Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
60. Bimo mengamuk


__ADS_3

Doni tertunduk di lantai, dia memegang lengannya yang sakit. Doni menatap ke arah pria itu yang juga tertunduk, ah lebih tepatnya pria itu saat ini sedang berlutut di lantai akibat ulah dari Gre.


Bruggghhhh....


Tiba-tiba Pria itu terjatuh karena 2 tembakan yang mendarat di kaki pria itu, sehingga membuat pria itu ambruk sedangkan pistol yang di pegang oleh pria itu terjatuh akibat serangan Bimo.


Bimo saat melihat Doni tertembak, dia langsung berlari menerjang pria itu dan melumpuhkannya. Bimo begitu marah saat tahu Doni tertembak gara-gara menyelamatkan dirinya, Bimo langsung berlari dengan cepat menuju pria itu dan menendang tangan pria tadi yang masih memegang pistol, Bimo langsung menarik paksa atau lebih tepatnya mengambil paksa pistol itu dari pria tadi.


"Sialan..." Teriak Bimo dengan marah.


Bugh bugh bugh...


Bimo memukul pria itu membabi buta melampiaskan amarahnya saat ini.


"Brengsek...."


Bugh bughhhh....


"Hei sudah Bim, berhenti. Ayo kita bawa Doni secepatnya," sahut Gre menghampiri Bimo yang seperti orang kesetanan itu menendang pria itu.


Bug bug bug bug bug


Bimo tak menggubris perkataan dari Gre saat ini, dia masih melampiaskan amarahnya memukul dan menendang pria itu dengan bringas.


"Dasar sampah."


Uhuk uhuk uhuk.... Pria itu terbatuk-batuk menahan rasa sakit karena pukulan Bimo yang penuh emosi itu.


Gre pun dengan sigap memeluk Bimo yang seperti orang kesurupan itu, Gre memeluk dari belakang dan menariknya menjauh dari pria itu. Sungguh Gre di buat kewalahan saat ini.


"Hei lepaskan aku biar ku habisi pria ini," teriak Bimo menggebu-gebu.


"Hei Bim, dia bisa mati kalau kamu terus memukulnya," Doni berbicara dengan lirih sambil memegang lengannya yang tertembak.


Doni berjalan tertatih-tatih menghampiri mereka dengan di bantu oleh anak buahnya.


Untung saja mereka membawa 5 orang anak buah tadi.


"Doni...."


Bimo langsung teringat dengan Doni, dia pun berlari menghampiri Doni dan memeluknya. Bimo menangis memeluk doni, dia bersyukur tembakan itu hanya mengenai lengan Doni.


"Hiks hiks hiks hiks," Bimo memeluknya dengan erat sampai membuat Doni meringis karena kesakitan.


"Hei.... Lepaskan aku, apa kamu ingin membunuh ku hah ....." Teriak Doni emosi karena lengannya itu semakin terasa sakit akibat ulah dari Bimo.


"Bim, kamu menyakiti tangan Doni," kata Gre saat melihat temannya itu kesakitan, Gre pun dengan cepat menarik Bimo menjauh atau lebih tepatnya menarik Bimo agar melepaskan pelukannya dari Doni.


"He he he he, maaf. Ayo kita ke rumah sakit ," ajak Bimo dan Gre bersamaan.

__ADS_1


"Terus pria itu bagaimana?" Tanya Doni yang teringat pesan dari tuan mudanya itu untuk membawa pria ini hidup-hidup.


"Biar Jero yang mengurus dia," sahut Gre cepat ambil keputusan karena tak mungkin Bimo yang mengurusnya bisa-bisa pria itu di habisi Bimo saat ini juga.


"Kamu saja yang urus takutnya dia keburu meninggal gara-gara tidak mendapatkan penanganan yang baik," kata Doni melirik Gre.


"Kok aku, yang buat pria itu seperti itu kan Bimo. Harusnya dia yang tanggung jawab," protes Gre tak terima.


"Kamu mau aku emosi terus ku buang tuh pria di kandang lion," sinis Bimo saat tahu arah pikiran Gre yang seperti meminta Bimo untuk bertanggung jawab.


"Sstttt...." Doni meringis menahan sakit.


"Sudah-sudah jangan berdebat, lihat tuh Doni sudah kesakitan," lerai pria yang bernama Jero itu.


