Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
11. Kesedihan


__ADS_3

3 HARI TELAH BERLALU....


Sesuai dengan apa yang Abraham katakan saat itu. Dokter akhirnya datang untuk memeriksa keadaan Doni memastikan luka di wajahnya itu sudah sembuh atau masih memerlukan penanganan khusus.


"Silahkan masuk Dok," ajak Bimo mempersilahkan dokter itu masuk ke dalam kamar di mana Doni sedang berbaring.


Dokter pun duduk di dekat ranjang milik Doni, Bimo pun tak lupa menyiapkan minuman berserta cemilan untuk menyambut kehadiran dokter itu.


"Bagaimana kondisi anda tuan Doni?" Tanya sang dokter saat memeriksa kondisi kesehatan Doni saat ini.


"Alhamdulillah Dok," jawab Doni sambil mengangguk.


"Apakah ada keluhan atau yang lainnya?" Tanya dokter dengan ramah sambil memperhatikan wajah pasien di depannya saat ini.


"Tidak ada," jawabnya singkat.


Dokter itu kemudian membuka kasa yang membalut wajah Doni saat ini dengan begitu hati-hati. Dokter terdiam dengan pemikiran yang rumit mengamati kondisi pasien di depannya. Akhirnya kasa itu terlepas semua.


Saat ini terpampang wajah Doni yang hampir semuanya terkena luka bakar dan lebih parah adalah pipi sebelah kanan dan dahi Doni. Awalnya dokter begitu kaget melihat wajah Doni namun dengan cepat dia menormalkan kembali wajahnya.


"Apa ini masih sakit?" Tanya dokter. Dia juga sedikit menekan luka yang sudah kering yang ada di pipi Doni saat ini, namun bukan dengan tangan kosong melainkan tangannya sudah di balut sarung tangan kesehatan.


"Tidak dok," jawabnya.


"Kalau ini?" Tanya dokter berpindah tempat, tangannya kini beralih menyentuh luka yang ada di dahinya.


"Tidak...." Doni menjawab cepat karena dia tak merasakan sakit di area yang di sentuh oleh dokter tadi.


Kemudian dokter itupun tersenyum tipis berharap pria di depannya itu kuat menerima semua ini, karena dokter sedikit takut pasien di depannya itu terguncang atau lebih parahnya tidak bisa menerima kenyataan dan berakhir menyedihkan ( depresi/ bunuh diri).


"Alhamdulillah luka anda sudah mengering semuanya dan ini mungkin akan meninggalkan bekas yang cukup besar," jelas sang dokter dengan sedikit merasa tak enak mengatakan itu semua, kenyataan pahit itu harus Dokter ucapkan.


Deg....


Doni terdiam tak bisa menjawab ataupun berkata apapun, meskipun hati sudah memantapkan untuk ikhlas namun di sudut hatinya dia masih sedih dan tak percaya.


"Bim mana?" Pinta Doni dengan tangan menengadah ke arah Bimo meminta cermin.

__ADS_1


Bimo yang paham maksud Doni pun dengan berat hati mengambil cermin dan menaruhnya di tangan Doni.


D E G G....


Bagai di hantam palu besar, dada Doni terasa sakit saat melihat pantulan wajahnya di cermin apalagi saat dokter tadi mengatakan kalau luka itu akan meninggalkan bekas.


"A-pakah ini benar wajah ku," batin Doni, tangannya pun meraba wajahnya dengan tak percaya.


Doni masih melamun menatap wajahnya dengan getir.


"Ha ha ha ha ha ha aku seperti monster," batinnya tertawa getir saat melihat pantulan wajahnya yang terlihat mengerikan saat ini.


Bimo masih terdiam menatap temannya itu dengan getir, matanya memancarkan kesedihan. Meskipun bukan dia (Bimo) yang mengalami semua ini namun dia juga ikut merasakan kesedihan yang dialami temannya itu. Bagaimana tidak wajah tampan itu berubah mengerikan, siapapun pasti akan merasa sedih dan terguncang hebat bahkan mungkin ada yang depresi.


