
Doni membuka pintu rumahnya, namun tak menemukan keberadaan sang istri saat dia pulang. Tak ada istri yang menyambut dirinya saat ini membuat Doni terkekeh.
"Ha ha ha ha ha, kenapa dari tadi aku membayangkan perempuan itu duduk di sofa menyambut kepulangan ku, ck ada-ada saja otak ku ini," guman Doni terkekeh ingin memukul kepalanya pelan, bisa-bisanya dia memikirkan hal seperti itu.
"Apa dia sudah tidur," guman Doni sesaat sebelum menutup pintu dan menguncinya kembali.
Doni pun berjalan menuju ke arah sofa untuk menaruh tas besar itu di sofa. Tas besar berisi barang-barang milik mbak Tina yang masih tersisa di sana.
Doni bukannya langsung menuju kamar miliknya namun dia justru berjalan menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur untuk membersihkan tubuhnya, karena sudah malam Doni mandi tidak sampai 10 menit, setelah selesai dia keluar dengan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Andai mbak Tina melihat penampilan Doni saat ini pasti dia langsung terkesima, tubuh atletis dengan perut berotot serta kulit putihnya semakin menambah pesona Doni, andai wajahnya bisa kembali seperti dulu pasti banyak perempuan yang antri untuk menjadi istrinya.
Doni berjalan masuk ke arah dapur dan membuka kulkas untuk mencari minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokan nya, Doni tersenyum saat melihat isi kulkas, "Ah ternyata perempuan itu rapi juga menata semuanya," gumannya sebelum menutup pintu kulkas kembali.
Setelah selesai mengambil minuman kaleng, Doni berjalan menuju ke arah sofa untuk mengambil sesuatu yang tertinggal setelah itu Doni berjalan menuju ke arah tangga. Dia menatap sekeliling rumah miliknya itu dari atas, ya rumah besar yang terbilang cukup mewah pemberian sang tuan mudanya yang baru bisa dia tempati sekarang.
"Ternyata kalau malam terlihat mengerikan juga ya berada sendirian di rumah besar seperti ini, mungkin dia takut meskipun belum jam 9 malam dia sudah berada di kamar," guman Doni terkekeh ternyata perempuan itu punya rasa takut juga.
Ya rumah besar itu terlihat menyeramkan karena semua lampu sengaja mbak Tina matikan dan menyisakan lampu-lampu kecil sebagai penerangan meskipun masih terlihat sedikit gelap.
Akhirnya Doni pun sampai di depan pintu kamarnya.
Ceklek.....
"Apa dia benar-benar tertidur atau cuma menutup matanya ketakutan," batin Doni saat melihat perempuan itu berada di atas ranjang namun dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Doni pun berjalan menuju ke arah lemari, mengambil baju miliknya dan menyimpan amplop coklat di tangannya itu ke dalam lemari.
Mendengar suara seperti pintu lemari terbuka, mbak Tina pun terbangun namun dengan mata mengantuk dia mengintip di balik selimut.
Mbak Tina melihat seperti sosok pria dengan tubuh tinggi gagah terlihat dari punggung pria itu saat mengobrak-abrik lemari untuk mencari kaos.
"Ennnmmm kamu sudah pulang," guman mbak Tina memberanikan diri membuka selimut yang membalut tubuhnya untuk menyapa Doni.
__ADS_1
"Eh...." Doni menoleh kaget karena suara mbak Tina dan menjatuhkan kaos yang dia bawa saat ini. Ah untung saja Doni sudah sudah memakai celana pendek selutut nya.
Doni dengan cepat memakai kaos miliknya dan berjalan menuju ke arah ranjang.
Bruk.... Doni menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
Melihat itu, mbak Tina di buat gugup. Mbak Tina memegang erat selimut miliknya.
"Ka-a-ka-mu mau tidur?" Tanya mbak Tina dengan gugup.
"Iya. Kenapa? Apa kamu keberatan?" Tanya Doni yang sudah menutup matanya karena lelah.
