Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
54. Siapa lagi sih??


__ADS_3

"Lho Tina kan, iya Tina ya?" Tanya perempuan yang tiba-tiba menyapa dirinya.


Doni memijit pelipisnya. "Duh apalagi ini?" Batin Doni menatap kesal ke arah perempuan yang tiba-tiba sok asyik dan menyapa istrinya itu.


Sedangkan Tina, perempuan yang di sapa itu masih linglung (berfikir). "Siapa ya?" Batinnya menebak-nebak.


"Eeeeh pasti lupa nih sama aku, aku Nanik teman mu sekolah SMA," sahut perempuan itu lagi dengan bawelnya.


"Siapa lagi sih? Batin Doni.


Seketika Tina ingat perempuan itu, ya siapa lagi temannya yang bernama Nanik di SMA cuma ada 1 yang berisik dan mulutnya suka mengoceh. Ah ingin rasanya Tina menangis, kenapa hari ini dia apes banget begini tadi bertemu dengan mantan sekarang temannya yang suka ngomong tapi tak pernah di rem. Tina takut temannya itu justru berbicara macam-macam dan membuat suaminya itu semakin marah.


"Duh kenapa sih harus bertemu dengan Nanik saat aku sama mas Doni, apalagi nih mulut Nanik suka ember takutnya dia berbicara macam-macam di depan mas Doni. Apes banget sih baru lolos dari si Agus eh sekarang malah muncul Marni," batin Tina meringis meratapi hari ini yang bisa di bilang hari apes baginya.


"Eh iya Nanik, inget kok," jawab Tina canggung.


Nanik memukul lengan Tina sebagai rasa akrab, membuat Tina meringis kecil.


"Duh lama ya tidak bertemu, makin cantik saja," katanya dengan ramah sok dekat.


"Padahal dulu kita tidak akrab-akrab banget sih sekarang kenapa dia sok akrab seperti sahabat begini?" Batin Tina heran.


"Eh ini siapa?" Tanya Nanik dengan genit menatap ke arah suaminya.


Nanik menyeret Tina mendekat ke arahnya. "Siapa? Kenalin dong. Tuh cowok badannya bagus kekar dan kulitnya putih seperti cowok idaman ku," bisik Nanik dengan santai menatap Doni dengan intens membuat Doni merasa risih.


Tampilan Doni memang terlihat keren, masker dan kaca mata hitam masih melekat di wajahnya membuat siapapun tak tahu wajah sebenarnya di balik masker itu. Andai mereka tahu pasti tak akan pernah berfikir Doni tampan.


Tina segera menjauh dari Nanik karena kesal dan mengandeng tangan Doni. "Ini suamiku," jelasnya singkat.


"Lho bukannya dulu kamu pacaran ya sama Agus?" Tanya Nanik.


Tina melotot mendengar kata-kata perempuan di depannya saat ini.


Tina langsung mengandeng tangan suami menyeretnya pergi sebelum terjadi masalah lagi.


"Maaf aku sibuk, jadi permisi kami pulang dulu," kata Tina berlalu pergi meninggalkan Nanik yang masih kesal.


"Sombong banget sih," grutunya menatap Tina dengan sinis.


.

__ADS_1


.


Keduanya pun keluar dari pasar dengan perasaan yang berbeda, Tina dengan perasaan lega karena bisa lepas dari Agus dan Nanik yang muncul tanpa di duga, sedangkan Doni dengan perasaan sedikit kesal mengingat pria yang bernama Agus tadi dan apa yang dikatakan oleh perempuan tadi.


"Apa hubungan mereka sedekat itu ya sampai temannya tahu tentang tuh Agus," batin Doni melamun.


"Sayang ayo kita makan di sana," tunjuk Tina ke arah segerombolan orang yang sedang mengelilingi penjual makanan.


Lamunan Doni pun buyar seketika. "Apa?" Tanya Doni karena dia tak mendengar ucapan dari istrinya tadi.


"Ayo ke sana?" Tunjuk Tina.


