Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
45. Menerima


__ADS_3

Bapak menghela nafas panjang, mungkin laki-laki yang menunduk di depannya itu bisa membahagiakan putri kesayangan ini.


"Yo wes nak, mungkin ini sudah takdir mu," kata bapak seperti terselip rasa kurang suka dengan pilihan anaknya atau lebih tepatnya terpaksa.


"Terima kasih pak sudah menerima mas Doni," kata Tina memeluk pria paruh baya yang merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya itu.


"Terima kasih pak, saya berjanji akan membahagiakan Tina dan tidak akan menyakitinya pak," Doni pun mendekat dan bersujud di depan mertuanya itu serta berjanji agar mertuanya itu merasa lega.


"Lho ada apa ini?" Tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja datang dan melihat anak dan suaminya berpelukan dan satu orang pria bertubuh kekar yang duduk tak jauh.


"Eh...."


Tina, bapak dan Doni pun menoleh secara serempak.


"Ibu...." Tina langsung bangkit dan berlari mendekat ke arah perempuan yang sudah melahirkannya itu.


Keduanya pun langsung berpelukan melepas rindu yang selama ini terhalang jarak.


"Nana kamu kok pulang tidak ngasih kabar ibu sih nak, kan ibu bisa masakin makanan kesukaan mu," Tanya sang ibu beruntun.


"Ayo Bu, duduk dulu Nana mau bilang sesuatu," katanya menyuruh sang ibu untuk duduk di kursi.


Dengan binggung sang ibu pun menuruti keinginan sang anak.


"Bu perkenalkan ini mas Doni, dia suami Nana," jelas Tina membuat sang ibu terpaku menatap pria kekar dengan kepala botak serta wajah yang separuh penuh luka itu tatapan tak percaya.


Deg...


"Apa benar ini suami anak ku," batin sang ibu.


Sedangkan bapak tau isi pikiran istrinya itu, bapak pun mengengam tangan sang istri menguatkan. Bapak mengangguk agar istrinya itu bisa legowo menerima semua ini.


Ibu pun menghela nafas panjang yakinkan hatinya agar bisa menerima pria di depannya itu.


"Kamu kerja apa nak?" Tanya bapak mengubah suasana agar tak menjadi canggung lagi.


"Saya bekerja sebagai bodyguard pribadi," jawab Doni singkat.


"Terus mana kedua orang tua mu kenapa mereka tidak ikut ke sini?" Tanya ibu menyela pembicaraan keduanya.


Tina menoleh menatap Doni dengan penyesalan.

__ADS_1


"Kedua orang tua saya sudah meninggal, saya hidup sebatang kara," lirih Doni menahan rasa sedih.


"Maafkan kami nak Doni, kamu tidak tahu," kata bapak merasa tak enak.


"Tidak apa-apa pak," jawab Doni mencoba kuat.


"Oh ya Bu, pak ini ada oleh-oleh dari kami," sela Tina menunjukkan barang-barang yang ada di kardus.


Bapak dan ibu yang melihat itupun kaget, satu kardus penuh dengan berbagai macam cemilan, kue maupun beberapa minuman berbagai merek. Sedangkan satu kardus lainnya berisi baju. Satu kardus lagi berisi minyak, gula, mie instan dan kebutuhan dapur lainnya.


"Nak ini banyak sekali, ibu seperti mau buka warung saja," kata sang ibu tak percaya saat sang anak membongkar kardus-kardus tadi.


"Ini semua mas Doni yang beli, Nana juga tidak tahu tiba-tiba mas Doni pulang bawa semua ini katanya buat oleh-oleh bapak dan ibu di kampung," jelas Tina membuat keduanya menoleh ke arah Doni.


"Terima kasih nak Doni, kamu repot-repot memberikan ini semua," kata bapak merasa tak enak.


"Tidak apa-apa Bu, semoga ibu dan bapak suka," jawab Doni.


"Ya sudah kalian berdua istirahatlah di kamar," kata ibu yakin keduanya pasti lelah mengingat perjalanan dari kota mereka cukup jauh.