"Ti-tidak...." Jawab mbak Tina menahan rasa gugup.
"Tidurlah, aku tidak akan melakukan apa-apa kepada mu," kata Doni.
"Nyeesssss......" Seperti angin menyejukkan di hati mbak Tina.
Doni pun memiringkan tubuhnya, dia memilih tidur memunggungi istrinya itu memberi ruang kepada wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu agar perempuan itu merasa nyaman.
Deg deg deg...
Mbak Tina menyentuh dadanya yang berdebat kencang bukan karena takut melainkan takjub dengan postur tubuh Doni yang berotot itu terlihat dari kaos nya yang ketat membentuk otot-otot. Punggung itu begitu lebar dan kokoh membuat siapapun ingin menyadarkan diri di sana.
Tangan mbak Tina dengan refleks bergerak ingin menyentuh punggung Doni namun dengan cepat mbak Tina mengurungkan niatnya dan berbalik badan untuk tidur. Mbak Tina melakukan hal yang sama dengan suaminya itu.
Pasangan pengantin baru itu tidur saling memunggungi satu sama lain.
KEESOKAN HARINYA...
"Hoammm....." Doni menguap dan menoleh ke samping mencari keberadaan istrinya itu namun dia tak menemukan istrinya itu, ranjang di sampingnya sudah kosong.
__ADS_1
Doni meraba sesaat. "Dia mungkin baru saja pergi," guman Doni saat merasa ranjang di sampingnya masih hangat.
Doni melirik jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 5 dini hari, Doni pun langsung bergegas ke kamar mandi.
PUKUL 06.05
Doni turun dari tangga dengan kaos berwarna hitam dan celana training panjang dengan warna yang masih senada.
"Apa kamu mau sarapan?" Tanya mbak Tina saat bertemu Doni di teras hendak pergi keluar.
"Aku mau lari pagi keliling komplek, apa kamu mau ikut?" Jawab Doni disertai dengan ajakan. Namun mbak Tina mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Oh ya, kamu sudah menghubungi kedua orang tua mu dan memberitahu semuanya?" Tanya Doni.
"Aku belum menghubungi mereka, aku takut mereka marah karena aku menikah mendadak tanpa meminta restu mereka," lirih mbak Tina menunduk sedih.
Doni menghela nafas panjang. "Ya sudah kita bicarakan saja nanti setelah aku pulang dari berolahraga," kata Doni.
"Iya," jawab mbak Tina pelan. Setelah itu Doni pun pergi meninggalkan mbak Tina sendiri, mbak Tina pun melanjutkan membersihkan rumah dan mengatur taman serta menata beberapa tanaman hias yang Doni sengaja belikan untuknya, agar mbak Tina punya kegiatan saat Doni tinggal bekerja.
Doni juga sudah menawarkan untuk mempekerjakan asisten rumah tangga namun usulan itu mbak Tina tolak dengan cepat.
"Andai bapak dan ibu berada di sini pasti mereka senang," guman mbak Tina mengingat kedua orang tuanya yang berada jauh darinya saat ini.
"Semoga mereka baik-baik saja. Pak... Buk, anak mu kangen," lirih mbak Tina.
Tiba-tiba mbak Tina teringat sesuatu. "Bagaimana nanti reaksi bapak dan ibu saat melihat suamiku? Apa bapak dan ibu bisa menerimanya dengan ikhlas?" Guman mbak Tina dengan penuh keraguan.
Mbak Tina pun mengabaikan rasa cemas itu, mbak Tina yakin kedua orang tuanya bukan tipe seseorang yang memandang semuanya dari fisik.
Mbak Tina pun segera melanjutkan membersihkan rumah, setelah itu dia pergi ke dapur untuk menata makanan di atas meja supaya nanti di saat Doni pulang dari olahraga, dia bisa langsung makan kalau kelaparan.
__ADS_1
Bersambung...