Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
18. Membuntuti


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa pagi ini Doni melakukan rutinitasnya di pagi hari yang tak lain adalah lari pagi mengelilingi luasnya halaman belakang mansion di ikuti Bimo yang setia mengekor Doni di belakang.


"Aduh Don, aku capek," keluh Bimo sambil menahan nafasnya yang ngos-ngosan akibat kelelahan berlari.


Doni pun memberhentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Bimo yang sedang mengatur nafasnya.


"Kalau kamu capek, berhenti saja. Lagian siapa yang menyuruh mu untuk mengikuti ku," grutu Doni menatap Bimo dengan binggung.


"Kan aku ingin seperti kamu punya otot yang bagus," jawab Bimo.


"Kamu jangan ngeluh saja kalau ingin punya otot yang bagus. Ini baru permulaan, baru lari pemanasan saja belum angkat beban dan lainnya," jelas Doni.


"Ha kok banyak banget sih," kata Bimo kaget karena dia baru kali ini ikut Doni berolahraga biasanya dia cuma lari sebentar terus latihan bertarung dengan bodyguard lainnya, namun karena melihat badan Doni yang semakin semakin hari semakin kekar saja membuat Bimo juga ingin memiliki badan yang berotot seperti Doni.


"Kamu biasanya cuma latihan bertarung saja, tidak mau ikut aku fitness jadi jangan salahkan aku karena aku pernah mengajak mu namun kamu menolaknya," jelas Doni.


Kring....


Kring...


Kring...


"Tumben masih pagi tuh ponsel dah bunyi," kata Bimo saat mendengar nada dering dari ponsel Doni.


Doni hanya mendelik kan bahunya acuh.


Doni merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang sedari tadi berdering.


Dia mengerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di sana.


"Kenapa pagi-pagi dia sudah menghubungiku? Apa ada informasi penting," guman Doni dengan suara pelan namun Bimo masih bisa mendengarnya.


"Siapa?" Tanya Bimo yang mendekat ke arah Doni.


Doni mengarahkan tangannya ke wajah Bimo, mendorongnya pelan agar menjauh.


"Hei kamu jangan dekat-dekat, geli tahu," kata Doni.


"Ck sama siapa aja sih? Biasanya juga kita tiap hari tidur berdua," grutu Bimo membuat Doni yang mendengarnya mendelik kesal. Bisa-bisa orang lain yang mendengarnya salah paham dan berfikir macam-macam tentang dia dan Bimo.


"Jangan bicara ambigu, kita memang tidur di kamar yang sama namun berbeda ranjang. Jadi jaga bicaramu itu takutnya ada yang salah paham dan mengira aku suka terong," tegur Doni menatap tajam ke arah Bimo.


"He he he he he he, iya-iya maaf ," jawab Bimo cengengesan.


Doni menghela nafas panjang, dia pun sedikit menjauh dari Bimo agar Bimo tak menyerobot pembicara dia dengan anak buahnya.


Tut...


"Halo. Ada apa?" Tanya Doni dengan suara datar.

__ADS_1


"Saya sedang mengikuti nona Aruna karena gerak-gerik dia begitu mencurigakan," jelasnya mengatakan kalau dirinya sedang membututi wanita itu.


"Kamu berdua sekarang di mana?" Tanya Doni.


"Kamu masih di jalan anggrek, sepertinya mobil itu mengarah ke perumahan elit yang tak jauh dari sini," kata anak buah Doni yang melihat mobil berbelok seperti menuju perumahan yang terkenal di sekitar sini. Namun tak banyak orang yang bisa masuk ke sini mengingat perumahan ini bukan perumahan biasa.


"Ya sudah tunggu aku di dekat sana," pinta Doni.


"Siap bos,"


Tut..... Panggilan pun terputus.


Doni bergegas menghampiri Bimo. "Kamu latihan sendiri saja, aku masih ada urusan jadi aku mau keluar dulu," pamit Doni.


"Kemana?" Tanya Bimo yang penasaran.


"Mengikuti target kita," bisik Doni.


"Oh. Ok..." Bimo mengangguk.


Doni pun berlari meninggalkan Bimo.


"Hei Don,"


"Doni, tunggu....." Pinta Bimo.


