
Doni berlari terus menyusuri jalan melewati rumah-rumah warga sekitar, Doni tersenyum kala merasakan udara pagi ini begitu segar.
"Sudah lama aku tak merasakan udara segar seperti ini," kata Doni berhenti sejenak menghirup udara yang terasa segar.
Beberapa orang yang Doni lewati melirik Doni dengan rasa penasaran, karena mereka baru melihat Doni. Namun mereka tak berani bertanya karena melihat berapa gagah dan berototnya Doni membuat nyali mereka menciut. Tampilan Doni begitu misterius.
"Kak Doni ngapain sih berhenti?" Grutu Adit saat melihat kakak iparnya itu berhenti mendadak.
"Apa aku samperin aja kali," gumannya sedang berfikir.
Doni pun melanjutkan lari paginya membuat Adit urung menghampiri sang kakak ipar.
Doni binggung saat dia berada di pertigaan, dia pun memilih berlari menuju ke kiri.
"Duh kenapa malah ke sana sih, itu kan tempat tinggalnya Bu Etty yang genit itu dan tukang julid itu," guman Adit berlari cepat menyusul sang kakak ipar takutnya nanti kakak iparnya itu terkena masalah.
"Kak Doni...."
''Kak Doni...."
Teriak Adit dengan nyaring memanggil kakak iparnya itu.
Doni yang mendengar seseorang memanggil dirinya pun berhenti, Doni clingak-clinguk mencari sumber suara tadi.
"Kak Doni...."
"Sini di belakang...." Teriak Adit kesekian kalinya.
Doni pun menoleh ternyata Adit yang sedari tadi memanggil namanya itu.
Akhirnya Adit sampai di depan Doni, dia menunduk sambil mengatur nafasnya. Hos hos hos hos....
"Ada apa sih dit teriak-teriak memanggil ku?" Tanya Doni penasaran.
"Itu kak itu, itu... Em aduh ngomongnya binggung banget sih," jawab Adit dengan belepotan.
"Apa sih itu itu itu terus," tanya Doni dengan binggung.
"Kak jangan lari ke arah sana, tuh rumah angker nanti kena sial lewat sana," Bohong Adit agar Doni tak lewat sana.
"Lha terus aku puter balik begitu?" Tanya Doni sekali lagi.
"Iya sebaiknya kak Doni lewat sama saja pemandangan lebih bagus sawah-sawah, nanti ku temani," bujuk Adit.
"Ide bagus itu, tetapi aku ingin ke sana sekalian lihat-lihat tempat ini," kata Doni menolak ajakan dari Adit.
"Ayo kak pulang saja," bujuk Adit.
"Lha baru juga lari bentar belum ada 1 jam," protes Doni.
"Di cariin mbak Nana," bohong Doni.
__ADS_1
"Maaf ya mbak, aku harus berbohong denhan membawa nama mbak. Ini demi kedamaian negara kita sebelum negara api menyerang," guman Adit di dalam hatinya.
"Di cariin kenapa?" Tanya Doni heran, karena saat berangkat tadi berpamitan, istrinya itu tidak berbicara apa-apa cuma memintanya hati-hati di jalan dan tak jauh-jauh takutnya dia nyasar.
"Em iya, iya mbak Nana ngajak mas Doni ke pasar," bohong Adit.
"Oh tetapi kok aneh ya tumben dia tadi tidak bilang kepada ku langsung tadi," kata Doni berfikir ini semua logis seperti ada yang terasa aneh saja.
"Ayo kak jangan banyak protes, cepat ikut pulang Adit," Adit menarik tangan Doni agar berbalik mengikutinya pulang.
Dengan pasrah dan binggung, Doni pun mengikuti langkah kaki adik iparnya pulang.
SESAMPAINYA DI RUMAH.
"Kak Doni duduk aja, aku mau ambil minum dulu haus," kata Adit ngacir ke dapur langsung menemui saudara perempuannya.
Hos hos hos...
"Mbak Nana gawat," kata Adit ngos-ngosan.
"Gawat apa sih," grutu Tina yang masih mondar-mandir menyiapkan makanan.
"Iya ada apa sih nak seperti di kejar Marni saja," goda sang ibu membuat Tina ikut tergelak.
"Ishhh ibu mah bisa aja. Ini lebih gawat dari itu," kata Adit dengan manyun.
"Cepat bilang, jangan muter-muter ibu jadi pusing dengar kamu bicara terus," grutu ibu.
