
Esok hari...
Doni menatap ke arah para bodyguard yang berlatih di halaman belakang.
Doni sedari tadi menatap ke arah satu pria yang membuat Doni tak nyaman entah itu dari tatapan matanya maupun dari gerak-geriknya.
"Kamu sedang memperhatikan apa? Kenapa begitu serius?" Tanya Bimo yang sudah berada di dekat Doni.
"Aku sedang melihat pria yang bernama Tomi itu, entah ini cuma pikiranku atau firasat ku kalau pria itu menyembunyikan sesuatu. Pria itu terlihat begitu misterius, bisakah kamu membantu ku menyelidiki dia karena kamu yang setiap hari melatih mereka semua," kata Doni membuat Bimo langsung menatap pria yang bernama Tomi dengan serius.
Karena Bimo tahu firasat Doni tak pernah meleset selama ini.
"Kamu tenang saja, biar semua ini aku yang mengurusnya," jawab Bimo meyakinkan Doni agar Doni tidak terlalu khawatir.
"Ya sudah aku mau menjemput si kembar dulu," pamit Doni berlalu pergi meninggalkan Bimo sendirian.
"Semuanya lari 5 putaran," perintah Bimo dengan suara keras dan nada tegas kepada bodyguard di bawah pimpinannya saat ini.
"Siap laksanakan," jawab mereka serempak setelah itu mereka pun berlari sesuai dengan arahan dari Bimo.
.
.
Doni pun bergegas menjemput si kembar.
Sampailah mobil Doni di depan pintu gerbang sekolah, untung saja Doni tepat waktu saat mereka bertiga baru saja keluar dari gerbang sekolah. Doni hanya bisa bersyukur di dalam hati nya saat ini.
Doni tidaklah sendiri, dia membawa supir dan Doni hanya duduk di samping supir saja memastikan keselamatan si kembar baik-baik saja.
Doni memakai penyamaran palsu, ya Doni sengaja memakai topeng wajah agar si kembar tidak menyadari kalau itu Doni. Topeng itu terlihat seperti wajah asli dan Doni pun memakai kacamata hitam agar penyamarannya lebih meyakinkan.
Doni sedari memilih diam saja, sedangkan si kembar menyangka itu adalah bodyguard yang baru karena wajahnya tak begitu familiar jadi kedua bocah itu tak banyak bicara ataupun bertanya membuat Doni tersenyum tipis. Andai mereka tahu kalau itu Doni pasti mulut bawel Aurel tak akan berhenti berkicau.
"Mbak... Aurel haus," kata Aurel kepada pengasuhnya itu pun membuyarkan lamunan Doni.
__ADS_1
Doni melihat perempuan itu merogoh tas dan mencari ke seluruh tempat yang ada di dalam mobil namun minuman yang di minta Aurel tak ada.
Perempuan itu meminta berhenti di salah satu minimarket, sesuai dengan permintaan dari Abrian yang juga merasa haus. Aurel juga memesan cemilan dengan riang membuat Doni mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Aurel itu.
Doni memilih terdiam di mobil tak ingin masuk karena bagi Doni keselamatan si kembar adalah nomor 1 jadi dia tak ingin meninggalkan si kembar hanya dengan Supir saja, Doni tak ingin mengambil resiko.
Entah apa yang di beli wanita itu membuat Doni sedikit kesal karena harus menunggu cukup lama.
"Minimarket ini tidak begitu ramai, apa yang membuat dia begitu lama," gumamnya sambil menunggu di mobil.
Doni menatap mbak Tina dengan pandangan aneh saat dia baru saja keluar dari minimarket dan memasuki mobil.
Untuk mengurangi rasa kesal menunggu tadi Doni pun mengambil headset dan memutar lagu yang membuatnya tenang, Doni memilih melakukan itu agar mulutnya tidak bicara pedas kepada perempuan di belakangnya saat ini sehingga penyamarannya tidak akan terbongkar.
Tringk....
Tringk...
Bunyi pesan itu menganggu Doni, membuat Doni harus melepaskan headset yang tadi bertengger di telinganya itu.
