
"Hiks hiks hiks hiks ku mohon, ayo kita balik," pinta Bimo memelas menangis membuat ketiganya menghela nafas panjang. Dia merengek tak jelas membuat Reza yang sedang duduk di depan kemudi di buat binggung olehnya, Reza bimbang apakah harus menuruti permintaan Bimo atau terus melajukan mobilnya menuju ke mansion.
"Bagaimana?" Tanya Reza melirik ke arah Gre meminta pendapat dia karena tak mungkin meminta pendapat Doni karena Doni justru kembali menutup matanya acuh tak acuh tak memusingkan kelakuan Bimo saat ini yang seperti anak kecil.
"Ya sudah kita balik aja, daripada tuh orang nanti ngreog di sini," grutu Gre yang merasa jengah melihat Bimo yang menangis namun tak mengeluarkan air matanya sama sekali.
"Dasar Bimo, xxx , xxx, xxx," grutu Gre di dalam hatinya di sertai umpatan ke pada temannya itu dengan berbagai nama hewan di kebun bintang.
"Untung teman kalau tidak sudah ke tendang ke luar," batin Reza melirik sinis Bimo yang kadang-kadang kelakuannya suka bikin teman-temannya greget.
"Heeee...." Reza menghela nafas panjang, diapun dengan terpaksa memutar mobilnya untuk berbalik arah.
"Ayo cepat nanti jam tangan ku keburu hilang," kata Bimo dengan sedikit merengek.
Reza pun memutar mobilnya, sebelumnya dia menghela nafas panjang.
Mobil pun meluncur berbalik arah menuju kembali ke rumah sakit.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit kembali, baru saja Reza memarkirkan mobil, Bimo dengan cepat membuka pintu mobil dan berlari tanpa menghiraukan beberapa borang yang lalu lalang melewati Bimo dengan tatapan heran.
Hos hos hos hos hos hos hos....
Bimo berhenti di depan pintu ruang rawat yang pernah Doni tempati. Sejenak Bimo mengatur nafasnya.
Dia bergegas masuk ke dalam, menyusuri setiap sudut untuk mencari keberadaan Jan kesayangannya.
"Ah ketemu....." Seru Bimo berteriak dengan senang saat jam kesayangannya masih ada di sana lebih tepatnya ada di atas sofa yang sering Bimo duduki atau sering dia gunakan untuk tidur.
"Untung saja ketemu," gumannya setelah itu pergi melangkah keluar meninggalkan ruangan tadi.
Bimo tersenyum sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Sampailah Bimo di parkiran, di mana ketiga temannya itu menunggu.
Ceklek....
Brakkk..... Setelah menutup pintu mobil, Bimo duduk dengan anteng sambil mengelus jam kesayangannya.
"Untung tidak hilang," gumamnya senang.
"Ck...." Gre cuma bisa berdecak kesal.
"Tidak ada yang ketinggalan lagi, aku tidak mau putar balik lagi. Atau mendengar drama picisan mu itu," sinis Reza sambil bertanya kepada Bimo.
"Tidak...." Jawab Bimo singkat.
"Benar?" Tanya Gre memastikan.
"Yupss...."
"Ok aku jalan dan nanti kalau ada yang tertinggal lagi, aku tidak akan mau putar balik," tegas Reza.
__ADS_1
Reza pun melajukan mobilnya lagi namun dengan kecepatan yang tinggi, dia harus mengejar waktu karena sebelum sore, dia harus sampai di sana. Mengingat jam sudah menunjukkan jam 2 siang hari.
"Hei jangan ngebut," pinta Bimo.
"Ck diam lah, kita harus mengejar waktu dan ini semua karena kamu," kata Gre dengan sedikit kesal.
Doni memilih tidur, tak terganggu dengan keributan di dalam mobil.
Reza tak menyahuti, dia fokus ke jalan raya.
SATU JAM BERLALU.....
Mobil memasuki gerbang mansion, Reza langsung melajukan mobilnya ke paviliun melalui jalan samping yang di khususkan untuk mobil mengangkut bahan kebutuhan para bodyguard. Mobil berhenti....
