Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
34. Doni yang tak bisa berkutik


__ADS_3

Hari cepat berlalu.


Doni saat ini sedang berjongkok di depan kolam ikan yang ada di taman belakang mansion sambil bergumam tak jela, entah dia mengomel karena apa tak ada yang tahu.


"Tuan muda terlihat begitu hebat, entah dengan cara apa tuan muda memaksa perempuan itu sampai akhirnya perempuan itu setuju menikah dengannya," gumannya sendiri takjub dengan kepandaian otak tuan muda nya itu.


Ya Arin dan Abraham sudah resmi menikah, meskipun awalnya banyak mengalami kendala namun tuan mudanya itu mampu mengunakan jurus apa sampai akhirnya keluarga Arin setuju. Otomotif kedua anaknya pun ikut tinggal di mansion beserta adik Arin juga.


Mansion yang awalnya sepi sunyi itu sekarang semakin meriah karena kehadiran kedua bocah yang selalu bertengkar untuk hal kecil.


Karena hari ini tuan mudanya itu tidak ingin pergi kemana-mana jadi Doni berada di sini duduk sendiri tak jelas karena Bimo sibuk mengamankan mansion karena tak ingin kecolongan apalagi Bimo sekarang harus melindungi banyak orang.


"Om Doni mau mancing."


Doni menoleh saat mendengar suara terdengar imut bertanya kepadanya.


Doni melotot, tak menyangka akan bertemu dengan gadis kecil yang tak lain adalah Aurel anak dari tuan mudanya itu.


Doni memijit pelipisnya merasa pusing seketika saat melihat wajah imut itu di sini.


"Memang sih anak tuan muda Abraham mengemaskan tetapi bawelnya minta ampun, Bimo saja sampai kewalahan menghadapinya," grutu Doni di dalam hatinya.


Doni langsung tersenyum paksa tak ingin gadis kecil itu mengadu hal-hal yang bisa membuat tuan mudanya itu murka.


"Om Doni cuma memberi makan ikan saja," jawab Doni dengan tersenyum manis.


"Dih senyum mu jelek banget sih," terdengar suara dari samping namun pelan dan tetap saja Doni mampu mendengarnya karena dia sudah berlatih khusus dari seseorang sejak menjadi bodyguard tuan mudanya.


"Iya memang aku jelek," sinis Doni membuat perempuan tadi seketika tidak enak.


"Mbak Tina tidak boleh begitu, om Doni itu ganteng loh kalau mukanya tidak ada jalan semut," kata Aurel niatnya membela namun bukannya senang Doni semakin cemberut.


"Memang aku sarang semut," guman Doni di dalam hatinya.


"Pftttt...."

__ADS_1


Sedangkan mbak Tina justru menahan tawa mendengar kalau wajah pria itu di sebut jalan semut, mbak Tina memang akui kalau tidak ada bekas luka itu mungkin wajah pria di depannya begitu tampan apalagi untuk ukuran bodyguard kulit Doni terlalu putih, bukannya terlihat seperti bodyguard melainkan terlihat seperti aktor-aktor di drama yang sering dia tonton.


"Om aku ingin turun tangkap ikan itu boleh," pinta Aurel dengan mengedipkan mata polosnya itu.


"Jangan nona kecil tidak boleh turun nanti baju nona basah," cegah Doni.


"Tetapi Aurel ingin tangkap ikan itu," rengek Aurel menghentakkan kakinya dan mengoyangkan.


"Tidak boleh nanti non Aurel kedinginan terus demam, bisa-bisa om Doni di marahi tuan muda," kata Doni dengan khawatir.


"Tetapi Aurel mau....." Rengek gadis kecil itu.


"Ah kabur saja lah, biar jadi urusan tuh perempuan," guman Doni di dalam hati.


Tap tap tap tap tap tap.... Benar saja Doni berlari kabur dari sana.


"Hua Hua Hua om Doni kok kabur," gadis kecil itu langsung menangis.


