Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
62. Rindu


__ADS_3

"Nak kamu kenapa?" Tanya sang ibu saat melihat putrinya turun dari motor dengan wajah pucat. Ibu mana yang tak cemas saat melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.


Ibu langsung memapah anaknya itu turun dari motor dengan hati-hati. Akhirnya dengan bantuan dari ibunya Tina bisa duduk di teras.


"Kalian dari mana saja? Lihat wajah mbak mu pucat begitu. Dit kenapa mbak Nana mu bisa begini?" Ibu memberondong anak laki-lakinya itu dengan berbagai pertanyaan karena merasa cemas dan khawatir.


"Terus kenapa kamu tidak sekolah?"


Adit di buat binggung dengan pertanyaan ibunya itu, Adit menggaruk kepalanya yang tak gatal itu karena dia binggung harus menjawab apa.


"Adit juga tidak tahu Bu, lha tadi mbak Nana maksa Adit bolos sekolah dan minta diantarkan ke pasar," jelas Adit.


"Iya Bu jangan salahkan Adit, tadi aku malas makan dan tiba-tiba Nana ingin buah jadi Nana minta antarkan Adit ke pasar," jelas Tina agar ibunya tak memarahi adiknya.


"Iya Bu, mbak Nana tadi saja cuma duduk sambil minum es dan aku yang keliling cari buah," jelas Adit mengatakan apa yang dilakukan oleh sang kakak tadi saat berada di pasar.


"Entahlah Bu, tiba-tiba Nana merasa pusing dan mual mungkin Nana masuk angin," kata Tina menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu karena merasa lemas.


"Apa kamu sudah makan nak?" Tanya ibu yang ingat saat berangkat tadi meminta anaknya untuk makan dan minum obat namun saat pulang dari kebun tak menemukan keberadaan sang anak, rumah terlihat sepi padahal tadi anaknya itu mengeluh sakit kepala.


Tina mengelengkan kepalanya karena tadi dia tak berselera makan jadi dia tak menyentuh satupun makanan yang ada di meja makan tadi pagi.


"Pantes muka mu pucat begini lagian ini sudah jam berapa, kenapa kamu belum makan nak," kata ibu terdengar begitu khawatir.


"Ayo nak, kita masuk kamu ingin makan apa biar ibu buatkan," bujuk ibu agar anaknya mau makan.


Tina mengelengkan kepalanya menolak saran dari ibunya itu, entahlah dia begitu malas untuk makan, melihatnya saja sudah membuat dia mual.


"Melihat makanan itu saja membuatku mual," ceplos Tina.


Deg


Ibu terdiam sesaat dia teringat sesuatu. "Apa ini seperti yang ku pikirkan," gumamnya di dalam hati.


"Kenapa ibu bengong begit. " Tegur bapak saat baru keluar dari rumah.


"Ini loh pak, si Nana malas makan," adu ibu kepada suaminya.


Sedangkan Adit, jangan di tanya dia sudah berada di meja makan mengupas buah melon yang di belinya tadi dan menaruhnya di piring. Adit tak sabar ingin menikmati kesegaran buah tadi.

__ADS_1


"Kalau di campur susu, sirup sama es pasti segar," guman Adit.


DI TEMPAT BERBEDA...


"Kamu tidak pulang Bim?" Tanya Gre.


"Tidak, aku mau di sini nungguin Doni," jawabnya acuh dan cuek.


"Pulang sana, mandi," perintah Doni.


"Ck kalian berdua kenapa sih, sekongkol buat ngusir aku," protes Bimo tak terima.


"Ck gak sadar diri," guman Gre sinis.


"Gak sadar apa sih, kalian berdua aneh banget," grutu Bimo mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruangan itu.


"Kamu tidak sadar kalau kamu itu dari tadi bau asem," sinis menatap ke arah Bimo.


Bimo pun langsung mengendus ke arah ketiak dan tubuhnya guna memastikan kalau yang diucapkan Grey itu salah.


