Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
6. Persahabatan


__ADS_3

Abraham melangkah dengan pelan, dia menatap sendu ke arah ranjang di mana Doni saat ini berada, matanya menyorot Doni penuh kesedihan. Bibir Abraham tersenyum namun bukan senyum kebahagiaan tetapi senyum kesedihan saat matanya tertuju pada wajah Doni yang saat ini di balut perban. Namun Abraham merasa lega karena Doni sudah siuman.


"Tu-an muda Abraham," lirih Doni menatap ke arah Abraham, Doni merasa tak enak karena tuan mudanya melihat dirinya sedang terpuruk seperti tadi.


"Jangan bergerak, kamu tidur saja," cegah Abraham saat tahu Doni akan bangun menyambut dirinya datang.


"Apakah kamu sudah baik-baik saja, atau ada yang masih sakit?" Tanya Abraham dengan cemas saat ini.


Doni tersenyum ternyata tuan mudanya itu mengkhawatirkan dirinya, Doni takut tuan mudanya itu melupakan dirinya saat dia tak melihat keberadaannya di dalam ruangan ini tadi.


Ya rasa takut itu semakin menjadi saat dia tahu kalau wajahnya tak akan bisa seperti semula, mungkin terlihat mengerikan dan membuat tuan mudanya itu membuang dirinya mengingat tugas bodyguard akan selalu menemani tuan nya selama tuan nya itu menginginkannya, jadi kalau dia terlihat mengerikan seperti ini apakah tuan nya mau memperkerjakan dirinya lagi, tentu tidak jawabannya. Namun semua rasa takut itupun sirna saat senyum kesedihan sang tuan itu muncul di wajah tuan mudanya.


"Terima kasih karena kamu dengan berani menerjang api dan menyelamatkan ku, mungkin kalau tidak ada kamu?? Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan ku," saat mengucapkan kata-kata seperti itu terdapat rasa sedih saat melihat wajah tampan Doni di penuhi dengan perban, Abraham tahu wajah itu tak akan bisa kembali pulih seperti sedia kala tetapi Abraham berharap luka itu tidak terlalu serius. Abraham tak akan sanggup melihat keterpurukan Doni saat ini.


" Tuan muda tidak perlu berterima kasih karena tugas kami adalah melindungi tuan muda," jelas Doni dengan penuh ketulusan.


"Maaf tuan, saya ijin untuk menjaga Doni," kata Bimo menyela obrolan keduanya.


"Hmmm..... Kamu tidak perlu khawatir, kamu bebas menjaga Doni sampai dia sembuh," jawab Abraham membuat Bimo merasa lega, Bimo tahu kalau tuan mudanya itu begitu baik.


"Kamu istirahat saja, aku akan ke ruangan dokter untuk menanyakan kondisi mu," kata Abraham berlalu pergi menuju ke luar.


"Tetapi tuan....." Ucap Doni terhenti kala Abraham tidak merespon, dia terus berjalan menuju keruangan dokter yang menangani Doni.


Doni menatap tuan muda nya itu dengan pandangan rumit.


"Sudah jangan banyak berfikir, kamu istirahat saja. Atau kamu lapar?" Tanya Bimo.


"Tidak...." Jawab Doni.


"Ha kamu tidak lapar? Apa karena cairan infus ini kamu tidak merasa lapar, padahal aku sudah lapar," jawab Bimo dengan polosnya membuat Doni mengelengkan kepalanya.


Bisa-bisa Bimo berfikir demikian, lagian bagaimana Doni memikirkan makanan karena sejak tahu kemungkinan wajahnya akan cacat atau mengerikan nantinya membuat selera makan Doni hilang.


Tiba-tiba terlintas nama seseorang di benak Doni saat ini.

__ADS_1


"Rani...."


"Apakah Rani masih menyukainya nanti atau dia akan mengejek dan takut kepada diri ku nanti kalau wajah ku benar-benar cacat," batin Doni. Memikirkan hal itu semakin membuat hatinya berdenyut nyeri merasakan sesak yang tak terkira.


