
Siang hari sudah menunjukkan pukul 11 siang namun belum ada tanda-tanda kedatangan keluarga mereka.
"Kenapa bapak dan ibu belum datang-datang ya mas," kata Tina mondar-mandir karena tak sabar menunggu kedatangan keluarganya saat ini.
"Sayang duduk saja, kamu nanti lelah mondar-mandir seperti itu dari tadi," pinta Doni.
"Aku saja yang melihatnya pusing," sambung Doni dalam hati tentunya.
Tina hanya melirik saja, dia masih berjalan mondar-mandir tak menghiraukan permintaan dari suaminya itu.
Doni yang melihat itupun sedikit kesal, istrinya itu sering ngeyel kalau di beritahu. Padahal Doni sudah mengingatkan berkali-kali untuk tidak melakukan aktifitas yang berlebihan. Ya Doni menganggap kalau istrinya itu sedang melakukan kegiatan berat, padahal Tina cuma jalan mondar-mandir di tempat.
"Sayang kalau kamu tidak mau duduk, jangan salahkan aku kalau ku suruh si Edo buat antar balik ibu dan bapak ke kampung lagi," ancam Doni karena istrinya itu semenjak hamil sering membangkang ucapannya.
Dengan mengerucutkan bibirnya, Tina pun duduk di depan Doni tentunya wajah Tina di tekuk karena kesal.
"Mbak Retno, ambilkan minuman sama buah buat nyonya," teriak Doni memanggil salah satu art nya.
Doni sebenarnya juga ingin mengambilnya sendiri namun Doni tak ingin meninggalkan istrinya itu sedetik pun bisa-bisa istrinya itu mondar-mandir tak jelas seperti tadi.
Tak lama mbak Retno muncul dengan membawa air putih kemasan 2, jus jeruk satu gelas dan buah melon dan buah naga yang sudah di kupas.
"Ini tuan," kata mbak Retno menunduk terus menyajikan semua yang di bawanya tadi ke atas meja.
Mbak Retno cukup takut dengan tuannya itu, Doni terlihat menyeramkan dan tegas, tak hanya mbak Retno yang takut bahkan tukang kebun dan satpam juga sedikit takut berhadapan dengan tuannya itu yang tak lain adalah Doni.
"Terimakasih mbak," kata Tina dengan ramah.
Tring...
Ponsel milik Doni berbunyi, dengan cepat Doni meraih dan membuka ponselnya itu. Ternyata itu pesan dari anak buah yang di minta Doni untuk menjemput keluarga istrinya. Namun memberitahu Tina dan keluarganya kalau Edo adalah temannya.
Isi pesan itu menjelaskan kalau mereka baru sampai karena terkendala macet, Doni paham itu karena siang hari banyak karyawan perusahaan maupun pabrik sibuk mencari makan membuat jalan-jalan tertentu sering macet.
Sedangkan di dapur.
"Kamu kenapa Retno?" Tanya mbok Jumi saat melihat perempuan itu seperti ketakutan.
"He he he he he, biasa mbok kalau lihat tuan Doni bawaannya takut,'' lirih Retno dengan suara pelan.
"Hust jangan ngomong begitu kalau kedengaran tuan Doni, kamu bisa di pecat,'' kata mbok Jumi mengingatkan temannya sesama art itu.
SETENGAH JAM BERLALU
"Tuan, nyonya...." Teriak mbak Retno tergopoh-gopoh naik ke atas ke kamar Doni dan Tina.
"Itu sepertinya suara mbak Retno," kata Tina langsung bangkit dari ranjang. Doni hanya menoleh sesaat lalu fokus kepada laptopnya untuk mengecek beberapa usaha kecil miliknya.
Tina tak tahu kalau suaminya itu selain bekerja sebagai bodyguard, Doni juga memiliki usaha restoran kecil dan beberapa toko seperti minimarket yang tersebar di beberapa tempat meskipun tak besar tetapi pendapatannya cukup besar.
Ceklek.....
"Ada apa mbak?" Tanya Tina saat membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Itu nyonya, itu...."
"Itu apa mbak," kata Tina menyela tak sabar.
"Itu di luar ada keluarga nyonya," kata Retno dengan susah payah mengatur nafasnya.
"Hah...."
"Orang tua saya?" Tanya Tina memastikan.
"Iya nyonya, mereka semua sudah tiba," jelas Retno.
"Ya sudah, kamu siapkan minuman dingin sama buah terus jangan lupa panasin lauknya serta tata di meja takutnya orang tua saya sudah lapar," perintah Tina kepada mbak Retno.
"Baik nyonya," setelah itu mbak Retno bergegas ke dapur menyiapkan semua yang di perintahkan oleh nyonya nya tadi.
"Mas aku turun dulu ya, bapak sama ibu sudah tiba," kata Tina langsung bergegas turun setelah berpamitan kepada sang suami.