Gre membantu Doni turun dan Bimo yang bertugas membawa barang-barang Doni. Sedangkan Reza membawa mobil itu berbalik arah menuju ke garasi utama yang berada di mansion.
Reza juga tak lupa melaporkan kepulangan Doni kepada tuan mudanya.
Di berjalan masuk ke dalam mansion.
"Stttt.... Stttt....." Reza memberi kode kepada perempuan cantik yang tak jauh darinya.
Pria itu tak bergeming.
"Hei mbak Rani?" Teriak Reza membuat perempuan cantik yang tak lain anak dari kepala pelayan itu menoleh.
"Eh bang Reza. Kenapa?" Tanyanya.
"Sepertinya ada di kamar? Kenapa?" Jawab Rani di sertai pertanyaan kerena penasaran.
"Tidak apa-apa, cuma mau lapor kalau Bimo sudah pulang dari rumah sakit," jelas Reza setelah itu dia pun pergi meninggalkan Rani yang terdiam di tempat, Reza heran namun dia pun cuek tak memperdulikan dan memilih berjalan menuju kamar sang tuan muda.
Tok tok tok tok tok tok.....
"Tuan muda ini saya Reza," kata Reza yang sudah berada di depan pintu kamar Abraham.
"Masuk...." Jawaban dari dalam.
Ceklek....
Reza masuk ke dalam dengan menunduk hormat.
"Duduklah," Perintah Abraham.
Reza pun duduk, tak jauh dari sana Abraham menatap Reza.
"Ada apa?" Tanya Abraham.
"Saya ingin memberitahu kalau Doni sudah keluar dari rumah sakit tadi dan dia sedang beristirahat di kamarnya saat ini," lapor Reza.
Abraham terdiam, dia baru ingat kalau dia yang meminta Reza untuk menjemput Doni tadi.
__ADS_1
"Ya sudah, itu saja atau ada yang lain?" Tanya Abraham.
"Tidak ada tuan muda," jawab Reza.
"Kembalilah, lakukan tugas mu," perintah Abraham.
"Baik tuan muda," jawab Reza sambil berdiri, Reza pun menunduk pamit untuk pergi keluar.
.
.
DI TEMPAT DONI...
Wanita cantik berdiri di depan kamar Doni, dia ragu untuk masuk namun dia bisa melihat kalau saat ini Doni sedang berbaring di ranjang sambil memejamkan matanya.
Bimo yang melihat itupun menegur.
"Eh ada neng Rani, masuk neng. Ada apa ya?" Tanya Bimo dengan polos.
Doni yang mendengar Bimo menyebutkan nama Rani pun langsung membuka matanya memastikan, namun dengan cepat dia menutup matanya karena ingin mendengar apa yang di inginkan Rani datang ke sini.
"Em em saya saya mau jenguk bang Doni," jawab Rani.
"Oh mau jenguk," guman Bimo mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Iya bang."
"Masuk lah," pinta Bimo.
Rani pun masuk dengan canggung.
Sretttt..... Bimo menarik kursi untuk tempat duduk Rani saat ini.
"Duduklah," pinta Bimo.
Setelah itu Bimo pun menuju ke arah lemari untuk menyusun baju milik Doni. Mengabaikan keduanya memilih merapikan baju Doni yang masih ada di dalam tas.
"Bang Doni," lirih Rani menatap sendu ke arah pria yang tertidur di depannya.
Doni pun membuka matanya mencoba untuk bangun dan duduk di ranjang, dia tersenyum saat menatap Rani yang datang menjenguk dirinya.
"Tidur saja bang," pinta Rani tak tega melihat Doni.
Rani memperhatikan wajah Doni, dia sedikit penasaran bagaimana kondisi Doni.
Doni yang mengerti pun membuka mulutnya.
"Kemungkinan wajah ku tidak akan bisa kembali seperti semula," kata Doni menatap wajah cantik di depannya, dia ingin melihat reaksi di wajah cantik itu.
"Be-be-benarkah?" Kata Rani dengan kaget membuat bicaranya pun sedikit tergagap.
__ADS_1
Bersambung....