"Itu apa?" Tanya Doni penasaran karena tak melihat dengan jelas itu penjual apa.


"Dulu sih seingat ku itu penjual nasi pecel yang terkenal enak di sini," jawab Tina sedikit ragu karena dia sudah lama tak pulang ke kampungnya.


"Ayo kita coba," ajak Tina dengan antusias. Tina juga ingat suaminya itu belum sarapan pagi ini.


Doni dengan pasrah mengikuti langkah kaki sang istri.


"Duh antriannya banyak banget," keluh Tina saat melihat begitu banyak orang yang mengantri.


"Kita cari makanan lain saja,'' usul Doni tetapi Tina mengelengkan kepalanya.


Namun perhatian Tina teralihkan karena rasa haus yang melanda.


"Eh itu ada es dawet," tunjuk Tina ke penjual es di dekat sana.


"Kamu di sini saja pesan makanan, aku mau taruh ini semua dulu di mobil setelah itu ku belikan es dawet," kata Doni menatap sang istri dengan penuh perhatian. Tina berdebar saat melihat tatapan sang suami yang mampu membuat hatinya nyaman itu. Tina langsung mengangguk patuh.


Doni pun bergegas menuju mobil.


Tin tin...


Doni langsung membuka pintu bagasi dan memasukkan semua belanjaan tadi ke dalam mobil.


Setelah selesai Doni berjalan menuju penjual es dan membeli 2 bungkus, namun niat itu diurungkan Doni pun membeli 5 bungkus untuk bapak, ibu, dan Adit tentunya.


Setelah selesai, Doni menghampiri sang istri yang ternyata sudah membawa bungkusan plastik di tangannya.


"Lho kok di bungkus?" Tanya Doni heran.

__ADS_1


"He he he he he tempat duduknya penuh," kata Tina menunjuk ke arah tempat yang sudah penuh dengan banyak orang makan.


"Kita makan di mobil saja," usul Tina, Doni pun mengangguk setuju dengan usulan sang istri.


Di sinilah keduanya saat ini.


"Mas Doni mau ku suapi?" Tanya sang istri saat baru membuka bungkusan makanan itu.


"Em boleh," jawab Doni tak menolak karena baru kali ini sang istri menawari dirinya untuk di suapi.


"He he he, kesempatan bagus ngapain di tolak," itulah pikir Doni saat ini.


Inilah cara Tina membujuk suami agar tidak kepikiran lagi dengan bang Agus. Tina tak ingin suaminya berfikir kalau dia masih mengingat sang mantan.


"Enak?" Tanya Tina saat Doni mengunyah makanan itu.


Doni mengangguk. Dia segera meraih sendok dari tangan sang istri dan kini giliran Doni yang menyuapi sang istri.


Tina kaget namun segera dia membuka mulutnya.


Keduanya pun makan dengan saling menyuapi. Akhirnya semuanya habis tak tersisa. "Oh ya mas masih ada satu, mas Doni mau nambah?" Tanya Tina menunjukkan satu bungkus nasi pecel.


"Tidak, nanti kamu makan saja," tolak Doni.


"Kita kemana lagi atau langsung pulang?" Tanya Doni kepada sang istri.


"Langsung pulang saja," jawab sang istri.


"Oh ya di sini ada toko mebel?" Tanya Doni.


"Kenapa mas Doni nyari toko mebel? Mas Doni mau beli kursi?" Tanya Tina dengan heran bercampur binggung.


"Bukan, aku mau beli kasur," jawab Doni cepat.


"Kasur? Buat apa?" Tanya Tina yang masih belum sadar kejadian malam kemarin.


"Buat di kamar kita lah, memang kamu lupa kejadian kemarin malam?" Tanya Doni dengan sedikit menggoda.


Tina pun langsung teringat kejadian itu, tiba-tiba pipinya memanas mengingat semua itu.


"He he he he lupa," jawab Tina menutupi rasa malunya.

__ADS_1


"Tokonya masih jauh, nanti Tina kasih tahu. Sekarang ayo pergi," kata Tina.


Bersambung....


__ADS_2