
Malam harinya, Doni membuka ponselnya saat terdengar ponselnya berbunyi ternyata semua itu pesan dari Bimo yang mengabarkan agar besok Doni secepatnya membawa mbak Tina pergi dari sana atas perintah tuan mudanya. Doni paham akan hal itu, Doni juga tahu alasan tuan mudanya itu meminta demikian sehingga Doni tak merasa keberatan.
Doni pun mengirimkan pesan kepada seseorang untuk membersihkan rumahnya.
Doni pun turun dari ranjang, sekilas menatap ke arah mbak Tina dengan menghela nafas panjang.
Sekarang wanita itu adalah tanggung jawabnya saat ini.
Doni mengemas semua bajunya dan memasukkannya ke dalam koper, dia menatap ke seluruh arah karena ini mungkin terakhir kalinya dia tinggal di sini. Doni memastikan semuanya tak ada yang tertinggal.
Doni pun kembali naik ke atas ranjang melanjutkan tidurnya. "Maaf mungkin kamu terpaksa menerima ku tetapi aku akan berusaha membahagiakan mu," lirih Doni pelan mengecup kening mbak Tina, wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
.
.
Malam hari...
Mbak Tina terbangun, dia langsung menangis saat mengingat semuanya.
Sedangkan Doni masih tertidur, tak lama terdengar suara tangisan perempuan membuat Doni terusik tidurnya.
Dengan suara serak khas bangun tidur, Doni pun bertanya. Namun bukan jawaban manis yang dia terima justru tangannya di tepis kasar membuat Doni marah dan berkata dengan tegas dan sedikit ancaman kepada wanita di sampingnya itu menurut dan tidak berbuat hal yang membahayakannya nanti.
Doni yang awalnya marah justru tersenyum kala mengingat perempuan di depannya ternyata masih perawan, Doni pun tersenyum sinis. "Ternyata kamu masih perawan ya, ku kira... Tetapi aku beruntung menjadi yang pertama dan tanpa di duga mendapatkan istri cantik tanpa berusaha."
Mbak Tina semakin terisak saat mendengar ucapan Doni. Karena kesal Doni pun sedikit membentak mbak Tina agar perempuan itu segera tidur dan mereka tidak telat bangun karena Doni berencana pergi meninggalkan mansion sang tuan mudanya itu di pagi buta agar nyonya Arin ataupun si kembar tak mengetahui kepergian mereka, terlebih lagi pria yang selalu dekat dengan mbak Tina, siapa lagi kalau bukan Tio.
Melihat perempuan itu yang sepertinya menolak, Doni sampai menakuti perempuan yang sudah menjadi istrinya itu dengan mengancam kalau dia tak menurut apa kata Doni, Doni tak segan-segan membawanya ke mami Sarah.
__ADS_1
Awalnya mbak Tina bertanya karena tak mengerti siapa perempuan itu namun setelah Doni menjelaskan. Mbak Tina mengelengkan kepalanya dengan cepat, ah membayangkan saja membuat nya menggigil ketakutan.
Mbak Tina pun berjanji akan menuruti semua ucapan Doni membuat Doni mengangguk puas.
"Ayo naik," ajak Doni.
Melihat wajah garang Doni membuat mbak Tina ciut, dia langsung naik dan tidur membelakangi Doni.
Setelah mbak Tina naik, Doni pun menanyakan di mana kampung halamannya, Doni berniat berkunjung untuk memperkenalkan diri kepada kedua orang tua mbak Tina yang sudah resmi menjadi istrinya.
Mbak Tina terdiam pasrah setidaknya dia masih selamat dan di nikahi salah satu bodyguard sang tuan muda. Kalau tidak mungkin nasibnya bisa lebih tragis dari sekarang.
Mbak Tina pun menarik selimutnya dan mencoba memejamkan matanya.
Doni pun cuek saja, dia langsung melingkarkan tangannya di perut mbak Tina dan melanjutkan tidurnya. Awalnya mbak Tina tak nyaman namun entah karena tubuhnya yang lelah atau dia masih mengantuk membuat mbak Tina pun tertidur.