Ternyata itu adalah sebuah pesan masuk dari Hendra, Doni yang awalnya malas dan ogah-ogahan pun membuka pesan yang datang beruntun itu. Mata Doni membulat sempurna saat melihat sebuah foto yang sepertinya baru di ambil. Doni mengepalkan tangannya, dia merasa kecolongan padahal foto itu sepertinya diambil di minimarket yang baru saja.
Mobil pun melaju dengan cepat menuju ke arah mansion.
Sesampainya di mansion, Doni pun ikut turun masuk ke dalam mansion melalui pintu yang berbeda untuk menemui tuan mudanya.
Saat kembali dari ruang kerja tuan muda Abraham , Doni tak sengaja mendengar nyonya nya itu memberhentikan pengasuh si kembar dengan alasan harus ikut kembali ke rumah lama Arin dan merawat nenek tua. Sudut bibir Doni terangkat, ternyata nyonya nya itu bertindak cepat sebelum wanita itu benar-benar menghancurkan rumah tangga nya dan tuan muda. Doni acungi jempol atas tindakan nyonya mudanya itu. Doni pun bergegas pergi sebelum ketahuan.
SORE HARI....
Doni meminta beberapa anak buahnya bertugas menjaga tuan mudanya, mereka di minta Doni berdiri tepat di luar ruangan kerja sang tuan muda, entah kenapa Doni mempunyai firasat tak enak.
Benar saja, dia, Bimo dan kedua orang di minta tuan mudanya untuk masuk dan memaksa mbak Tina meminum kopi buatannya sendiri.
Perempuan itu menolak sehingga Bimo membentak dan memaksanya untuk meminum.
__ADS_1
Doni melihat tuan mudanya begitu murka, entah apa yang akan terjadi dengan perempuan di depannya saat ini. Doni tak bisa menjamin nasib perempuan ini, semua ini tergantung kemurahan hati tuan mudanya.
Tiba-tiba tuan mudanya itu bertanya kepada Doni, apakah dia belum menikah dan itu jujur membuat Doni binggung.
Tampilan Doni saat ini mungkin terlihat menyeramkan apalagi dia baru saja mencukur habis rambutnya membuat kepalanya terlihat plontos.
Mbak Tina dengan keras menolak usulan tuan mudanya saat bilang kalau dia memberikan dirinya kepada pria yang sering berkata pedas kepadanya.
Semuanya menyergit heran tak tahu apa maksud tuan mudanya, Bimo pun bertanya langsung kepada tuan mudanya itu karena merasa penasaran dengan ucapan tuan mudanya.
Namun jawaban dari tuan mudanya justru membuat mereka melotot, bagaimana bisa perempuan itu mempunya keberanian memasukkan obat ke dalam minuman tuan mudanya itu.
Apalagi perintah tuan mudanya itu saat mereka di minta segera mencari penghulu. Doni menatap mbak Tina dengan kasihan apalagi reaksi obat itu sepertinya sudah bekerja. Terbukti wanita niti mulai kepanasan seperti cacing.
"Kamu bawa dia keluar, terserah mau kamu apakan dia, nantinya dia akan jadi istri mu," kata tuan muda Abraham kepada Doni.
Doni pun senang-senang saja karena dia akan menikah dengan wanita cantik, ya meskipun kadang-kadang mereka sering bertengkar tanpa ada yang tahu.
Di paviliun belakang.
Mbak Tina di ikat di masukkan ke dalam kamar milik Doni.
Tak berselang lama Penghulu pun datang, Doni pun resmi menikah dengan mbak Tina.
Beberapa temannya pun memberi selamat kepadanya.
Doni pun masuk kedalam kamar, meski awalnya perempuan ini menolak namun karena obat itu sudah beraksi jadi mbak Tina pun tak punya pilihan lain.
"Panas...."
"Jangan mendekat..."
"Ahhhh....." jeritan itu pun keluar dari mulut mbak Tina. Akhirnya Doni maupun mbak Tina resmi menjadi suami istri.
Mendengar suara jeritan, membuat beberapa temannya yang berada di luar pun tertawa. bahagia.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha, ayo kita tinggalkan tempat ini," kata Bimo mengajak semuanya pergi.
Bersambung.....