"Cup cup cup, gadis cantik tidak boleh menangis. Oh ya besok saja kita main sama om Doni," bujuk mbak Tina.


"Hiks hiks hiks hiks hiks, benar besok boleh main sama om Doni," tanya Aurel.


"Ha ha ha ha ha, lihat saja besok ku pastikan kamu tidak bisa kabur dari non Aurel," guman mbak Tina dalam hatinya.


KEESOKAN HARINYA...


Benar saja Doni tak bisa kabur, karena mbak Tina secara khusus meminta kepada Arin agar Bimo dan Doni mau menemani Aurel dan Abrian bermain.


Di sinilah mereka sekarang, di taman belakang.


"Ha ha ha ha ha ha, terus om maju terus," kata Aurel dengan tawa gembira.


"Ayo om Bimo masa kalah sih," kata si Abrian dengan cemberut.


"Wle wle aku menang," teriak Aurel dengan senang sambil berjoget-joget mengoyangkan tubuhnya.

__ADS_1


Sedangkan Abrian menatap Bimo dengan kesal dan beralih menatap Aurel dengan cemberut.


Sedangkan Doni dan Bimo tengah merasa kelelahan dan keringat membanjiri tubuhnya membuat wajah keduanya penuh dengan keringat.


Mbak Tina yang menyaksikan itu di sudut taman bukannya iba atau kasihan kepada Doni maupun Bimo, mbak Tina justru tertawa melihat keduanya sudah ngos-ngosan.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha....." Tawa mbak tina pecah karena tak kuat sedari tadi menahan tawanya karena kelakuan 2 bocah yang membuat Doni dan Bimo jadi kuda.


Ya kedua (Aurel dan Abrian) menjadikan Bimo dan Doni sebagai kuda, kedua naik di atas tubuh Doni dan Bimo untuk bertanding siapa yang paling cepat sampai ke ujung.


Doni maupun Bimo awalnya menolak namun si kecil Aurel merengek dan membawa-bawa nama sang tuan muda membuat keduanya pasrah di jadikan kuda.


Doni menatap kesal ke arah mbak Tina. "Awas saja dasar perempuan tak punya perasaan, minimal rayu kedua bocil ini biar mereka berhenti, apa dia tak tahu kalau aku capek. Eh malah ketawa," grutu Doni di dalam hati nya.


"Cantik," guman Bimo saat melihat tawa mbak Tina namun Bimo buru-buru menutup mulutnya karena mendapatkan plototan dari Doni


"Cantik cantik, di lihat dari lobang semut," grutu Doni kesal tak suka Bimo memuji perempuan itu. Perempuan yang sering membuatnya naik darah.


"Aurel...."


"Abrian...."


"Hei di mana kalian, apa kalian tidak jadi ikut papa ke kantor."


Terdengar suara teriakan yang cukup nyaring membuat mbak Tina buru-buru menghampiri Aurel dan Abrian.


"Ayo cepat kalian turun, tuh di panggil mama," ajak mbak Tina mengandeng tangan keduanya untuk pergi menemui Arin.


"Dada om, besok main lagi ya," kata Aurel saat menoleh ke arah Bimo dan Doni tak lupa melambaikan satu tangannya.


Doni bernafas lega tak membalas lambaian Aurel, justru Doni berharap besok tak bertemu perusuh kecil itu. Bisa-bisa Doni di buat encok. Sedangkan Bimo membalas lambaian gadis kecil itu. "Dada non Aurel, besok kita main lagi ya," katanya tersenyum manis.


Doni melotot mendengar Bimo justru berbicara seperti itu. "Iya besok kamu saja yang jadi kudanya, aku mah ogah mending ngopi di markas," grutu Doni pergi berlalu meninggalkan Bimo sendirian.


"Hei Don, kemana? Tunggu aku,'' panggil Bimo namun Doni tak menggubris dan berlalu dengan cepat.

__ADS_1


"Ck dasar Doni suka banget sih ninggalin aku sendirian," grutu Bimo mengerucutkan bibirnya.


Bersambung...


__ADS_2