"Maksudnya apa sih, ngapain kamu nyuruh kakak ipar mu pulang?" Tanya ibu dengan binggung.
Adit pun memelas ke arah ibu dan saudara perempuannya itu. "Tadi kan kak Adit lihat kak Doni mau jalan ke gang rumahnya Bu Etty yang terkenal genit dan julidnya minta ampun jadi ku suruh kak Doni putar balik aja jalan ke sawah lihat pemandangan tetapi kak Doni menolak jadi ku suruh pulang dengan alasan di ajak mbak Nana ke pasar," jelas Adit panjang lebar sambil meringis tak enak hati menatap ke arah kakak perempuannya.
"Apa?" Tina kaget mendengarnya.
Bisa-bisanya Adit bilang kalau dia menyuruh suaminya pulang untuk menemaninya ke pasar.
"Dit dit, mbak Nana saja tidak kepikiran buat kepasar sekarang kamu nyuruh mbak ke pasar gara-gara mulut mu itu," grutu Tina kesal karena dia lelah baru masak dan ingin istirahat sebentar sebelum melakukan pekerjaan rumah.
"Ya mau giman lagi kak, takutnya kalau Bu Etty lihat wajah asli kak Doni bisa-bisa tuh mulutnya ember sekampung mbak Nana bisa bayangin," bisik Adit agar ucapannya itu tak di dengar oleh Doni.
Tina pun menghela nafas panjang, adiknya tak salah dia hanya ingin melindunginya agar tak jadi bahan gosip warga.
"Terus mana kakak ipar mu sekarang?" Tanya ibu kepada Adit.
"Kak Doni di luar, tadi aku pamit ambil minum," jawab Adit.
"Ya sudah kamu kepasar saja Na, beli cabe, daging ayam atau apalah terserah kamu. Kasihan tuh suamimu menunggu di luar," kata ibu kepada anak perempuannya.
"Iya Bu mau bagaimana lagi, ibu titip apa?" Tanya Tina.
"Tidak perlu nak, ibu tidak minta apa-apa," jawab ibu.
__ADS_1
"Aku mbak es kelapa muda, sama kue basah mbak," sahut Adit.
Plak...
Ibu memukul pundak sang anak. "Hei kamu lupa, noh di kulkas masih banyak kue yang di bawa mbak mu kemarin," kata ibu mengingatkan.
"Oh iya ya, minuman kaleng sama susu juga ada, he he he he Adit lupa," kata Adit cengengesan.
"Ya sudah Bu, Nana pamit ya," kata Tina menyalami tangan sang ibu untuk berpamitan pergi.
"Lho kdmu tidak ganti baju nak?" Tanya ibu.
"Tidak Bu, tinggal pake jaket saja Bu," kata Tina setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan dapur menuju teras rumah di mana Doni sedang duduk.
"Mas ayo," ajak Tina.
"Iya," Doni pun berdiri.
"Mas Doni tidak ganti baju," tanya Tina karena melihat Doni sedikit berkeringat.
"Apa perlu?" Tanya Doni balik.
"Terserah sih," jawab Tina.
"Ya sudah aku mau mandi sebentar," kata Doni.
"Iya mas,"
Tina merasa tak enak hati saat melihat sang suami.
10 menit Doni sudah selesai, dia memakai kaos tak berlengan dengan celana jeans pendek dan sepatu putihnya. Tampilan Doni membuat Tina melongo.
"Mas Doni mau kepasar atau mal," batin Tina.
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Doni heran.
"Mas Doni pakai sandal saja deh, ini pasar tradisional bukan pasar seperti di kota-kota," kata Tina kikuk.
"Oh...." Doni melepaskan sepatunya dan binggung harus menggunakan apa.
"Mas pakai sandal jtpit bapak saja, itu yang warna putih," usul Tina.
Doni pun memakainya tak lupa masker wajah dan kaca mata hitamnya. Tina menghela nafas panjang tampilan suaminya itu memang selalu keren, andai wajahnya tidak terluka pasti suaminya itu terlihat begitu tampan.
"Ayo," ajak Doni masuk ke dalam mobil.
"Lho kok pakai mobil mas," tanya Tina.
"Iya biar enak bawa barangnya, lagian harinsemakin siang biar tidak panas," kata Doni. Tina pun menurut saja, keduanya akhirnya berangkat ke pasar menggunakan mobil.
Bersambung....
__ADS_1