
Tok tok tok...
"Sayang sudah belum?" Tanya Doni yang berada di luar pintu menunggu sang istri keluar.
Dia mondar-mandir di luar pintu menunggu pintu di buka oleh istrinya itu.
Sedangkan Adit melihat tingkah laku Doni dari kejauhan di buat pusing sendiri.
"Bu, tuh kak Doni seperti setrikaan mondar-mandir tak jelas," kata Adit mengelengkan kepalanya.
"Husss jangan ngatain mas mu, dia itu pasti sudah tak sabar ingin tahu hasilnya," jelas ibu agar Adit tak membicarakan kakak iparnya itu lagi.
"Ish ibu mah, Adit tidak ngatain kak Doni cuma Adit ikut pusing melihatnya," kata Adit memberengut kesal karena ibunya menuduh macam-macam.
"Sudah sudah jangan bicara terus, nih kamu bawa keluar dan makan sama bapak," pinta ibu menyerahkan sepiring tahu isi yang baru di gorengnya itu tak lupa kopi sebagai pelengkap.
"Adit mau es Bu," pinta Adit.
"Ya sudah ambil sendiri di kulkas," kata ibu yakin masih
Sedangkan Tina masih terdiam di dalam menunggu hasil dari alat itu. Dengan perasaan berdebar Tina memperhatikan garis di alat kecil tersebut dengan seksama menunggu garis itu berubah.
"Sayang kenapa begitu lama," teriak Doni yang masih berdiri di depan pintu, dia masih setia menunggu istrinya itu keluar dari dalam sana.
"Sebentar," jawab Tina pelan.
Ceklek...
"Bagaimana?" Tanya Doni dengan antusias karena dia begitu penasaran dengan hasilnya, apakah sesuai dengan yang dikatakan bidan kemarin atau
Tina menghela nafas panjang, wajahnya tampak muram. Doni yang melihat itupun berfikir mungkin hasilnya tak sesuai harapan, jadi Doni pun mendekat dan memeluk istrinya itu untuk menguatkan.
"Sudah tidak apa-apa jangan sedih," kata Doni menghibur sang istri agar tak bersedih.
Namun siapa sangka, Doni tak tahu kalau istrinya itu tersenyum lebar. "He he he he he, dosa tidak ya membohongi suami? Ah tidak dosa kan aku tak bilang apa-apa," guman Tina di dalam hatinya saat ini.
Doni pun melepaskan pelukannya. "Ayo kita ke dalam, aku ingin tidur," ajak Doni.
Tina mengelengkan kepalanya dan memberikan tespek di tangannya itu kepada Doni. Sedangkan Doni mengerutkan keningnya binggung kenapa sang istri memberikannya benda itu.
Doni pun menggenggamnya dan menarik sang istri untuk mengajaknya masuk ke dalam namun Tina menarik tangan Doni dan mengelengkan kepalanya.
"Lihat dulu," pinta Tina dengan manjanya.
"Apanya?" Tanya Doni binggung.
__ADS_1
"Itu tadi," rengek Tina.
"Kenapa harus di lihat lagi sih, kan hasilnya negatif kan makanya tadi dia sedih," batin Doni menggerutu dalam hati.
Karena melihat suaminya yang engan, Tina pun merebut tespek tadi dari tangan sang suami. "Mas Doni lihat dulu," kata Tina menunjukkan 2 garis itu di depan mata suaminya.
"Ha 2 garis, kalau 2 garis itu tandanya dia hamil. Tetapi tadi," batin Doni binggung bercampur senang dan penasaran.
"Ini maksudnya apa?" Tanya Doni linglung.
"Aku hamil," kata Tina dengan cepat.
"Benar kamu hamil?" Tanya Doni sekian kalinya.
"Iya," jawab Tina menganggukkan kepalanya dengan cepat dengan penuh semangat.
"Alhamdulillah...." Teriak Doni penuh syukur.
Doni pun langsung mengendong sang istri karena begitu bahagia mendengar kabar darinya.