Rani adalah perempuan yang cantik, anak dari kepala pelayan di sana. Saat ini dia sedang melanjutkan kuliahnya di salah satu fakultas ternama sedangkan dia ...... Ha ha ha ha ha, perbedaan yang cukup jauh. Doni menertawakan nasibnya yang begitu miris, hidup sebatang kara dengan keterbatasan ekonomi.


Doni menghela nafas berat, dia akan menerima kalau wanita yang baru dekat dengannya itu menjauhinya. Ya semua wanita selalu memikirkan fisik itulah yang Doni pikirkan saat ini.


Apalagi keduanya belum dalam tahap pacaran, hanya sekedar dekat dan sering mengobrol membicarakan hal-hal yang tak penting.


"Don...."


"Don...."


"Doni...."


"Hei Doni...."


"Ck dasar Doni budeg," teriak Bimo dengan kesal pasalnya dia sedari tadi memanggil temannya itu namun Doni tak menyahut membuat Bimo kesal di buatnya.


Doni tersentak kaget, lamunannya pun buyar seketika saat mendengar Bimo mengatai dirinya budeg.


"He he he he he he, dari tadi di panggil-panggil tidak menyahut, apalagi kalau bukan budeg," jawab Bimo dengan enteng membuat Doni memilih memejamkan matanya tidur, dia malas meladeni mulut lemes sahabatnya itu.


"Hei malah tidur, dasar Doni," kesal Bimo.


Ceklek.....


Doni memilih diam masih memejamkan matanya namun Doni masih menyimak pembicaraan di ruangan itu.


"Nih makanan buat kamu," kata Reza menyodorkan bungkusan kepada Bimo.


"Oh ya bagaimana keadaan Doni? Apa dia sudah sadar?" Tanya Gre yang baru masuk sambil melemparkan botol minuman dingin ke arah Bimo.


"Hei sialan kamu...." Kata Bimo yang masih kaget, untung dia segera menangkap minuman itu kalau tidak mungkin akan jatuh dan berhamburan di lantai.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ha ha, cepat juga ya kamu," ledek Gre.


Sedangkan Reza mengelengkan kepalanya, melihat kelakuan Gre yang suka menjahili Bimo.


"Hei hei sudah jangan buat keributan di sini, ingat Doni masih belum sadar," sela Reza yang jengah melihat perdebatan keduanya kalau tidak di hentikan bisa sampai besok pagi mereka berdebat.


"Siapa bilang Doni belum sadar," sahut Bimo membuat Gre dan Reza menatap Bimo dengan penasaran.


"Ja-di Doni sudah sadar," tanya Reza.


"Iya," jawab Bimo enteng.


Keduanya pun berlari menuju ranjang Doni. "Don kamu sudah sadar?" Tanya Reza mengoyangkan lengan Doni yang tertidur.


"Ck berisik," grutu Doni yang membuka matanya melihat keduanya.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar," kata Reza dengan senang memeluk tubuh Doni.


"Hei hei lepaskan aku. Kalian mau membunuhku ya," teriak Doni kesal, keduanya memeluk dirinya dengan membuat Doni merasa sesak.


Keduanya pun sadar dan melepaskan Doni.


Sedangkan Bimo tak menggubris, dia sedang duduk asyik di pojokan menikmati makanan yang di bawakan oleh Reza tadi.


"Sorry bro," jawab Gre membuat Doni berdecak.


Namun di dalam hatinya Doni tersenyum, dia masih punya teman-teman yang perduli dengan dirinya saat ini. Doni bersyukur akan hal itu. Doni berpura-pura kesal melihat kelakuan mereka.


"Kalian dari tadi berisik sekali, bagaimana aku bisa tidur," kata Doni membuat keduanya (Gre dan Reza) saling berpandangan. Namun sesaat keduanya pun tersenyum.


"Jadi kamu dari tadi pura-pura tidur," kata Reza berkacak pinggang, mencoba marah dengan menampakkan wajah kesalnya namun di dalam hati dia bersyukur kalau temannya itu sudah sadar.


"Bukan pura-pura tetapi aku tak bisa tidur gara-gara suara cempreng kalian," sahut Doni dengan enteng.


"Oh ya kamu mau makan," tawar Gre.

__ADS_1


"Aku belum lapar," jawab Doni membuat Gre mengerti.


Bersambung....


__ADS_2