Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
44. Gugup


__ADS_3

Doni pun bergegas memakai maskernya kembali, Doni tak ingin keduanya mertuanya syok saat melihat wajah menantunya yang mengerikan sepertinya seperti monster itu. Doni ingin pelan-pelan memperlihatkan wajahnya agar mereka tak kaget dan mau menerimanya.


"Ayo," ajak Tina turun dari mobil dengan wajah sumringah, tangannya menarik Doni agar Doni mengikutinya. Tina tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Ehh tunggu dulu," protes Doni saat tangannya di tarik paksa oleh sang istri.


"Kenapa?" Tanya sang istri mengerutkan keningnya binggung.


"Kamu saja yang duluan, aku mau menurunkan barang-barang kita dulu. Kasihan Bimo nanti dia marah kalau tak ada yang membantunya," sahut Doni memberikan penjelasan.


Padahal Doni setengah mati menahan rasa gugup. Doni harap-harap cemas takut di usir karena tak sesuai harapan sebagai menantu makanya Doni sudah bersiap dengan sebegitu banyaknya barang oleh-oleh. Ya anggap saja sebagai sogokan itulah pikir Doni tadi pagi sebelum menyiapkan semuanya.


"Oh iya ya, he he aku lupa," jawab Tina melirik Bimo yang menatapnya tajam sekan tahu tatapan itu seperti ancaman membuat Tina bergidik ngeri dan segera turun dari mobil. Tina bergegas berlari menuju ke arah rumahnya.


Sedangkan di depan ada seorang pria paruh baya yang sedari tadi menatap mobil yang berhenti di depannya itu dengan raut heran bercampur binggung, tidak biasanya mobil berhenti di depan rumahnya.


"Apa mereka ingin bertanya alamat," guman pria paruh baya itu.


"Bapak....." Teriak seseorang yang suaranya tak asing di telinga.


"Itu seperti suara anak ku? Tetapi tidak mungkin dia naik mobil bagus seperti itu," gumannya masih menyangkal semuanya.


"Bapak.....! Ini Nana anak bapak," kata Tina saat dia sudah dekat dengan pria paruh baya yang dipanggilnya dengan sebutan bapak itu.


"Nana anak ku," pria itu pun menghambur memeluk sang anak yang sudah 3 tahun tak bertemu.


Doni maupun Bimo menyergit heran saat mendengar orang tua Tina memanggilnya dengan sebutan Nana bukan Tina.


"Hiks hiks hiks, bapak..."


"Kamu pakai mobil siapa na? Bapak kira tadi orang nyasar," tanya bapak.


"Nanti Nana ceritain di dalam," kata Tina menenangkan bapaknya.

__ADS_1


Bapak pun mengangguk apalagi dia melirik kedua pria yang turun dari mobil yang sama di tumpangi anaknya itu dengan tatapan curiga.


Doni dan Bimo mendekat ke arah mereka dengan membawa semua barang-barang yang ada di mobil tadi. Bimo tak menyangka Doni membawa begitu banyak barang sebagai oleh-oleh.


"Oh iya sampai lupa, ayo kita masuk," ajak Tina kepada mereka berdua.


Tina juga menarik Bapaknya masuk ke dalam rumah.


"Ayo mas Doni, bang Bimo duduk dulu," kata Tina mempersilahkan mereka berdua duduk sedangkan bapak masih di buat binggung.


Doni dan Bimo pun duduk di kursi ruang tamu, Bimo mengipasi tubuhnya dengan kedua tangan apalagi cuaca saat ini sedang terik mengingat saat ini sudah pukul 2 siang hari.


"Don, haus," bisik Bimo.


"Sabar, jangan malu-maluin," jawab Doni melirik tajam membuat Bimo menghela nafas kasar.


Sedangkan bapak mengamati di depan pintu masuk.


Belum puas memandangi mereka berdua, bapak sudah di tarik anaknya masuk kedalam lebih tepatnya sekarang keduanya berada di dapur.


"Bentar ya, Nana mau ajak bapak masuk sebentar," kata Tina membawa bapaknya masuk daripada di luar sana, bertiga bisa bahaya.


Doni dan Bimo saling melirik keduanya bertanya dengan bahasa isyarat mata.


Mungkin kalau di terjemahkan mereka berdua saling bertanya ada apa dengan pria tua itu dari tadi menatap mereka tak berkedip. Bimo menahan rasa jengkel ingin mencongkel mata pria tua itu yang membuatnya risih, untung saja pria tua itu adalah mertua Doni jadi Bimo sedari tadi hanya mengelus dada untuk bersabar.


"Bapak, ibu di mana?" Tanya Tina saat tak menemukan keberadaan perempuan yang melahirkannya itu.


"Ibu mu sedang ke toko membeli kopi," jelas sang bapak kepada anaknya.


"Ohh pantas ku cari-cari dari tadi tak ada," kata Tina.


"Ayo pak kita keluar, kasihan mereka berdua kita tinggal sendiri," ajak Tina sambil membawa 2 gelas kemasan minuman dingin yang baru diambil dari kulkas. Bukan minuman manis cuma air mineral saja.

__ADS_1


"Bentar nak, bapak mau tanya sebenarnya siapa suamimu itu?" Tanya bapak dengan raut penasaran namun belum bibir tuna mengucapkan jawaban, sang bapak pun menyela lagi.


"Ah bapak tahu pasti yang tampan tuh kan, yang rambutnya cepak," sahut bapak dengan senang namun Tina yang mendengarnya meringis dengan ucapan bapaknya ini.


Bagaimana kalau bapaknya tahu ternyata Doni adalah suaminya, apakah mereka berdua nanti mau menerima Doni sebagai menantunya. Pikiran buruk itu tiba-tiba datang menghantui Tina saat ini.


"Em emmm.... Ah nanti bapak juga tahu, ayo kita temui mereka dulu baru Nana jelaskan semuanya," bujuk Tina agar sang bapak menurut ikut keluar tak bertanya-tanya macam-macam.


Di sinilah mereka semua...


Di ruang tamu.


"Ayo mas Doni, bang Bimo di minum. Maaf cuma ada air putih saja. Gula sama kopinya abis," kata Tina meminta keduanya meminum air yang ada di gelas kemasan itu.


"Tidak apa-apa Tin, yang penting tidak haus," jawab Bimo dengan cepat menusuk minuman tadi dengan sedotan.


"Kok panggil Tin saja, padahal mereka suami istri," batin sang bapak semakin kebingungan sendiri.


"Ehemm...." Doni berdehem membuat bapak dan istrinya itu menoleh.


"Saya permisi dulu pak mau cari angin," kata Bimo dengan cepat pamit karena tahu ini bukan urusannya.


Setelah Bimo keluar, Doni pun mulai berbicara.


"Perkenalkan pak saya Doni, suaminya Tina," kata Doni dengan tegas, dia langsung membuka masker miliknya.


Bapak terkejut melihat wajah pria yang mengaku sebagai suami anaknya itu, bapak langsung menoleh kepada sang anak memastikan yang di ucapkan pria itu benar atau hanya kebohongan semata.


"Iya pak, mas Doni ini suamiku. Memang wajahnya tak tampan tetapi mas Doni pria yang baik dan memperlakukan Nana dengan lembut penuh kasih sayang," kata Tina mencoba membantu Doni.


Tina mendekat ke arah bapaknya itu. "Pak wajah mas Doni itu adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai bodyguard yang bertugas melindungi tuan muda, mas Doni rela menyelamatkan nyawa tuan muda meskipun dengan taruhan nyawanya," jelas Tina panjang lebar agar bapaknya itu mengerti dan mau menerima suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2