
Malam hari....
Mbak Tina berada di dapur, masih mengatur beberapa barang yang ada di kantong kresek besar yang masih teronggok di atas meja dapur. Mbak Tina membuka kulkas memasukkan semua bahan makanan beserta cemilan yang mereka beli tadi. Setelah selesai mbak Tina tak lupa meletakkan sabun cuci piring dan beberapa mug lucu yang di belinya tadi.
Mbak Tina menoleh saat mendengar suara seperti langkah kaki menuruni anak tangga.
"Kamu mau kemana?" Tanya mbak Tina dengan suara pelan agak sedikit ragu menanyakan itu kepada pria yang telah resmi menikah dengannya itu. Mbak Tina takut membuat Doni marah dan tersinggung dan dianggap lancang bertanya kepadanya.
"Aku mau ke mansion mengambil barang milik mu yang masih tertinggal disana," jelasnya.
"Oh ...." Mbak Tina mengangguk mengerti.
Doni pun berjalan menuju ke arah pintu namun Doni dengan cepat berbalik.
"Kamu kunci saja pintunya setelah aku pergi kalau kamu takut kamu bisa segera tidur atau kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku," kata Doni sedikit khawatir.
"Iya," jawab mbak Tina.
"Ya sudah hati-hati di rumah, ingat kalau ada sesuatu kamu bisa menghubungi ku," pinta Doni sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan mbak Tina sendirian di rumah.
Setelah kepergian Doni.
Mbak Tina dengan cepat mengunci semua pintu dan jendela, meskipun sedikit ngeri karena tinggal di rumah besar ini sendirian tetapi mbak Tina menguatkan hatinya agar rasa takut itu hilang.
Setelah semua terkunci mbak Tina tak melanjutkan kegiatannya tadi karena tinggal beberapa barang seperti hiasan saja yang bisa di tata besok pagi, jadi mbak Tina menuruti perintah Doni tadi untuk masuk ke dalam kamar karena sejujurnya dia merasa takut.
Mbak Tina Menganti bajunya dengan pakaian tidur yang santai tak lupa membasuh wajahnya sebelum masuk ke dalam selimut.
Mbak Tina menatap sekeliling kamar, karena merasa takut mbak Tina tak berani mematikan lampu kamarnya.
Dia melihat telephon miliknya namun tak ada nomor Doni. Mbak Tina memukul kepalanya pelan. "Bagaimana aku bisa lupa meminta nomornya, apalagi di sini begitu sunyi jadi terlihat menyeramkan," guman mbak Tina.
"Besok aku harus bicara dengannya, untuk mengadakan pengajian sekaligus perkenalan sebagai tetangga baru," guman mbak Tina pelan.
Mbak Tina menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya dan menutup matanya rapat-rapat karena takut.
__ADS_1
SEDANGKAN DI TEMPAT BERBEDA...
Doni memarkirkan mobilnya di garasi khusus para bodyguard.
Doni dengan santai memasuki halaman paviliun belakang.
"Hei masuk nyelonong saja tanpa lapor, ayo kamu lari 100 putaran sebagai hukuman," perintah Bimo saat mendapati seseorang berperawakan seperti bodyguard berjalan riang membelakangi dirinya, apalagi keadaan cukup gelap karena lampu di sana padah karena rusak dan belum sempat di ganti.
Doni tersenyum tipis tak berniat berbalik badan atau menyahuti perkataan dari Bimo.
"Hei kamu berani sekali kamu mengabaikan perintah ku," kesal Bimo dengan nada terdengar murka karena perintahnya tidak di penuhi oleh pria di depannya saat ini.
Bimo menghampiri pria itu dan menepuk pundaknya dengan keras agar pria itu segera berbalik.
"Ck..." Bimo berdecak kesal.
"Baru ku tinggal beberapa jam saja kamu seperti ini," grutu Doni berbalik menampakkan wajah cemberutnya ke arah Bimo.
"Sialan kamu, kirain siapa ," grutu Bimo memukul pundak Doni kesal.
"Oh ya kamu kok jam segini berada di sini?" Tanya Doni saat tahu temannya itu berkeliaran tak jelas.
"Aku sedang mendisiplinkan beberapa bodyguard baru sering lupa peraturan di mansion ini," jawab Bimo.
