
"Hoammm....."
Adit menguap dengan malas. "Kamar ini benar-benar bagus, kasurnya empuk. Jadi malas aku bangun," kata Adit yang masih nyaman tidur.
Tok tok tok tok tok....
"Dit bangun, ayo sarapan," terdengar suara di balik pintu memanggil- manggil namanya.
"Adit masih ngantuk," jawab Adit yang masih engan untuk bangun dan membuka pintunya.
"Dasar anak nakal, cepat bangun ini sudah jam 7 pagi. Apa kamu tidak malu sama mbak Nana mu dan suaminya hah...." Bentak ibu dengan kesal, mengomeli anaknya di balik pintu.
"Iya-iya Adit bangun," kata Adit dengan malas mencoba untuk bangun.
"Mandi jangan lupa," teriak ibu mengingatkan anaknya itu. Takut Adit keluar tanpa mandi dan langsung makan.
"Engge kanjeng ibu," jawab Adit dengan kencang.
"Dasar anak ini, apa dia lupa kalau dia itu ada di rumah mbak Nana nya saat ini," grutu ibu meninggalkan kamar Adit dan berjalan menuju dapur untuk membantu memasak.
"Kenapa sih Bu?" Tanya Tina saat melihat wajah orang yang melahirkannya itu masam.
"Biasa si Adit jam segini masih tidur jadi ibu sengaja bangunin," jelas ibu.
"Oh ya bapak mana?" Tanya ibu saat tak melihat suaminya itu di ruang tamu dan di ruang makan.
"Oh bapak ikut lari pagi mas Doni," jawab Tina.
"Lho memang suami mu itu tiap hari lari pagi?" Tanya ibu dengan penasaran.
"Iya Bu,as Doni bahkan punya alat fitness di lantai 2," jelas Tina membuat ibu melotot.
"Yang seperti di tv itu ya," tanya ibu semakin kepo.
Tina mengangguk membenarkan.
"Suami anak ku kerjanya apa sih kok bisa punya rumah mewah dengan isi yang lengkap bahkan mobil di depan juga ada 2, motor juga ada 3. Apa gaji bodyguard itu gede," batin ibu menerka-nerka.
Sampailah keduanya di dapur. "Lho sudah selesai masak?" Kata ibu heran.
"Iya Bu, memang sebelum jam 7 pagi semua makanan harus sudah siap, sesuai permintaan mas Doni bahkan aku saja dilarang menginjak dapur selama aku hami," kata Tina di akhiri dengan aduan kepada ibunya.
"Kenapa?" Tanya ibu heran, bagaimana bisa menantunya itu melarang istrinya ke dapur, bagaimana kalau dia ingin makan dan minum sesuatu.
"Mas Doni tidak mau aku kelelahan dan kalau aku ingin sesuatu tinggal bilang saja sama mbok Jum atau mbak Retno," jelas Tina dengan lesu.
"Bagus, itu tandanya suami mu itu benar-benar sayang sama kamu. Kamu lihat sisi baiknya. Ibu juga setuju dengan nak Doni ," jelas ibu membuat Tina semakin mengerucutkan bibirnya.
"Nak kamu beruntung, meskipun nak Doni tidak sempurna tetapi dia begitu meratukan mu saat ini itu tandanya nak Doni begitu sayang dengan mu."
__ADS_1
Tina menghela nafas berat. " Ya ibu benar, harusnya aku bersyukur bukan mengeluh."
Sedangkan Doni dan bapak saat ini berada di taman tak jauh dari rumah mereka.
"Bapak pasti lelah, ayo duduk di sana," ajak Doni saat melirik mertuanya itu seperti kelelahan.
"Ha ha ha ha..... Nak Doni tahu saja," jawab bapak di sertai tertawa.
Doni pun mengajak mertuanya itu duduk di kursi taman.
Doni berdiri, dia lupa membawa minuman namun untung saja saat dia merogoh saku celananya menemukan uang 50 ribu, Doni menghela nafas lega.