Doni menoleh." Apa lagi sih," grutu Doni.


"Tanya apa lagi?" Kata Doni sedikit menahan rasa kesal.


"Itu... Itu..."


"Ck cepat katakan."


"Kalau tuan muda mencari mu bagaimana?"


"Bilang saja aku ada urusan penting, atau apalah."


"Terus siapa yang mengantarkan tuan muda ke kampus atau keluar kalau kamu belum kembali?"


"Kan ada kamu."


"Aku," tunjuk Bimo kepada dirinya sendiri.


"Iya siapa lagi. Jangan bilang kalau kamu tidak bisa mengemudikan mobil," kata Doni memicingkan matanya.


"Bisa sih," jawab Bimo ragu.


"Terus apa masalahnya?" Tanya Doni menahan sabar.

__ADS_1


"Aku tidak ingat jalan. He he he he," jawab Bimo cengengesan.


"Punya ponsel mahal-mahal buat apa? Ah sudahlah jangan banyak alasan. Kalau aku belum pulang ajak si Leo aja," jawab Doni sebelum berlalu meninggalkan Bimo yang masih berdiri di tempatnya.


"Apa hubungannya dengan ponsel mahal," guman Bimo menatap kepergian Doni dengan raut wajah binggung tak tahu maksud dari Doni tadi.


"Ah sudahlah, lebih baik aku makan dulu. Aku sudah lapar," kata Bimo berlalu meninggalkan tempat itu menuju ke dapur yang ada di belakang yang di khususkan untuk para bodyguard.


Sedangkan Doni.


Dia segera menuju garasi mengambil kunci mobil yang sering dia pakai, mobil yang Abraham berikan khusus untuk dirinya.


Tin....


Melihat Doni yang ingin keluar, sang satpam dengan cepat membuka gerbang mansion.


Doni membuka kaca mobilnya. "Terima kasih," sebelum pergi melajukan mobilnya.


Dengan kecepatan tinggi, Doni melajukan mobilnya mencari cela diantara banyaknya mobil, karena Doni tak ingin ketinggalan waktu, dia tak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran yang selama ini dia nanti-nantikan.


Tut....


Tut....


"Halo...'' Setelah menunggu nada tunggu 2x akhirnya panggilan Doni pun di jawab oleh orang di sebrang sana.


"Dimana kalian?" Tanya Doni tegas.


"Kami berada di luar gerbang masuk perumahan elit ini karena tidak sembarang orang boleh masuk bos," jawab pria di sebrang sana.


"Kirim lokasi kalian," pinta Doni setelah itu mematikan sambungan teleponnya.


Tut..... Panggilan terputus sepihak.


Doni melihat lokasi yang di kirimkan oleh anak buahnya tadi. " Ternyata kamu tidak sesederhana yang kupikirkan, sebenarnya apa tujuan kamu mendekati tuan muda," guman Doni berfikir, setelah dia mendesah berat dan melajukan mobilnya menuju tempat di mana kedua anak buahnya sedang menunggu.


Cit... Doni memberhentikan mobilnya tepat di depan kedua anak buahnya.


"Kalian sedari tadi menunggu di sini?" Tanya Doni merasa kasihan keduanya menunggu sambil duduk di atas motor.


"Iya bos," jawab keduanya serempak.


"Perempuan itu sedari tadi masih di dalam sana atau dia sudah pergi?" Tanya Doni menatap ke arah gerbang yang menjulang tinggi di jaga 2 satpam duduk di dalam sana.


"Sepertinya masih di sana, karena aku tak melihat motor mereka meninggalkan perumahan ini," jelas pria itu dengan begitu yakin.


"Ya sudah, kalian bisa kembali. Biar aku yang mengurus ini," perintah Doni karena kasihan melihat keduanya.


"Siap?" Setelah menjawab keduanya pun pergi meninggalkan Doni yang masih terpaku menatap pintu gerbang itu. Tak lama senyum Doni mengembang kala melihat seseorang yang di kenalnya sedang menatap ke arah Doni.

__ADS_1


Doni pun memakai masker dan kaca matanya kembali lalu menghampiri orang itu.


Bersambung....


__ADS_2