"Kalian berdua bawa saja Doni ke rumah sakit secepatnya, biar aku yang urus pria itu dan semua sisanya," kata Jero.


Doni pun akhirnya di bawa Bimo dan Gre.


.


DI TEMPAT BERBEDA.....


Tina sedang melamun memikirkan nasib sang suami yang entah bagaimana kabarnya saat ini. Dia pun binggung bagaimana cara menghubungi suami itu apalagi nomornya beberapa hari tidak aktif.


"Mas Doni sebenarnya tugas apa yang sedang kamu kerjakan," guman Tina dengan sendu.


Tok tok tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu, dari suaranya itu sepertinya suara Adit.


"Kenapa dit?" Tanya Tina saat membuka pintu dan mendapati adiknya itu.


"Iho kok Adit sih mbak, harusnya tuh Adit yang tanya mbak Nana kok teriak-teriak. Ada apa?" Tanya Adit balik.


"Tidak apa-apa, mbak Nana cuma mimpi buruk saja," kata Tina tak menjelaskan kalau dia bermimpi buruk tentang suaminya itu.


"Oh pantas mbak Nana teriak-teriak, aku kira ada apa mbak mbak bikin panik aku saja," kata Adit mengelengkan kepalanya ternyata kakak perempuannya itu cuma mimpi buruk.


"Kamu kok belum tidur sih?" Tanya Tina heran.


"He he he he he, tanggung kak Adit masih lihat film seru banget mana mbak Tina teriak tadi pas seru-serunya," jelas Adit.


"Kamu lihat film apa sih dit? Sampai jam segini belum tidur?" Tanya Tina menatap ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 malam.


"Film horor kak, seru loh kak ayo temenin Adit nonton," ajak Adit sambil menarik tangan Tina.


Tina memberontak, mana mau dia menonton film seram begitu apalagi ini sudah malam dan bagaimana kalau nanti dia kebelet pipis, lagian juga dia takut bermimpi seram secara dia tidur sendirian di kamar.... Aah membayangkan saja membuat Tina bergidik ngeri.


"Mbak tidak mau Dit, serem," tolaknya.

__ADS_1


"Ayolah mbak temenin," rengek sang adik.


"Mbak tidak berani, apalagi malam-malam begini. Kamu saja yang lihat sendiri, mbak ngantuk," kata Tina berusaha melepaskan tangannya dari sang adik dan berlari menuju ke dalam kamar.


Brakkkkk...


Tina langsung menutup pintu kamarnya dengan cepat.


"Mbak buka mbak," teriak Adit.


Tak mendapat respon dari sang kakak, Adit pun pasrah dan kembali menonton sendirian meskipun dia juga sedikit merasa takut.


"Ck sudah tahu penakut masih saja nonton," grutu Tina langsung naik ke kasur dan merebahkan tubuhnya.


"Hoammm...." Tina menguap.


"Lebih baik aku tidur, semoga besok nomor mas Doni sudah bisa di hubungi," gumannya sambil menutup mata untuk melanjutkan tidurnya.


Sedangkan Adit yang masih menonton tv.


"Duh serem banget tuh hantu," kata Adit menutup matanya dengan kedua tangannya sesekali dia mengintip dari celah-celah jarinya.


Hi hi hi hi hi....


Suara tawa dari televisi yang menakutkan membuat Adit takut.


"Aaaahhh....." teriak Adit.


Tiba-tiba tv padam...


"Lho kok tv nya mati sih, apa rusak ya," guman Adit dengan binggung.


"Tidur...." Kata bapak berkacak pinggang menatap tajam sang anak.


"Lho bapak," kata Adit cengengesan.


"Kok di matiin sih pak, kan lagi seru," protes Adit saat tahu ternyata tv nya sengaja di cabut kabelnya oleh bapak.


"Seru seru gundul mu," kesal bapak.


"Dari tadi bapak tidak bisa tidur dengar kamu teriak-teriak, kamu ini sudah malam masih saja nonton tv. Besok kamu tidak sekolah hah," kesal bapak memarahi anaknya itu.


"Sekolah pak," jawab Adit.


"Tidur...." Bentak bapak sudah kesal.


Adit pun langsung berlari menuju kamarnya, sebelum dia di jadikan perkedel oleh bapaknya itu.


"Dasar anak nakal," grutu bapak sambil berjalan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2