Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
15. Rencana Bimo dan Doni


__ADS_3

"Kenapa kamu sepertinya tidak suka dengan Aruna?" Tanya sang tuan muda kepada bodyguard kepercayaan nya itu.


Doni yang paham pertanyaan itu di tujukan untuk dirinya pun menghela nafas panjang, apakah dia harus berterus terang.


"Kenapa kamu di tanya diam saja?" Tanya Abraham karena Doni tak kunjung menjawab.


"Entahlah tuan muda, tetapi aku merasa kalau perempuan itu akan selalu membuat anda dalam kesusahan ataupun masalah," jawab Doni terus terang tanpa ada yang dia tutupi.


"Terima kasih karena kamu menghawatirkan ku," jawab Abraham singkat karena dia juga tak mungkin bilang tentang perasaannya sesungguhnya terhadap Aruna, entahlah Abraham tak yakin apalagi Bimo sedari tadi di sana terdiam ikut mendengarkan obrolan singkat keduanya.


"Tuan muda.... Kita langsung ke rumah sakit atau pulang ke mansion?" Tanya Bimo.


"Aku ingin pulang ke mansion saja, lagian ini luka kecil," jawab Abraham menolak dengan jelas tak ingin di bawah ke rumah sakit karena luka di tubuhnya itu cuma memar saja.


"Baiklah," kata Doni tak ingin berdebat mengingat sang tuan muda cukup keras kepala.


"Bimo, kamu hubungi dokter Brayen untuk datang ke mansion," pinta Doni karena dirinya sedang mengemudikan mobil.


Bimo dengan cepat merespon ucapan dari Doni untuk menghubungi dokter keluarga yang sengaja di tugaskan di negara ini.


SATU JAM BERLALU....


Mobil melesat masuk ke dalam gerbang mansion.


Beberapa pria berseragam hitam berbaris rapi di samping mobil sang tuan muda.


Ceklek...


Pintu mobil terbuka, Bimo ingin membantu sang tuan muda namun dengan cepat tuan muda Abraham menolak tawarannya.


"Tidak perlu, saya masih sanggup berjalan sendiri," jelasnya.


"Baik tuan."


Bimo pun turun terlebih dahulu, namun tangannya tak lupa membawa tas milik tuan mudanya itu.


Abraham turun dari mobil dengan wajah bengkak terkena pukulan dari pria lawannya tadi.


Semua pria yang berbaris tadi menunduk dengan hormat, tak ada yang berani menatap sang tuan muda.


Mereka semua adalah bodyguard yang di siapkan oleh kedua orang tuanya untuk menjaga mansion dan keselamatan sang anak semata wayangnya itu, sang pewaris tahta.


"Tuan muda...."

__ADS_1


"Tuan muda...."


Teriak pria paru baya dengan tergopoh-gopoh menghampiri sang tuan mudanya.


Abraham pun berjalan menghampiri pria paru baya itu. Dia tersenyum saat melihat pria itu begitu menghawatirkan dirinya terlihat dari raut wajahnya yang sendu itu.


"Tuan muda apa yang terjadi?" Tanyanya saat sang tuan muda sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Tenanglah Mr Sam, aku baik-baik saja," jawabnya agar pria di depannya itu tidak khawatir lagi.


"Tetapi wajah tuan muda?" Kata-kata pria itu terhenti kala mendengar suara yang tak lain adalah Doni.


"Mr Sam jangan khawatir, saya sudah meminta Bimo untuk memanggil dokter ke sini," jelasnya membuat Mr Sam sedikit lega.


Mr Sam adalah kepala pelayan mansion di negara ini. Dia sudah ada sejak Abraham masih kecil baru berumur 1 tahun jadi dia sudah menganggap sang tuan muda itu sebagai anaknya sendiri.


"Syukurlah, tetapi kenapa tuan muda bisa begini?" Tanyanya dengan binggung menatap ke arah Doni.


"Ini kelalaian saya karena tidak mengawal tuan muda ke kampus hari ini," jelasnya menunduk.


"Ini bukan salah mu karena aku tidak meminta kamu untuk libur mengawal ku hari ini."


Tap tap tap tap tap...


"Maaf tuan muda saya terlambat," sapa dokter Brayen dengan menunduk hormat.


