Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
48. Kagum


__ADS_3

"Kenapa sih mbak Nana manyun gitu?" Tanya Adit saat keluar dari kamar mandi menemukan kakaknya itu duduk dengan suaminya namun wajahnya terlihat tak enak di pandang.


Sedang yang di tanya memilih diam saja.


Karena tak mendapatkan jawaban, Adit pun beralih menatap pria di samping kakaknya itu. Dengan kode lirikan tetapi jawaban Doni mendelikkan bahunya sebagai tanda tak mengerti.


Adit menghela nafas panjang, dia pun duduk di dekat sang kakak.


"Ya sudah kalau mbak Nana tak mau menjawab tak apa-apa. Kita makan saja, mbak Nana ambilin gih," kata sang adik semakin membuat Tina memanyunkan bibirnya kesal.


"Dih tambah manyun sih," grutu Adit melihat wajah sang kakak.


Sedangkan Doni memilih diam, dia baru tahu kelakuan ajaib istrinya itu yang suka manyun tak jelas.


"Nah itu masalahnya," grutu Tina kesal mengingat tadi.


"Apa sih mbak," tanya Adit menghela nafas panjang, bagaimana tak kesal kalau di tanya diam tetapi gestur tubuhnya seperti kesal.


Adit pun melirik Doni dengan memelas.


"Ada apa? Ayo jujur. Kalau kamu tidak mau bicara kita tidak akan tahu karena pikiran manusia susah di tebak," kata Doni membujuk istrinya itu, membuat Tina menatap suaminya.


"Ya aku kesal saja, masak capek-capek buat nyambut mas Doni, bang Bimo dan buat makan kita rame-rame. Eh malah diangkut sama mbok Nah, mana tanpa permisi dan tak merasa bersalah," jelas Tina dengan grutuan seperti tak terima hasil kerja kerasnya memasak di ambil begitu saja tanpa pamit.


"Oh mbok nah," kata Adit menegaskan nama yang sering membuatnya naik darah itu.


"Kenapa sih dit? Kok mbok nah main ambil aja," grutu Tina.


Sedangkan Doni hanya menyimak pembicaraan keduanya.


"Oh itu karena kemarin kemarin pas pak Soleh sakit, ibu menawarkan agar mbok nah datang saja kerumahnya untuk ambil lauk takutnya di rumah mbok Nah tidak ada makanan. Eh malah keseringan padahal suaminya sudah sembuh 2 Minggu lalu," kelas Adit panjang lebar.


"Lha terus ibu bagaimana?" Tanya Tina heran.


"Ya ibu mau negur juga gak enak, lha kan ibu yang nawari," jawab Adit.


"Tetapi bukan begitu juga main ambil aja, kan seharusnya dia itu nunggu ibu buat ambilkan lauknya bukan malah di bawa semua tanpa ada sisa. Padahal tadi aku lihat pak Soleh pulang ke rumah pake baju rapi," protes Tina meluapkan emosinya.


Doni menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Iya juga sih mbak Nana benar, pak Soleh juga sudah kerja tetapi mau bagaimana lagi," keluh Adit.


"Jadi ibu masak dobel gitu atau bagaimana?" Tanya Tina binggung.


"Biasanya ibu suka ngumpetin makanan untuk ku di siang hari di dalam kamar biar gak ketahuan, kalau pagi itu ibu pisahin dan taruh di rantang terus aku yang naruh di kursi samping itu," kata Adit dengan jelas menunjukkan kursi panjang yang ada di samping pintu di dekat dapur itu.


"Sudah tidak apa-apa, jangan di perpanjang lagi," pinta Doni membuat keduanya mendesah lelah.


"Kalian jangan marah, nih uang kamu bisa beli lauk saja karena nasi nya masih ada," kata Doni mengambil uang 500 ribu dan di serahkan ke istrinya.


"Biar Adit saja yang beli, mbak Nana diam saja di rumah biar gak capek," kata Adit membujuk. Doni mengelengkan kepalanya melihat kelakuan adik iparnya itu.


"Ya sudah kalau kamu maksa begini," seru Tina saat melihat adiknya.


