Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
29. Wanita bayaran untuk tuan muda


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan pun berganti dan tahun juga ikut berganti, tak terasa sudah beberapa tahun Doni setia mengikuti sang tuan muda, tugas utama Doni masihlah sama mengawal sang tuan muda dengan begitu banyak kegiatan yang menguras tenaga dan pikirannya tentunya.


Untuk itu tubuh Doni juga harus semakin kuat, tubuhnya semakin berotot dengan olahraga fisik yang tiap hari dia lakukan agar dia tetap fit selama mengawal sang tuan muda kemana pun dia pergi, Doni masih sering memakai masker untuk dan kaca mata hitam namun itu semakin menambah kesan keren di mata wanita, bahkan beberapa wanita sering meliriknya karena kagum apalagi kulit putih Doni dengan tubuh tegap tinggi itu begitu enak dipandang. Doni bersikap cuek karena Doni yakin kalau mereka tahu wajahnya pasti mereka akan kabur secepat mungkin.


Bimo dan dia sudah jarang sekali bertemu karena Doni sibuk mengikuti sang tuan muda kesana kemari. Mark di tugaskan untuk membantu dia dan Hendra asisten baru sang tuan muda untuk mengurus perusahaan. Sedangkan Tito dia sudah pensiun dan Abraham memberikan dirinya satu restoran untuk dia kelola sendiri, namun Tito tak pernah melepaskan Abraham sendiri, dia masih membantu sang tuan muda bila di perlukan.


Hari-hari Abraham dilewati dengan kerja keras untuk memulihkan kondisi perusahaan paska di tinggalkan oleh kedua orang tuanya. Dengan penuh percaya diri Abraham merombak semuanya di bantu Mark, Doni, Bimo, Tito dan Hendra sehari asisten pribadi Abraham.


Setahun perusahaan itu semakin berkembang pesat di bawah pimpinan Abraham, dia juga membuka cabang baru di negara tetangga. Nama Abraham semakin di kenal luas di kalangan pebisnis karena kesuksesan dirinya dalam menjalankan usahanya itu.


Namanya tak diragukan lagi, bahkan banyak perempuan yang mengidolakan sang tuan muda dan ada beberapa koleganya yang menawarkan anak gadisnya untuk mendampingi sang tuan muda.


Semua itu Abraham tolak karena sosok perempuan cantik yang setia menemani dirinya saat dia terpuruk atas kepergian kedua orang tuanya. Sosok Aruna mampu membuat Abraham kembali seperti dulu lagi.


Namun semua itu sirna dalam sekejap...


Sang tuan muda kini tengah dilanda rasa sedih yang mendalam.


Hatinya seakan hilang semenjak kepergian sang istri yang tak lain Aruna, ya Abraham sudah menikahi gadis cantik itu 2 tahun lali setelah sang tuan muda menyelesaikan kuliahnya. Satu tahun pernikahan itu berjalan dengan baik namun siapa sangka Aruna tak di sangka-sangka mengidap penyakit dan semua itu dia sembunyikan dari Abraham sampai akhirnya Aruna tak bisa menahan lagi dan di larikan ke rumah sakit. Dari situlah Abraham baru mengetahui sang istri ternyata sakit parah dan semua seakan menjadi sia-sia saat Abraham mengajaknya untuk keluar negeri berobat karena penyakit itu sudah parah dan Aruna pun menghembuskan nafas terakhirnya. Abraham begitu terpukul karena kehilangan istrinya itu sampai sekarang.


Sang tuan muda semakin dingin di buatnya bahkan Doni juga di buat kewalahan saat di minta sang tuan muda untuk menangani beberapa wanita yang mencoba mencari perhatian dari sang tuan mudanya. Apalagi gelar yang di berikan wanita itu membuat Doni mengelengkan kepalanya, bagaimana tidak mereka menyebut tuan mudanya itu dengan sebutan hot duda.


.


