Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
20. Ketiduran....


__ADS_3

Tap tap tap tap tap....


"Dari mana saja kamu?" Tanya seseorang dengan suara tegas menatap pria yang sedang berjalan dengan pelan-pelan.


"Eh...." Doni menoleh dengan cepat, dia tersentak kaget saat mendapati sang tuan muda tengah berada di belakangnya dan menatapnya penuh selidik.


"Dari mana kamu jam segini baru kembali?" Tanya Abraham saat melihat sudah menunjukkan pukul 10.30.


"Saya baru saja bertemu dengan teman saya tuan muda," jawab Doni penuh keyakinan tanpa rasa gugup karena Doni tak sepenuhnya berbohong karena dia memang tadi bertemu dengan Hans.


Sedangkan Abraham saat ini tengah menatapnya penuh dengan tatapan selidik, mencoba mencari kebohongan di mata Doni saat ini namun mata itu tak menunjukkan kebohongan ataupun rasa gugup sama sekali.


Abraham sempat merasa Doni seperti menyembunyikan sesuatu darinya karena akhir-akhir ini Abraham tahu kalau Doni sering pergi pagi-pagi buta. Abraham tahu saat sekali melihat Doni keluar setelah itu dia sering mengecek cctv gerbang tiap pagi dan benar saja dia melihat Doni keluar menggunakan mobil yang di berikan Abraham untuknya (Doni).


"Ya sudah. Oh ya kenapa akhir-akhir ini kamu sering menghilang di pagi hari?" Tanya Abraham membuat Doni tersenyum tipis ternyata tuan mudanya itu sudah tahu kalau dirinya sering pergi pagi hari.


"Saya bertemu dengan teman saya sekalian olah raga bersama," jawab Doni membuat Abraham harus mengangguk karena jawaban Doni cukup masuk akal.


"Ya sudah kembalilah nanti jangan lupa jam 12 kamu harus antar aku ke tempat biasanya," kata Abraham.


"Baik tuan muda."


Setelah berbicara seperti itu, Doni pun kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Abraham pun berbalik menuju ke ruangan perpustakaan untuk melanjutkan tugasnya yang belum dia selesaikan sepenuhnya.


"Dia semakin aneh, entah apa yang kamu sembunyikan," guman Abraham sebelum pergi menatap punggung Doni yang menjauh.


Sedangkan Doni juga menghela nafas panjang, dia merasa lega karena sang tuan muda tak bertanya lebih banyak lagi.


.

__ADS_1


.


"Hai Don kenapa kamu melamun?" Tanya Bimo menepuk pelan pundak Doni.


"Tidak apa-apa, tadi aku berpapasan dengan tuan muda Abraham sepertinya dia mencurigai ku," jelas Doni menjawab sesuai dengan yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Kok bisa, terus kamu bilang sejujurnya?" Tanya Bimo dengan nada begitu penasaran.


"Aku cuma bilang kalau aku bertemu dengan teman ku. Itu saja dan untungnya tuan muda percaya dan tak bertanya apapun lagi kepada ku," jawab Doni sesuai dengan yang di katakan tadi.


"Ya semoga tuan muda tidak curiga lagi," kata Bimo yang juga ikut merasa lega mendengarnya.


"Oh ya bagaimana? Apa kamu tadi mendapatkan sesuatu?" Tanya Bimo dengan cepat tangannya menutup pintu dan menyalakan peredam suara agar tidak ada yang menguping mengingat tuan mudanya sedikit curiga dengan Doni tadi.


Doni tersenyum, ternyata Bimo semakin lama semakin pintar tidak seperti dulu sering ceroboh. Ya meskipun sesekali dia bersikap begitu menyebalkan.


Doni pun duduk di atas ranjang sambil mengambil botol yang berisi air mineral dan meneguknya sampai tandas tak tersisa.


Doni menerawang mengingat semua obrolan singkat dengan Hans.