"Tunggu...." Teriak Doni membuat Tina berhenti dan menoleh ke belakang melihat ke arah suaminya.
"Ada apa sih mas," kata Tina sedikit kesal. Doni memaklumi itu semua karena bawaan hamil.
"Iya, hati-hati jangan cepat-cepat jalannya. Turun tangga dengan hati-hati jangan sampai kamu lupa," kata Doni mengingatkan istri nya itu.
"Siap suamiku...." Jawab Tina dengan hormat membuat Doni terkekeh.
Tina pun turun, sedangkan Doni dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya agar segera turun dan menyapa mertuanya.
DI LANTAI BAWAH
Bapak, ibu dan Adit sudah duduk di ruang tamu, mbok Jum meminta mereka untuk duduk di sana dan mbak Retno juga datang membawa minuman dingin dan buah yang sudah di kupas tak lupa kue sebagai pelengkap.
"Ibu.... Bapak," teriak Tina dengan gembira menyambut kedua orang tuanya.
Adit masih clingak-clinguk menatap rumah kakak perempuannya, Adit di buat terkagum-kagum melihat betapa besar dan mewahnya rumah ini.
"Rumah mbak Tina bagus, besar banget. Kalau di kampung ini bisa buat 4 rumah," kata Adit terkekeh di dalam hatinya saat ini.
"Dit kamu tidak kangen mbak Nana," kata Tina membuyarkan lamunan adiknya itu.
Bapak dan ibu mengelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya itu. Bapak juga tak menyangka menantunya itu bisa mempunyai rumah mewah seperti ini bahkan untuk masuk ke dalam komplek ini harus melalui pemeriksaan dulu mengingat mereka baru pertama kali ke sini.
"He he he, tentu dong mbak kangen," kata Adit mendekat dan memeluk Tina.
"Ayo pak, Bu minum dulu pasti kalian haus."
"Mbak Retno tolong bawa tas ini semua ke kamar tamu," pinta Tina pada mbak mbak Retno.
"Baik nyonya."
Ibu dan bapak saling melirik mendengar anaknya itu di panggil nyonya.
"Wah mbak Nana keren banget, seperti nyonya-nyonya yang ada di tv," kata Adit cekikikan di dalam hatinya saat ini.
__ADS_1
"Nak Doni mana nak?" Tanya ibu karena tak melihat menantunya sedangkan bapak berfikir Doni sedang bekerja.
Untuk Edo, dia sudah pergi setelah mengantar keluarga Tina samping dengan selamat tugasnya sudah selesai jadi dia berpamitan pulang kerumahnya.
"Mas Doni sedang di kamar menyelesaikan pekerjaannya," jelas Tina.
Tak lama.... Terdengar suara langkah kaki.
Tap tap tap tap...
Semuanya menoleh ke arah tangga.
"Pak, Bu apa kabar?" Doni mendekat dan bergantian menyalami tangan kedua mertuanya.
"Alhamdulillah baik nak, nak Doni sendiri bagaimana?" Tanya bapak kembali.
"Seperti yang bapak lihat," jelas Doni.
"Maaf pak, Bu, Adit. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai jadi saya pamit," kata Doni dengan sopan.
"Iya nak silahkan," jawab bapak dan ibu.
Setelah itu Doni kembali melangkah menuju lantai atas di mana kamarnya berada untuk melanjutkan pekerjaannya, dia tadi sengaja turun untuk menyapa kedua mertuanya.
Kruk kruk.... Terdengar suara perut Adit berbunyi.
Ketiganya menoleh menatap Adit.
"He he he he he, lapar mbak," seru Adit cengengesan.
"Bapak dan ibu ayo makan, oh ya kalau kalian mau mandi di kamar juga ada kamar mandinya," jelas Tina.
"Bapak mau mandi dulu nak, gerah," jawab bapak.
"Ibu juga,"
"Adit mau makan dulu ya mbak," pinta Adit.
"Kamu mandi saja dulu Dit, nanti makanan kamu ku antar ke kamar," jelas Tina.
Tina pun mengajak kedua orang tuanya beserta adiknya itu ke kamar tamu.
"Ini kamar bapak," jelas Tina saat membuka pintu kamar.
"Terus kamar Adit juga di sini?" Tanya Adit menyela masuk terlebih dahulu.
"Kamu ambil tas kamu, mbak Nana tunjukkin kamar mu," kata Tina.
Adit pun mengikuti Tina ke kamarnya terletak tak jauh dari sana.
Ceklek...
"Nih kamar mu," kata Tina memperlihatkan kamar yang akan di tempati oleh Adit.
__ADS_1
"Wah bagus mbak, luas dan jendelanya langsung menghadap taman," jelas Adit berbinar cerah, ya kamar yang di pilih Tina untuk adiknya itu ada jendela menghadap ke arah taman samping.
Bersambung ....