"Kyaaaa...." Tina berteriak kaget dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
Ibu yang berada di dapur tak jauh dari mereka berlari menghampiri keduanya dengan perasaan cemas.
"Ada apa nak?" Tanyanya dengan nada tergopoh-gopoh.
Ibu yang melihat itupun tertegun sejenak dan pergi meninggalkan keduanya dengan menggerutu. "Dasar anak muda jaman sekarang," gumannya pelan sambil berjalan menuju keluar namun ibu justru bertemu bapak di ruang tamu. Bapak berjalan tergesa-gesa menuju arah suara tadi.
"Ada apa Bu, sepertinya bapak dengar suara Nana berteriak?" Tanya bapak dengan cemas.
"Biasa pak anak muda," jawab ibu.
"Maksud ibu," tanya bapak yang masih belum paham.
Ibu pun mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga bapak membuat bapak mengelengkan kepalanya.
"Ayo pak kita keluar, ibu malu melihat kedua tingkah mantu dan anakmu itu. Masa bermesraan terus dari tadi," grutu ibu menarik tangan bapak menuju teras.
Sedangkan Doni dan Tina.
"Mas turunin, aku malu kalau nanti di lihat Adit dan bapak," pinta Tina memelas.
"Adit pasti lagi main, kalau bapak ngopi di luar," jawab Doni.
"Mas tahu kalau bapak ngopi?" Tanya Tina memastikan.
__ADS_1
"Aku tadi dengar ibu minta Adit buat antar cemilan dan kopi ke teras, untuk siapa lagi kalau bukan bapak," jelas Doni.
"Mas turunin, Nana mau jalan kaki," Tina masih mencoba membujuk suami itu agar menurunkan dirinya saat ini.
"Tidak akan, ini hukuman buat istriku karena berani membohongi suaminya," kata Doni berjalan menuju ke kamar.
"Ish mas Doni, siapa yang bohong. Aku kan tidak bilang apa-apa," elak Tina.
"Iya mulut mu tuh tak mengucapkan apapun tetapi wajah mu yang muram itu sudah mewakili," kata Doni melotot.
"He he he he, kan aku mau kasih kejutan," Tina masih saja mengelak.
"Sudah diam jangan banyak protes, diam jangan bicara," perintah Doni membuat Tina manyun.
"Tuh mulut sengaja mancing mas ya," kata Doni.
Tina di buat binggung dengan ucapan suaminya, mancing apa sedangkan dia tak melakukan apapun itu. Saat ini dia sedang di gendong suaminya bagaimana bisa dia Mancing. Mancing yang di pikiran Tina itu bawa alat buat mancing seperti kail.
"Mancing apa sih mas," keluh Tina dengan binggung.
"Ya tuh mulut sengaja di monyong monyongin untuk mancing mas buat cium," kata Doni dengan enteng.
Tina yang sadar dengan ucapan dari suaminya itu langsung melotot.
"Ha ha ha ha ha," Doni di buat gemas dengan tingkah istrinya itu, dia tertawa bahagia.
"Buka pintunya," pinta Doni saat keduanya sudah berada di depan pintu kamar.
Tina pun menarik ganggang pintu kamarnya dan...
Ceklek...
Pintu terbuka, Doni pun menurunkan Tina diatas kasur.
"Besok kita pulang atau kamu masih ingin tinggal di sini?" Tanya Doni.
Tina terdiam binggung, dia tak mau berjauhan dengan sang suami namun Tina juga masih merindukan keluarganya itu.
"Terserah kamu," kata Doni karena melihat Tina binggung memilih apa.
"Em aku ikut mas Doni tetapi sebelum kita pergi, Nana mau mas Doni antar Nana periksa kandungan dulu," jelas Tina dan Doni pun mengangguk setuju.
Doni juga ingin memastikan kondisi anaknya itu baik-baik saja.
Doni ikut merebahkan tubuhnya di samping Tina, tubuhnya terasa lelah karena Doni yang baru sembuh memaksakan diri untuk segera menemui istrinya itu.
__ADS_1
Bersambung....