"Semoga kamu kuat Don menghadapinya," batin Bimo mendoakan temannya itu dengan begitu tulus.


Keduanya (Doni dan Bimo) terdiam tak menghiraukan obrolan sang dokter, keduanya melamun dengan pemikiran masing-masing.


"Apakah ini bisa di hilangkan dengan obat ataupun salep?" Tanya Abraham yang sedari tadi berdiri di dekat pintu mendengarkan penjelasan sang dokter.


"Maafkan saya tuan muda, saya sudah berusaha namun ini semua di luar kehendak saya, apalagi luka bakar yang dialami oleh kemarin cukup parah," kata sang dokter merasa bersalah.


Abraham terdiam cukup lama bagaimana tidak karena Doni dengan terang-terangan menolak saran Abraham saat itu.


Setelah dokter memberikan penjelasan kepada Abraham. Dokter pun membereskan semua peralatannya.


"Tuan ini obat yang harus anda minum dan saya sudah tulis harus berapa kali obat ini di minum, oh ya kalau anda merasa gatal jangan anda garuk takutnya luka akan lecet atau semakin parah," jelas sang dokter setelah itu dia pergi keluar diantar oleh Abraham.


Di luar Abraham meminta penjelasan tentang keadaan Doni dengan sedetail-detailnya.


Sedangkan di dalam ruangan tepatnya di kamar Doni.


"Bim, aku lapar," kata Doni secara halus mengusir Bimo.


"Biar aku panggilkan art," jawab Bimo.


Doni mengelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tak ingin masakan buatan mereka, aku a-ku ingin makan yang lain, emm..... Maukah kamu menolongku? Apa kamu bisa membelikan aku sate," pinta Doni berpura-pura berfikir padahal dirinya ingin mengusir Bimo secara halus dari ruangan ini.

__ADS_1


Bimo ingin menolak tetapi dia juga merasa tak enak. " Mungkin dengan makan sate, pikiran dia lebih bahagia," batin Bimo.


"Ya sudah aku belikan, kamu di dalam saja jangan kemana-mana. Tunggu aku pulang bawa sate keinginanmu,"


"Terima kasih," jawab Doni.


Bimo pun berjalan namun saat sampai di depan pintu Bimo pun berbalik, dia lupa menanyakan sesuatu kepada Doni.


"Kenapa?"


"He he he he he, aku lupa tanya. Kamu mau sate apa? Terus berapa tusuk?" Tanya Bimo cengengesan.


"Sate kambing saja, satu porsi sudah cukup. Tetapi kamu bisa beli 2 porsi, satu untuk kamu dan satu untukku," kata Doni membuat senyum di wajah Bimo semakin cerah. Doni tahu sahabatnya itu paling suka makan jadi mendengar makanan pasti dia akan senang.


"Oh ya jangan lupa tutup pintunya," pinta Doni dan Bimo pun mengangguk.


Setelah kepergian Bimo.


Doni mengacak-acak rambutnya.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, aku terlihat mengerikan," tangis Doni pecah.


Di luar pintu....


Saat ini Abraham mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar milik Doni. Tangis Doni membuat Abraham ikut sedih, dia pun segera pergi meninggalkan tempat itu hatinya tak sanggup mendengarkan kesedihan dan tangis Doni.


Melihat tuan muda Abraham pergi, perempuan cantik itupun mendekat ke arah pintu namun dia tertegun saat mendengar kata-kata pria yang sedang dilanda kehancuran itu.


"Aku seperti monster."


"Pasti mereka semua akan menjauhi ku."


"Ha ha ha ha ha ha, wajah ku cacat."


Doni meraung menangisi semuanya.


Perempuan itu menutup mulutnya tak percaya, dia pun ikut sedih tanpa sadar meneteskan air matanya.

__ADS_1


Perempuan itu buru-buru pergi karena tak kuat mendengar tangis memilukan dari pria di dalam sana.


Bersambung.....


__ADS_2