Ibu menatap Doni. "Maaf nak kalau kamar Tina kurang besar atau kasurnya tak nyaman," kata ibu merasa tak enak.


Saat Doni dan Tina mau masuk ke kamar tiba-tiba Bimo berlari masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.


"Hos hos hos," Bimo mengatur nafasnya.


"Ada apa Bim?"Tanya Doni heran.


Ibu di buat binggung pasalnya dia tak tahu siapa pemuda tampan itu.


Tina yang paham pun menjelaskan kepada ibunya. "Buk ini bang Bimo, teman mas Doni yang tadi menjadi supir mengantarkan kita pulang," jelasnya membuat ibunya pun paham.


"Iya Bu saya Bimo," dengan cepat Bimo menyalami perempuan paruh baya itu agar dianggap tak sopan nyelonong masuk tanpa permisi.


"Hei kenapa kamu lari-lari begitu seperti di kejar hantu saja," tanya Doni yang penasaran karena Bimo tak kunjung menjawab pertanyaannya tadi.


Belum sempat Bimo menjawab terdengar suara dari luar. Suaranya terdengar menyeramkan kadang tertawa dan menangis.


"Akang sayang, ayo kita pulang. Hiks hiks hiks, katanya akang mau nikah sama Eneng. He he he calon suamiku pulang, hore...."


Bimo langsung bersembunyi di belakang tubuh Doni karena ketakutan.

__ADS_1


"Hah suara siapa tuh pak?" Tanya Tina penasaran.


Doni pun menatap Bimo. "Aku tak tahu Don, tiba-tiba tuh perempuan gila peluk aku dan ajak aku nikah. Ya aku kan takut jadi aku buru-buru kabur," jelas Bimo dengan berbisik membuat Doni terkekeh kecil.


"Masa kamu yang biasanya garang dan galaknya minta ampun bisa takut sih," ledek Doni dengan suara kecil membuat Bimo mendengus kesal.


"Kalau suruh hadapi preman 10 mah aku tak takut, lha ini..." Kata Bimo bergidik ngeri.


"Pfftttt...." Doni menahan tawanya.


"Kalau kamu tidak takut, kamu saja yang keluar hadapi tuh perempuan gila," tantang Bimo dengan cepat.


"Itu si Marni," jawab ibu membuat Tina kaget.


"Marni yang dulu sering main sama Nana, kok bisa Bu?" Tanya Tina penasaran.


"Ya bisa nak, la calon suaminya itu kabur bawa uang penjualan sawah. Karena Marni tak terima dia gagal nikah jadilah seperti itu," jelas bapak.


"Kalian istirahat saja, biar bapak yang usir Marni," kata ibu membuat Bimo bernafas lega.


Tina pun menatap sang ibu binggung langsung mendekati ibunya. "Bu, bang Bimo tidur di mana?" Tanya Tina dengan berbisik.


"Kamu suruh istirahat di kamar adik kamu saja, noh kamar sih Adit kan lagi kosong, tuh anak belum pulang sekolah," jelas sang ibu.


"He he he he, baru ingat," jawab Tina cengengesan.


"Ya sudah kamu bersihin dulu sana," kata ibunya itu.


Tina pun bergegas membersihkan kamar adiknya itu.


Sedangkan ibunya menata barang-barang pemberian menantunya itu, sang ibu tak menyangka menantunya itu membelikan begitu banyak barang. Ibu pun membagi sedikit oleh-oleh tadi seperti cemilan dan kue itu menjadi beberapa potongan dan memasukkannya ke dalam kantong kresek kecil untuk di bagikan kepada tetangga.


Tak lupa ibu juga menyimpan kue yang masih tersisa banyak itu ke dalam kulkas dan menata minuman kedalam kulkas agar tamu-tamunya itu bisa meminumnya dalam keadaan dingin.


Sang ibu di buat takjub makanan-makanan ini tidak pernah dilihat di desa.


Ibu juga mencoba 2 baju yang di berikan oleh menantunya itu dengan senang karena begitu bagus dan nyaman di pakai.


"Ah baik banget sih menantuku," gumamnya pelan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2