"Beli apa saja mbak?" Tanya Adit binggung tak tahu makanan kesukaan Doni.


"Terserah kamu beli lauk apa aja. Ayo cepat kamu berangkat, perutku dah lapar," sahut Doni dengan cepat membuat Adit pun bergegas ke warung milik mang Rudi.


"Oh ya lebihnya ambil saja," sahut Doni kepada Adit membuat senyum Adit semakin lebar.


"Asyik..." Seru Adit di dalam hatinya saat ini.


Adit pun ke warung mang Rudi yang penjual bakso dan membeli 10 porsi dan beralih ke warung nasi milik Bu Denis untuk membeli, gorengan tempe mendoan, rawon dan es campur kesukaannya.


"Iya mbak putusin buat makan di sini rame-rame. Ayo tadi kamu beli apa saja," kata Tina bertanya-tanya apa saja yang sudah adiknya bawa saat ini.


"Nih..." Adit menaruh 3 bungkus plastik yang terlihat berat.


Adit bahkan di bantu temannya untuk membawa pulang ke rumah sebagai gantinya dia memberikan seporsi bakso sebagai upahnya.


"Terimakasih Dit," sahutnya berlalu cepat pergi meninggalkan rumah temannya itu.


Tina membuka satu persatu kantong kresek itu, dia menemukan 9 bungkus bakso, rawon kesukaannya, ada tempe mendoan dan tak lupa es campur yang menggiurkan untuk di seruput secepatnya.


Tina dengan gesit mengambil tempat untuk rawon, dan tresmos besar untuk tempat es.


Tina pun menata semua piring, milik Doni, Bimo, adiknya dan kedua orang tuanya juga.


Total semua ada ada 6 piring.

__ADS_1


"Dit kamu kok beli bakso sembilan sih, ini sih lebih kan kita cuma 6 orang," grutu kakaknya itu.


"Ye elaaaah mbak Nana, biar nanti kalau ada yang masih lapar bisa nambah," seru Adit dengan entengnya namun jawaban ada benarnya juga.


"Oh ya ibu mana sih?" Tanya adiknya itu.


"Entahlah ibu dari tadi gak kelihatan," jawabnya.


"Ya sudah kita makan saja," seru bapak yang baru hadir.


"Terus ibu bagaimana pak?" Tanya Tina penasaran.


"Ibu lagi pergi ke rumah Tante kamu yang ada di desa sebelah untuk mengantarkan oleh-oleh," jelas bapak.


"Oh pantes ibu tak kelihatan," seru Tina.


"Ayo semuanya silahkan," kata Tina mempersilahkan semuanya.


Bimo yang sudah lapar pun mengambil nasi dengan cepat karena merasa lapar.


"Dit ambilin minuman air mineral gih takutnya teman kakak kamu itu kehausan," pinta bapak saat melihat Bimo makan dengan lahap.


Doni meringis melihat kelakuan temannya itu, makan seperti orang di kejar waktu.


"Iya pak," Adit pun berdiri mengambil botol minuman berukuran besar ada 2 dan gelas 6.


"Bim, pelan-pelan saja malu di lihatnya," kata Doni berbisik saat melihat temannya itu makan dengan lahap dalam waktu singkat seperti yang biasa dia lakukan di mansion.


"Jangan banyak omong," grutu Bimo kesal menjawab ucapan Doni.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk...." Bimo terbatuk membuat Doni dengan cepat memberinya minuman.


"Maaf pak, kami sebagai bodyguard memang semua dituntut cepat," jelas Bimo kepada mereka semua agar mereka maklum.


"Semua harus tepat waktu karena pekerjaan kita bukan hanya mengawal namun juga memastikan semua aman," sambung Doni.


Adit yang mendengar itu di buat tersenyum lebar. "Benar pekerjaan kakak itu bodyguard yang sering mengawal pejabat, artis bahkan CEO atau bos-bos besar?" Tanya sang adik antusias.


"Iya," jawab Doni semakin membuat adikt berdecak kagum.

__ADS_1


Sedangkan bapak mengelengkan kepalanya melihat kelakuan anak laki-lakinya itu.


Bersambung....


__ADS_2