"Apa motif perempuan itu sampai harus menyamar menjadi miskin? Apa kamu sudah selidiki semuanya, takutnya mereka ada musuh keluarga tuan muda Abraham dan sengaja menyamar untuk mendekati tuan muda," kata Bimo menjelaskan semua isi hatinya, ketakutannya saat ini mengingat keluarga tuan mudanya terkenal dengan berbagai macam usaha dan perusahaannya pun bukan satu melainkan ada beberapa yang tersebar di berbagai negara.


"Tidak, sepertinya dia bukan musuh keluarga tuan muda karena aku sudah menyelidikinya dan tak menemukan apa motif wanita itu dan itu yang membuatku semakin binggung," jelas Doni mendesah lelah. Dia meremas ujung rambutnya frustasi. Baru kali ini di(Doni) di buat pusing karena sulit mendapatkan informasi yang dia butuhkan, apalagi semua data tentang perempuan itu tidak dapat di akses sehingga dia tak tahu dimana dulu wanita itu bersekolah, andai Doni tahu tentu dia dapat mengorek informasi lebih dalam lagi.


"Mungkin besok kita harus bergantian mengingat tuan muda terlihat begitu curiga terhadap ku," pinta Doni agar besok Bimo lah yang menyelidikinya sendiri.


"Kamu tenang saja, oh ya terus tentang pria itu bagaimana?" Tanya Bimo.


"Entahlah dari informasi yang di sampaikan oleh anak buahku. Pria itu biasa saja tidak ada yang mencurigakan," jelas Doni.


"Ya sudah kamu istirahat saja, mungkin kamu lelah sedari tadi kamu berkendara," kata Bimo setelah itu dia berlalu meninggalkan Doni sendirian di kamar.

__ADS_1


Doni pun memejamkan matanya, bukannya lelah fisik yang dia rasakan namun lelah pikiran karena sedari tadi dia hanya bisa menduga-duga motif dan tujuan wanita itu tanpa bisa tahu informasi yang lebih lagi untuk mengungkapkan kebenaran.


PUKUL 12 TEPAT...


Seperti yang di katakan oleh Abraham tadi. Maka dari itu Abraham sudah berdiri tepat di depan kamar Doni karena Doni tak kunjung datang menghampirinya.


Ceklek...


"Lho tuan muda kenapa berdiri di depan pintu?" Tanya Bimo yang baru saja membuka pintu terkejut mendapati sang tuan muda tengah berdiri di depan pintu.


"Mana Doni?" Tanya Abraham, dia clingak-clinguk namun tak menemukan keberadaan Doni di belakang Bimo.


"Doni masih tidur," jawab Bimo heran.


Abraham menepuk keningnya pelan. " Bagaimana dia masih tidur, bukannya tadi aku sudah bilang ke Doni kalau aku mau pergi ke tempat biasanya jam 12 dan dia sudah menangguk setuju untuk mengantarku," kelas Abraham sambil menghela nafas panjang. Bagaimana tidak Doni bisa ketiduran tidak seperti biasanya.


"Tuan muda tunggu sebentar, biar aku bangunkan Doni,'' pinta Bimo.


"Jangan...." Teriak Abraham melarang Bimo membangunkan Doni.


"Kenapa tuan muda? Bukannya anda minta di antar Doni?" Tanya Bimo dengan heran.


"Biarkan saja, sepertinya dia kelelahan sampai belum bangun."


"Kamu saja yang antar aku," pinta Tuan Muda Abraham.


"Bagaimana bisa, tuan muda kan tahu kalau saja tidak bisa mengemudikan mobil," kata Bimo dengan heran.


"Aku cuma minta kamu menemani ku, mengawal ku bukan memintamu menjadi supir. Apa kamu lupa kalau di sini ada 5 supir pribadi, cepat kamu bersiap saya tunggu 5 menit di depan," kata Abraham dengan tajam.


"Baik tuan muda."

__ADS_1


Setelah itu Abraham pergi dan Bimo pun bergegas pergi masuk dan berganti baju mengingat waktu yang di berikan tuan mudanya hanya 5 menit saja.


Bersambung....


__ADS_2