"Tidak apa-apa dok," kata Abraham memaklumi karena jarak rumah sakit tempat dokter Brayen bekerja tidaklah dekat dengan mansion dan cukup jauh memakan waktu satu jam lamanya.


"Ada apa anda memanggil saya, apa ada sakit," tanya dokter Brayen sebelum memperhatikan wajah Abraham dengan teliti.


Dokter melotot saat melihat wajah sang tuan mudanya itu seperti bengkak dan sudut bibirnya sedikit pecah.


"Tuan muda bagaimana wajah anda bisa seperti ini? Siapa yang berani memukul anda?" Tanya dokter Brayen beruntun karena kaget melihat wajah tampan sang tuan muda terlihat bengkak.


"Ini cuma berantem kecil, kamu jangan lebay seperti ini," jawab Abraham dengan santai. Abraham sudah terbiasa berbicara santai dengan sang dokter mengingat umur dokter Brayen tidak jauh berbeda dengan dirinya cuma selisih 4 tahun saja.


"Mr Sam,saya titip tuan muda. Saya ingin kembali ke kamar," kata Doni menatap ke arah kepala pelayan dengan hormat.


"Tuan muda, saya pamit," kata Doni.


Sang tuan muda pun mengangguk.


Setelah itu Doni pun berjalan menuju kamarnya menyusul Bimo yang mungkin sudah tiduran di ranjang dengan santai.

__ADS_1


Di sini Bimo dan Doni masih sama, dia masih di tempatkan dalam satu kamar dengan Doni.


Ceklek...


"Ck enak banget nih orang sudah tidur," grutu Doni.


"He he he he he, aku masih belum tidur cuma memejamkan matanya sebentar saja, sambil nunggu kamu," elak Bimo padahal tadi dia sempat ketiduran karena bosan menunggu Doni.


"Nunggu aku? Kenapa?" Tanya Doni menyergit penasaran.


"Aku hanya ingin tanya? Kenapa kamu tidak begitu suka dengan nona Aruna?" Tanya Doni dengan wajah yang begitu penasaran.


"Kamu kenapa jadi kepo begini?" Tanya Doni dengan pandangan curiga.


"Tidak kok, aku cuma penasaran saja," jelasnya.


"Aku cuma tak suka saja, sejak tuan muda dekat dengan perempuan itu. Tuan sering mengalami masalah-masalah sili berganti," jelas Doni menerawang mengingat sejak 3 bulan sang tuan muda dekat dengan wanita itu, tuan mudanya sering mengalami hal-hal yang membuat Doni kesal.


"Iya juga ya, sejak tuan muda dekat dengan nona Aruna. Tuan muda sering mengalami hal-hal yang aneh seperti ban mobil yang tiba-tiba kempes di tengah jalan, terus dia pernah juga masuk rumah sakit gara-gara makan sandwich buatan tuh cewek," kata Bimo mengingat kejadian di mana tuan mudanya harus dilarikan ke rumah sakit gara-gara perutnya sakit (diare) yang membuat sang tuan muda kelelahan karena bolak balik keluar masuk kamar mandi.


"Nah kamu ingat, jadi kamu harus hati-hati sepertinya ada seseorang yang tak suka kedekatan tuan muda dekat perempuan itu," jelas Doni agar Bimo selalu waspada tak menurunkan kepekaannya sekecil apapun.


"Baik," jawab Bimo.


"Apa kita harus awasi tuan muda lebih ketat lagi atau kita tempatkan bodyguard bayangan di sekitar tuan muda," usul Bimo.


Plakk...


Doni memukul pundak Doni karena kesal. "Hei kamu lupa? Kita ini juga bodyguard," kata Doni mengingatkan.


"He he he he he he, iya ya," kata Bimo cengengesan.


"Terus kita harus bagaimana?" Tanya Bimo.


"Sini," Bimo pun mendekat ke arah Doni dan Doni pun membisikkan sesuatu ke Bimo.


"Ingat ya, awas sampai rencana kita gagal," ancam Doni agar Bimo tak keceplosan berbicara di sembarang tempat.


"Beres... Sip. Kamu tenang saja," jawab Bimo dengan begitu yakin.


Setelah itu, Doni meletakkan tas miliknya dan beralih menuju ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2