Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
59. Cemas


__ADS_3

"Nak bapak ingin menanyakan sesuatu?" Tanya bapak saat melihat sang anak sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel miliknya.


"Ada apa pak?" Tanya Tina langsung menoleh ke arah bapak.


Bapak pun duduk di kursi yang tak jauh dari sang anak.


"Sebenarnya, bapak sedikit kepikiran sesuatu," kata bapak dengan ragu-ragu.


Deg


"Apa yang sebenarnya ingin bapak ketahui?" Batin Tina menerka-nerka.


"Bapak memikirkan apa sampai bapak terlihat begitu kebingungan?" Kata sang anak menatap ke arah sang bapak dengan binggung.


Keduanya saat ini berada di ruang tamu, sedangkan sang ibu tengah berada di rumah tetangga sedangkan Adit masih di sekolah.


"Bapak ingin tahu kenapa saat kalian menikah bapak tidak di hadirkan dan kenapa pernikahan kalian itu dadakan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya bapak dengan nada pelan.


Tina menunduk, inilah yang dia takut kan saat ini.


"Sebenarnya...." Tina meremas kedua tangannya menyakinkan hatinya.


"Mungkin ini waktunya aku berbicara jujur," batin Tina menguatkan hatinya untuk berbicara jujur.


Tina pun menjelaskan semuanya, awal mula dia bertemu dengan seseorang yang memintanya untuk menjebak sang tuan muda sehingga dia menjadi gelap mata dan melakukan semua itu. Sampai akhirnya dia menikah dengan Doni sang bodyguard tuan muda Abraham.


Bapak memegang dadanya, dia kaget tak menyangka anaknya melakukan perbuatan menjijikan itu. Bapak kecewa anaknya bisa setega itu dengan majikan yang begitu baik dengannya selama ini.


"Bapak...." Tina kaget melihat bapak memegang dadanya dan wajahnya terlihat pucat kaget, Tina ingin mendekat namun bapak menepis tangan anaknya itu karena kecewa.


"Nak bapak malu, bapak tak pernah mengajarkan kamu seperti ini," kata bapak menunduk sedih.


"Kenapa kamu tidak mengatakan semuanya kepada bapak, kenapa kamu harus berbohong," kata bapak dengan kecewa.


"Hiks hiks hiks hiks, maafkan Tina pak. Tina juga sadar kalau perbuatan Tina itu pasti membuat bapak sedih jadi Tina terpaksa berbohong. Hiks hiks hiks Tina juga malu pak, padahal Bu Arin telah begitu baik kepada Tina selama ini, Tina menyesal pak," kata Tina dengan jujur di sertai tangisan penyesalan.


"Nak hubungi majikan mu itu, bapak ingin meminta maaf," pinta bapak yang merasa bersalah atas kelakuan anaknya itu.


"Hiks hiks hiks, tidak mungkin pak Tina menghubungi mereka, tuan muda bahkan meminta maaf Doni membawa Tina menjauh dari keluarga mereka, mungkin tuan muda takut aku akan berbuat macam-macam," jelas Tina.


"Jujur bapak kecewa nak,"


"Pak...."


Bapak pun berdiri, Tina meraih tangan bapak untuk meminta maaf namun bapak yang masih kecewa pun menarik tangannya dan masuk ke dalam kamar.


Melihat itu Tina hanya bisa menangis dalam diam.

__ADS_1


Sejak saat itu bapak yang biasanya selalu perhatian dengan Tina pun sedikit menjaga jarak.


Adit yang melihat itu pun heran dan bertanya kepada Tina. "Kenapa bapak sepertinya mendiamkan mbak Nana? Apa salah mbak Nana?"


Namun Tina hanya bisa mengelengkan kepalanya dan tersenyum berkata. "Tidak ada apa-apa."


Ibu juga sedikit heran karena tak biasanya suaminya itu berubah menjadi pendiam apa ada sesuatu yang membuat suaminya itu aneh beberapa hari ini namun ibu menepis semuanya saat bapak bilang tak ada apa-apa, bapak cuma bilang akhir-akhir ini dia lelah mengurus kebun apalagi sebentar lagi waktunya panen.


Hari cepat berlalu...