.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Tanya Doni kepada Hendra yang sedang wira-wiri tak jelas sambil menatap ponselnya.


"He he he he he, aku sedang menunggu seseorang," jawab Hendra santai.


Hendra pun pergi namun di jalan dia bertemu dengan wanita cantik namun masih muda dan warna pakaian itu sama dengan ciri-ciri perempuan bayaran yang dia pesan untuk tuan mudanya.


Hendra pun menarik tangan perempuan tadi dan memaksa masuk ke kamar hotel yang di tempati tuan mudanya itu, meskipun Hendra sedikit ragu karena perempuan itu meronta-ronta mencoba melawan dan ingin lari. Namun Handra yakin kalau perempuan tadi memang dia pesan sesuai dengan waktu yang di janjikan.


.


.


"Fyuh akhirnya..." Kata Hendra yang baru duduk di dekat Doni dan menyeruput kopi yang baru di pesan Doni.


"Kamu pesan aja lagi jangan pelit," jawab Hendra.


Dengan kesal Doni memesan kopi lagi.


Doni menatap Hendra curiga.


"Ck pasti kamu memanggil wanita bayaran untuk menghibur tuan muda kan. Apa kamu tidak lelah karena sering di marahi tuan muda karena melakukan itu semua," grutu Doni yang tak habis pikir dengan pikiran pria di depannya saat ini.


"Ya siapa tahu tuan muda tergoda," jawab Hendra santai.


"Ya aku bisa pastikan kalau perempuan itu akan di tendang dari kamar sang tuan muda, kamu tahu kan tuan muda tak bisa melupakan almarhum istrinya itu," jelas Doni.

__ADS_1


"Ya kalau tuan muda menolak, kamu saja Doni yang mencicipinya," kata Hendra membuat Doni bergidik ngeri.


"Ck meskipun tampang ku begini tetapi aku tidak suka celap-celup seperti kamu. Aku masih ori tahu," kata Doni menggerutu kesal menatap Hendra dengan sinis.


"Kamu kira aku suka begitu, gini-gini aku juga masih ori," ketus Hendra.


"Lha kenapa kamu selalu memanggil wanita seperti itu untuk menggoda tuan muda?" Tanya Doni memijit pelipisnya yang tiba-tiba merasa pusing karena ulah dari pria di depannya itu, ya pasti nanti akan membuat Doni pusing kepala. Ya Doni secara tidak langsung juga menangani beberapa wanita yang ambisius karena ulah pria di sampingnya itu.


"He he he he he, siapa tahu tuan muda tergoda dan segera mencari wanita untuk diajak menikah," jawab Hendra enteng namun semakin pusing Doni di buatnya.


"Ck otak kamu kalau malam begini sering korslet ya," grutu Doni kesal.


"Terus kalau wanita itu bisa menggoda tuan muda dan meminta pertanggung jawaban untuk menikah bagaimana? Kamu mau tuan muda menikah dengan perempuan model begitu atau lebih parahnya lagi kalau perempuan itu mempengaruhi tuan muda dan menguras hartanya dengan meminta di belikan barang macam-macam atau rumah mewah bagaimana?" Tanya Doni dengan telak mampu membuat Hendra tertegun sesaat sebelum dia memikirkan semua yang di katakan Doni benar terjadi, pasti dia juga akan di buat repot karena ulahnya sendiri.


"Aduh bagaimana ini," kini giliran Hendra yang mondar-mandir bukan karena gelisah menunggu tetapi karena takut ucapan Doni benar-benar terjadi.


"Kapok, urus saja sendiri?" Doni pun berlalu pergi meninggalkan Hendra.


"Hei Don, kemana?" Tanya Hendra.


"Tidur ngantuk," jawabnya berlalu pergi menuju kamar miliknya. Tak lupa dia meminta beberapa anak buahnya untuk beristirahat sesuai dengan perintah tuan mudanya.


"Dasar Doni..." Kesal Hendra di tinggal sendirian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2