugggghhh....
"Aduhhhh....." Seseorang memekik kesakitan.
"Aku nabrak apa sih keras banget, sampai aku mental begini," guman perempuan itu dalam hatinya saat ini.
Ya tanpa sengaja Doni menabrak seseorang sampai terjatuh.
"Hei punya mata tidak sih, sudah tahu kalau jalan ini rame masih saja melamun," grutu perempuan cantik yang memakai seragam pengasuh itu.
Buru-buru Doni meminta maaf karena semua ini murni kelalaiannya. Ya Doni sedari tadi melamun memikirkan nasib tuan mudanya.
"Maaf tadi saya tidak sengaja," kata Doni dengan cepat dia mengulurkan tangannya namun buru-buru di tepis oleh perempuan cantik itu.
"Tidak perlu, saya masih bisa berdiri sendiri," kata perempuan itu menepis tangan Doni yang menjulur padanya dengan wajah ketusnya.
Sambil menepuk bajunya yang sedikit kotor akibat jatuh tadi perempuan tadi pun mengomel tak jelas. "Dasar sok keren, masih pagi sudah pake kaca mata hitam dan masker padahal matahari belum menyengat, dasar sok cool."
Doni mendengus kesal, perempuan itu begitu pedas mulutnya. Andai dia tahu wajah di balik masker dan kaca mata ini mungkin dia akan kabur secepat mungkin dari hadapannya.
"Mbak Tina ayo cepat," teriak perempuan kecil memakai seragam yang terlihat imut membuat perempuan itu dengan cepat menoleh, mendapati gadis kecil yang dia asuh memanggilnya dengan melambaikan tangan.
Doni menoleh ke arah suara yang terdengar begitu mengemaskan itu.
Perempuan tadi buru-buru berdiri berjalan ke arah gadis kecil itu, perempuan yang di panggil Tina itu sempat menoleh ke arah Doni dan melotot ke arahnya sebelum pergi mengandeng tangan gadis kecil itu pergi.
"Awas kamu kalau ketemu ku beri pelajaran, dasar pria sok keren mana badannya keras lagi seperti batu," batin perempuan tadi. Perempuan yang di panggil Tina itu memberi ancaman lewat matanya yang melotot, bukannya takut justru terlihat lucu di mata Doni membuat Doni terkekeh.
"Hei kenapa kamu, ngelihat apa sih?" Tanya Bimo menepuk pundak Doni dari belakang.
"Tidak apa-apa," jawab Doni langsung menormalkan kembali wajahnya, Doni pun berlalu pergi namun Bimo menangkap sesuatu yang aneh pada temannya itu, ya tak biasanya dia tersenyum seperti tadi, Bimo pun menyunggingkan senyum jahilnya.
__ADS_1
Bimo tadi sempat mengikuti arah pandang mata Doni, Bimo melihat punggung seseorang perempuan yang mengandeng tidak gadis kecil berlaku menjauh.
"Hei Don tunggu aku," kata Bimo sedikit berteriak sambil mengejar Doni yang berlalu pergi meninggalkan dirinya saat ini.
"Kamu dari tadi ngilang terus," grutu Bimo saat langkahnya sejajar dengan Doni.
Keduanya saat ini sedang berjalan-jalan di wahana hiburan, untuk meninjau tempat itu sesuai perintah dari Tuan Muda Abraham.
"Ya kan aku berkeliling memastikan semuanya agar nanti aku bisa melaporkan tiap detail kepada tuan muda," jawab Doni membuat Bimo mengangguk setuju.
"Oh ya siapa wanita itu, di lihat dari belakang sepertinya perempuan tadi cantik," goda Bimo tersenyum lebar ke arah Doni.
"Cantik dari mana, galak iya," sahut Doni.
"Oh galak ya," goda Bimo.
"Ck diam tuh mulut, apa mau mulutmu itu ku sumpal pakai kaos kaki ku," ancam Doni membuat Bimo melotot dan reflek menutup mulutnya.
"He he he he he, jangan dong aku kan bercanda," jawab Bimo dengan cepat.
"Tetapi jujur, perempuan tadi sepertinya cantik. Apa kamu tidak tertarik?" Tanya Bimo.
"Awas loh nanti suka," goda Bimo.
"Ck ku jamin tidak," jawab Doni mantap lagian tidak mungkin ada
"Ya sudah ayo kita segera selesaikan semua ini agar bisa tidur, aku ngantuk karena tadi malam lembur membantu tuan muda," kata Doni sesekali dia menguap akibat rasa kantuk yang mendera.
"Kamu tunggu saja di mobil, biar aku selesaikan semuanya," kata Bimo yang tak tega melihat Doni.
"Memang kamu bisa?" Tanya Doni sedikit ragu.
"Kamu meragukan kemampuan ku," kata Bimo melotot.
"Ya kan aku bertanya, apa salahnya?" Jawab Doni enteng.
"Gini-gini aku juga bisa, kamu balik saja ke mobil ku pastikan semua beres," kata Bimo.
__ADS_1
.
.
.
Doni pun berjalan menuju ke arah parkiran, untuk mengistirahatkan tubuhnya di dalam mobil namun tanpa sengaja Doni melihat perempuan tadi mengandeng tangan 2 bocah kecil yang lucu.
"Ck perempuan galak itu lagi," guman Doni.
Perempuan itu mengandeng tangan gadis kecil dan bocah laki-laki, namun Doni sempat menatap anak laki-laki itu dan entah kenapa dia merasa familiar dengan sorot mata bocah itu.
"Kenapa mata itu sepertinya tak asing," guman Doni mengingat tatapan bocah laki-laki itu seperti siapa namun Doni lupa.
Saat Doni ingin berjalan mendekat ke arah mereka memastikan ingatannya, namun mereka sudah masuk ke dalam mobil membuat Doni sedikit kecewa karena tak bisa melihat wajah 2 bocah itu dari jarak dekat.
Sedangkan di dalam mobil berbeda tepatnya mobil yang tadi di masuki oleh perempuan tadi.
Seorang perempuan menatap ke arah jendela mobil.
"Mbak Tina lihat siapa sih?" Tanya gadis kecil dengan nada mengemaskan.
"Tidak kok non Aurel, mbak Tina cuma... Cuma cari pedangan asongan, ya cari pedangan asongan buat beli minum, mbak haus," jawab sang pengasuh karena tak mungkin jujur untuk bilang kalau dia melihat pria yang menabraknya tadi menatapnya dengan aneh.
"Lha ini kan ada minum," kata gadis kecil itu menunjukkan botol besar air mineral yang tersimpan di dalam mobil.
"Eh, mbak ingin minum yang manis-manis," elaknya dengan cepat.
"Oh...." Gandis kecil itu hanya mengangguk setuju.
"Kalian sudah ngobrolnya, ayo kita pergi," ajak perempuan cantik yang duduk di depan kemudi.
"Ayo...." Seru kedua bocah itu dengan senang.
Mobil pun melaju meninggalkan tempat hiburan yang ramai itu menuju kembali ke rumah.
Doni menatap kepergian mobil itu dengan menghela nafas panjang, setelah itu Doni memutuskan kembali ke mobilnya dan membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang sambil memejamkan matanya tak lupa dia membuka sedikit kaca mobilnya.
__ADS_1
Bersambung....