Sudah 5 hari Tina berada di sini, sejak kepergian suaminya yang berpamitan bekerja. Tina hanya 2x mendapat kabar dari sang suami dan itupun cuma pagi saat suaminya bilang kalau dia sudah sampai dan malam hari saat Tina hendak tidur, suaminya itu menghubunginya dan mengatakan kalau dia mungkin akan jarang menghubunginya karena alasan kesibukan. Ingin rasanya Tina bertanya lagi namun niat itu di urungkan saat Doni bilang dia harus berangkat dan memutuskan sambungan telepon.


Tina heran karena panggilan itu terputus secara sepihak, apalagi jam menunjukkan pukul 11 malam, memang jam segini Doni mau berangkat ke mana pikir Tina.


Tina masih enggan menutup matanya, dia merasa perasaannya tak enak. Berkali-kali Tina menatap jam di dinding. Masih jam 9 makan namun entah apa yang membuatnya tidak tenang saat ini, dia memikirkan suaminya (Doni) dengan perasaan cemas yang tiba-tiba muncul.


DI TEMPAT BERBEDA.


Doni memberi kode kepada Gre agar maju dengan perlahan.


Krekk....


Pria itu menoleh sesaat kemudian, pria itu berlari dengan cepat.


Ya saat Gre mengendap-endap mendekati pria yang tak lain adalah target mereka namun semua itu gagal karena Gre meminjam sebuah ranting kayu kecil di bawah kakinya itu.


"Cepat kejar dia," teriak Doni saat melihat Gre yang terpaku terdiam merutuki kebodohannya.


"Iya," sahut Gre langsung berlari mengejar pria itu.


Aksi kejar-kejaran itu menyita beberapa pengguna jalan.


Pria itu terus berlari sampai ke bangunan tua, tempat yang sepertinya lama tak di tinggalkan atau tak di huni.


"Hati-hati takutnya ini jebakan," pinta Doni agar keduanya waspada.


Bimo maupun Gre mengangguk, keduanya masuk dengan pelan penuh hati-hati.


Apalagi tempat itu begitu sunyi.


Prok prok prok prok prok...


Doni, Gre dan Bimo pun berhenti, ketiganya merasa ada sesuatu yang tak beres.


"Ha ha ha ha, selamat datang di istana ku," kata pria itu menyeringai.


"Istana? Ck istana kumuh," cibir Gre karena tempat ini seperti tempat uji nyali yang terlihat menyeramkan apalagi tempat ini begitu sepi.

__ADS_1


Drap drap drap.... Muncullah 10 pria berbadan tegap.


"Habisi mereka bertiga," perintah pria itu kepada 10 pria itu.


"Kita di tipu," kata Bimo menghela nafas kasar.


"Ya sudah mau bagaimana lagi, ayo kita sikat semuanya sampai habis," kata Gre mengerakkan lehernya ke kanan dan kiri sebagai pemanasan.


"Hmmm...."


Pria itu tersenyum sinis.


Bugh bughhhh.... Gre maju terlebih dahulu mengajar 3 orang sekaligus.


Krekkkk.... Bimo dengan santainya menarik tangan musuhnya dan memutarnya. "Aahhhh...." Teriakan kesakitan menggema.


Pria itu terbelalak kaget melihat preman yang di sewanya itu berteriak kesakitan.


Brakkkk....


Doni memukul dan menendang 2 pria di depannya membuat pria itu terjatuh menabrak meja kosong tak jauh darinya itu.


Pria itu kaget saat melihat tinggal 3 preman yang tersisa, dengan cepat pria itu merogoh saku bajunya dan mengambil pistol dan mengarahkannya ke depan ke arah mereka bertiga.


Doni melihat orang itu siap membidik sasaran pun berlari menuju ke arah Bimo.


"Bimooooo....." Teriak Doni khawatir, Bimo pun menoleh namun dia kaget saat terdengar suara tembakan.


DOR.


Bimo terjatuh akibat dorongan Doni, Gre yang melihat itu terdiam di tempat karena kaget. Namun dengan cepat dia sadar dan mengambil senjatanya dan menembak kaki pria itu.


DOR


DOR


"Doni......"


Doni terjatuh....


DEG


"Mas Doni...." Tina terbangun dari tidurnya dengan keringat bercucuran.


Dia mengatur nafasnya yang masih memburu, hatinya pun resa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2