Doni pun berlari menuju penjual minuman, dia membeli 2 botol air mineral dingin.
"Ini pak," kata Doni menyerahkan satu botol itu kepada mertuanya.
"Nak Doni jangan repot-repot," kata bapak merasa tak enak.
"Besok-besok kalau bapak mau olahraga, di rumah juga ada," kata Doni.
"Maksudnya nak?" Tanya bapak yang belum mengerti.
""Di lantai 2 ada ruangan untuk fitness, ah maksud Doni untuk olahraga," jelas Doni, dia menjelaskan semuanya takut bapak tak paham.
"Oh begitu ya ndk, nanti bapak akan coba."
"Ayo nak Doni, kita pulang," pinta bapak.
Doni pun mengangguk setuju, keduanya berjalan pelan menuju ke arah rumahnya.
.
"Wah enak nih," kata Adit yang baru saja datang ke meja makan menghampiri ibu dan kakak perempuannya.
"Iya mbak sengaja siapkan semua itu untuk mu," kata Tina dengan tersenyum.
"Sudah jangan berbicara terus, kamu duduk dan makan," perintah ibu.
"Lho bapak dan kak Doni mana?" Tanya Adit menatap ke segala arah karena tak menemukan keberadaan keduanya.
"Bapak sama mas Doni sedang olahraga, mereka berdua lari keliling komplek mungkin," jelas Tina.
"Ish kenapa aku tak di ajak," protes Adit karena merasa dia di tinggal.
Plukkkk.... Ibu memukul lengan anaknya karena kesal.
"Siapa suruh kamu tidur terus," kata ibu mencibir.
"Maka nya bangun pagi jangan molor terus," ledek Tina.
__ADS_1
Adit melotot menatap kakak perempuannya itu dengan cemberut.
"Sudah jangan manyun, ayo makan," ajak Tina.
"Terus bapak?" Tanya Adit dengan heran.
"Bapak biar nanti makan sama mas Doni, nanti perut kamu berdemo kalau kelamaan menunggu bapak dan mas Doni pulang," kata Tina.
Adit pun mengangguk, dia segera mengambil piring dan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
"Mmm enak mbak," kata Adit mengacungkan jempol nya sambil mengunyah makanan.
"Sudah makan gih jangan bicara nanti kamu tersedak," kata ibu mengingatkan.
Tina dan ibu pun ikut mengambil makan dengan Adit. Ketiganya makan dengan hening.
Tap tap tap....
Doni dan bapak masuk ke dalam rumah namun mereka melihat ketiganya sedang makan dengan lahap.
"Mas makan," ajak Tina saat melihat suaminya itu baru saja tiba.
"Tidak nanti saja," tolak Doni pelan.
"Aku mandi dulu ya pak, Bu, Dit," pamit Doni segera pergi menuju kamar miliknya dan mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sudah lengket dengan keringat.
"Bapak ayo makan," kini giliran Tina mengajak bapak untuk makan namun bapak juga ikut mengelengkan kepalanya.
"Bapak juga ingin mandi," guman bapak sambil mencium bau tubuhnya sambil terkekeh.
"Oh ya sudah," kata Tina.
Bapak pun bergegas menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
10 menit kemudian, bapak dan Doni pun muncul di sana.
Adit dan ibu sudah selesai makan namun Tina mereka berdua masih di sana atas permintaan dari Tina.
Doni mengambil duduk di dekat istrinya sedangkan bapak juga duduk di samping Adit.
Tina dengan cekatan mengambilkan makanan untuk suaminya meskipun berkali-kali Doni menolak namun Tina masih kukuh untuk mengambilkan Doni makanan.
"Oh ya Dit, kamu kan sudah lulus. Kamu ingin kuliah jurusan apa biar nanti ku carikan beberapa kampus yang bagus," kata Doni membuat Tina dan kedua orang tuanya tertegun sejenak.
"Aku sih masih binggung kak," guman Adit.
Bapak dan ibu tak menyangka bahwa menantunya itu sudah memikirkan semuanya.
Bersambung....
__ADS_1