KEESOKAN HARINYA...
"Ternyata sudah pagi," lirih Doni segera bangun dan mandi setelah itu melakukan kewajibannya.
"Emmm...." mbak Tina pun terbangun, kepalanya masih terasa pusing, dia memegang kepalanya dan berusaha bangun.
Mbak Tina menoleh melihat Doni yang sudah selesai dan menyimpan sajadahnya. Dia pun menatap sekeliling karena binggung bagaimana bisa ada lelaki di dalam ruangan ini bersamanya. "Kenapa aku bisa di sini?" Guman mbak Tina.
Sekelebat bayangan pun muncul di ingatannya. Matanya terbelalak kaget saat ingat kejadian kemarin, bagaimana nasibnya nanti. Mbak Tina pun beralih menatap Doni dengan intens. "Jadi aku sudah menikah dengan pria ini," batin mbak Tina masih belum begitu percaya dengan apa yang dia alami.
"Kamu sudah bangun," kata Doni membuyarkan lamunan mbak Tina saat ini.
Mbak Tina pun mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Doni pun meminta mbak Tina bersiap karena pagi ini mereka akan pergi, meski mbak Tina awalnya binggung harus berkata apa namun dia mematuhi perintah Doni. Untung saja semua barang miliknya sudah di kemas meskipun tak seberapa dan masih banyak yang tertinggal, Doni tak masalah karena Doni masih bekerja di sini dan sisa barang milik istrinya itu bisa dia bawa kapan pun.
Doni pun keluar dan menghubungi Bimo kalau dia akan berangkat pagi ini.
"Ayo semua sudah siap?" Tanya Doni memastikan lagi.
Doni pun keluar menenteng sagu tas besar di ikuti oleh mbak Tina di belakangnya, Doni mengambil jalan pintas atau jalan rahasia yang terhubung dengan garasi di mana tempat mobil para bodyguard.
Mbak Tina takjub saat melihat Doni masuk kedalam mobil yang terbilang mewah.
"Ayo masuk," ajak Doni setelah itu mobil melesat meninggalkan mansion.
Mbak Tina menatap ke belakang, andai dia tak terpengaruh perempuan kemarin mungkin nasibnya tak akan seperti ini namun menyesal tiada gunanya, dia hanya bisa berharap kepada pria di sampingnya agar benar-benar menjadi suami yang baik dan menjaganya karena di sini mbak Tina seorang diri tak punya sanak saudara maupun kerabat.
Mobil melesat memasuki perumahan membuat mbak Tina kaget, namun mbak Tina memilih diam tak bertanya.
Mobil memasuki pekarangan rumah berlantai 2 yang terlihat cukup besar. Mbak Tina terkesima melihat penampilan luar rumah yang menurutnya begitu bagus.
"Ayo turun," ajak Doni membuyarkan lamunan mbak Tina.
"Ini rumah siapa?" Tanya mbak Tina dengan pelan takut Doni marah dengan pertanyaannya.
"Mulai hari ini kita tinggal di sini, ini adalah rumah ku," jawab Doni menuju pintu utama dan membuka pintunya.
"Mari kita mulai semuanya dari awal," pinta Doni.
Mbak Tina mengangguk ternyata Doni tak seburuk yang dia kira, mbak Tina bersyukur Doni begitu baik, semoga ini awal hubungan yang baik untuk keduanya. Mbak Tina menyeka sudut matanya yang berair karena terharu dengan sikap Doni yang begitu baik,
"Kalau kamu kurang suka dengan dekorasinya, kamu bisa menatanya ulang," kata Doni tanpa menunggu jawaban dari mbak Tina Doni pun berlalu masuk ke dalam kamar membawa koper miliknya dan tas besar milik mbak Tina. Doni memilih menata baju miliknya, untung Doni sudah meminta seseorang untuk membersihkan rumahnya ini karena rumah ini.
__ADS_1
Bersambung....