"Ck mana ada bau hidung kamu kali yang bermasalah," jawab Bimo dengan percaya dirinya.


"Pulang sana mandi, biar aku yang menunggu Doni di sini," pinta Gre.


Wajah manyun akhirnya Bimo pun mengiyakan permintaan dari kedua temannya itu.


"Iya iya aku pulang sudah puas kalian berdua," kata Bimo.


"Ya sudah, aku pulang dulu kalau ada apa-apa, kamu jangan lupa menghubungiku." pinta Bimo.


Bima pun keluar dari ruangan itu telah berpamitan kepada keduanya.


"Kamu jahat sekali mengatakan kalau Bimo itu bau," kata Doni menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Bimo dan Gre yang jarang akur itu.


"Oh ya, Mana ponselku?" Tanya Doni pada Gre ingat kalau kalau dia sudah lama tidak menghubungi istrinya, pasti istrinya itu sedang mencemaskan keadaannya.


"Ada kok, sebentar aku ambilkan," kata Grey, segera mencari Di mana letak ponsel Doni.


"Nah ketemu," kata Gre saat mendapati ponsel milik Doni di laci bawah nomor 2.

__ADS_1


"Nih," kata Gre menyodorkan ponsel milik Doni.


"Terimakasih," kata Doni.


Doni pun mengaktifkan ponselnya dan benar saja banyak panggilan dari sang istri yang masuk ke hp-nya.


"Pasti dia mencemaskanku?" gumam Doni, memikirkan betapa cemasnya sang istri, menunggu kabar darinya selama ini.


"Ya sudah kamu hubungi saja istrimu takutnya dia Iya cemas memikirkan mu yang tak ada kabar," usul Grey kepada sahabatnya, ya Gre tahu kalau Doni sudah menikah dengan Tina.


Gre pun paham, dia segera keluar untuk memberikan ruang pada Doni dan istrinya untuk melepaskan kangen atau apapun itu, dia tak ingin menjadi obat nyamuk bagi keduanya.


Pun memilih berjalan keluar. "Ah, mending aku ke kantin untuk membeli minuman," guman Grey berjalan menuju ke arah kantin untuk membeli minuman dingin.


Di dalam ruangan, Doni, segera mencari kontak suami-istri. Dengan perasaan bimbang dan ragu Doni pun menekan nomor istrinya itu.


Tut...


Tut..


Tut...


Berkali-kali Dani menghubungi nomor ponsel sang Istri namun tak ada respon(tak ada jawaban atau Tina tak menjawab panggilan tersebut) dengan perasaan kecewa Doni pun menutup panggil itu.


"Apa mungkin dia sedang mandi, "guman Doni, namun saat melihat jam dinding sudah menunjukkan jam 10 tak mungkin istrinya itu masih mandi.


"Mungkin dia pergi keluar menemani Ibu berkebun atau ke pasar membeli bahan makanan yang sudah habis," Doni mencoba untuk berpikir positif.


Namun saat teringat dengan pria yang bernama Agus itu Doni pun emosi di buatnya, dia mengepalkan tangannya menahan emosi.


Doni Pun mengirimkan pesan kepada sang istri membalas setiap pesan-pesan yang pernah dikirimkan kepadanya.


Dani juga mengabarkan kalau dia baik-baik saja, Doni tak ingin istrinya itu cemas mengkhawatirkannya karena tak ada kabar selama beberapa hari ini.


Doni juga mengabarkan kalau dia akan pulang secepatnya dan meminta sang istri untuk menjaga diri baik-baik dan kalau ada apa-apa agar segera menghubunginya.


Doni juga tak lupa bertanya kepada sang istri, oleh-oleh, apa yang diinginkannya nanti saat dirinya pulang.


Setelah Doni pun mematikan ponselnya dan beristirahat agar segera pulih dan bertemu dengan sang istri. Doni sudah tak sabar ingin memeluk istrinya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2