"Kamu ingat tidak dulu kita sering diam-diam keluar sekedar untuk beli sate mang Uus," kata Doni mengingat semuanya sambil terkekeh.
"Ha ha ha ha ha ha, kamu ingat saja kejadian. Aku jadi malu apalagi mengingat kejadian itu," kata Bimo tertawa canggung.
"Sekarang kamu berubah," guman Doni masih bisa di dengar oleh Bimo saat ini.
"Berubah apa? Jadi katak atau superhero," canda Bimo.
"Ck mana ada seperti itu," kata Doni memutar bola matanya dengan malas.
"Kamu dulu suka buat rusuh dengan sifat polos mu itu dan sekarang kamu berubah jadi lebih dewasa berfikir, tegas bahkan beberapa dengan Bimo yang dulu, Bimo yang suka membuat kita kesal," jelas Doni panjang lebar.
__ADS_1
"He he he he he memang aku dulu begitu ya," kata Bimo menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ck...." Doni berdecak kesal mendengar jawaban Bimo.
"Dulu kita masih anak baru, sering berbuat salah dan selalu membuat Tito pusing karena kejahilan kita tetapi waktu mengubah semuanya, saat keadaan tuan muda terpuruk karena kehilangan kedua orang tuanya saat itu. Saat di mana dia memilihku menjadi pimpinan para bodyguard mengantikan Tito. Sejak itulah aku harus merubah diriku agar tegas, keras seperti Tito agar mereka semua menghormati ku dan mau mendengarkan perintah ku. Aku begini karena tugas dan tanggung jawab ku di sini semakin besar membuat Bimo yang cengengesan hilang berganti Bimo yang tegas dan tahan banting," jelas Bimo panjang lebar.
Doni menepuk pundak Bimo. "Kamu sekarang hebat, aku bangga kepada mu," kata Doni tersenyum sebelum pergi meninggalkan Bimo.
"Oh ya tadi kamu mau kemana?" Tanya Bimo berdiri mengikuti langkah kaki Doni.
"Aku mau ambil barang-barang istri ku yang tertinggal," jelas Doni membuat Bimo tak sabar menggodanya.
"Cie istri," goda Bimo.
Saat ada 2 bodyguard muda melewatinya, Bimo maupun Doni mengeluarkan wajah dingin dan garangnya saat itu juga membuat bodyguard tadi menunduk menyapa mereka setelah itu mereka kabur dari hadapan Bimo dan Doni.
"Ha ha ha ha ha ha, apa mereka kira kita hantu ya, sampai mereka ketakutan seperti itu," guman Doni menahan tawanya saat ini.
"Bukan hantu tetapi wajah mu itu lebih menyeramkan daripada hantu," kata Doni lagi membuat Bimo menatap sinis Doni.
"Ck padahal muka ku ganteng begini," grutu Bimo.
"Ganteng maksimal sampai bisa buat kaca burem seketika," sahut Doni berlari cepat meninggalkan Bimo.
"Hei dasar Doni, tumben mulut kamu bawel mau ku jahit," teriak Bimo mengejar Doni namun niat itu di urungkan saat melihat ada dua bodyguard yang berselisih paham membuat sedikit keonaran. Mau tak mau Bimo harus menanganinya secepatnya.
"Hei kalian kenapa buat masalah malam-malam," teriak Bimo mengentikan perdebatan mereka berdua, mereka menoleh saat melihat Bimo dan menghentikan aksinya dan menunduk takut.
"Kalian berdua lari keliling lapangan 50 kali dan jangan sampai kurang kalau tidak hukuman kalian ku tambah. Setelah selesai temui aku di paviliun dan jelaskan semuanya," perintah Bimo tanpa bisa di tawar lagi.
Sedangkan Doni menoleh sesaat sebelum itu tersenyum. "Kamu terlihat lebih tegas dan berwibawa," gumannya pelan saat melihat Bimo.
Setelah itu melanjutkan berjalan dengan cepat menuju ruang kerja tuan mudanya, dia sekedar ingin menyapa tuan mudanya sebelum dia kembali dengan barang-barang milik perempuan yang tak lain istrinya.
Bersambung...
__ADS_1