
Doni masih mengikuti langkah keluarga kecil itu dari belakang dari jarak yang cukup jauh.
Sesekali Doni menghela nafas panjang, bagaimana bisa dirinya harus mengikuti sang tuan muda masuk ke dalam Kebun Binatang yang khusus untuk anak-anak.
"Hei kamu," kata Doni menujuk ke arah anak buahnya.
Pria yang di panggil itu segera menghampiri Doni.
"Ada apa bos?" Tanya pria itu dengan patuh dan menundukkan kepalanya hormat.
"Kamu kawal tuan muda dan keluarganya dengan baik," perintah Doni dengan tegas. Sesekali Doni membenarkan kaca mata dan maskernya.
"Baik tuan," pria itu mengangguk patuh.
Doni pun berjalan menuju ke arah Bimo berpamitan, dia sudah tak betah berada di sini.
"Kamu saja yang mengawal tuan muda dan keluarganya," pinta Doni kepada Bimo.
"Hei kamu mau kemana?" Tanya Bimo penasaran.
"Aku mau keluar," jelasnya dengan singkat.
"Kemana?" Mulut Bimo tak berhenti bertanya terus kepada Doni membuat dia kesal.
"Ck tanya terus sih. Aku mau ngopi, bosen di sini lihat teman kamu," jawab Doni berlalu pergi.
"Hei sialan, maksud kamu orang hutan itu teman ku," grutu Bimo tak terima. Sedangkan Doni hanya mendelik kan bahunya acuh dan pergi tak lupa melirik ke arah pengasuh si kembar dengan tatapan tajam.
"Ck teman ku itu kamu jadi kita sama-sama temannya," teriak Bimo kesal namun Doni tak mendengar ucapan Bimo itu karena dia sudah pergi menjauh.
Setelah berjalan cukup lama lama si kembar merengek karena kelelahan. Sang tuan muda pun meminta kepada Bimo untuk mengendong Aurel, Abraham juga mencari keberadaan Doni namun Bimo menjelaskan kalau saat ini Doni sudah keluar dari tempat ini.
Karena semua sudah lelah mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dan berencana menuju restoran tak jauh dari sana untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncong. Bimo menyambut perkataan sang tuan muda dengan antusias.
Namun Doni tak bisa ikut, dia harus memastikan pengasih si kembar pulang dengan selamat. Ya meskipun Doni sedikit tak suka dengan perempuan itu namun Doni harus bersikap profesional.
DI DALAM MOBIL....
__ADS_1
"Kamu jangan pernah memiliki pemikiran yang macam-macam, karena itu bisa berakibat buruk untuk kamu," kata Doni tanpa menoleh ke arah wanita di sampingnya.
Bibir wanita itu berkedut, dia tak tahu apa yang harus dia katakan saat ini. Pria di depannya itu seakan tahu kalau diam-diam dia mengangumi tuan muda Abraham yang tak lain adalah istri dari majikannya itu.
Melihat perempuan itu terdiam Doni pun melanjutkan ucapannya lagi. " Apa yang menurut mu baik itu belum tentu baik untuk mu dan orang lain, jangan pernah membalas kebaikan orang lain dengan keburukan," kata Doni bagai pisau yang menembus hati perempuan itu.
"Apakah salah kalau aku kagum dengan tuan muda Abraham," gumamnya dengan lirih dan bersuara kecil.
Untung saja tadi Doni meminta beberapa anak buahnya tadi untuk turun dan ikut mobil yang lain untuk menjaga keluarga tuan muda sehingga pembicaraan ini tak di dengar oleh orang lain.
"Ck kamu bilamg cuma kagum. Ha ha ha ha ha ha ha ha...... Iya awalnya cuma kagum namun hati seseorang tak ada yang tahu apalagi manusia itu banyak yang serakah tidak kemungkinan rasa kamu itu berubah menjadi obsesi untuk memiliki jadi akhirilah sebelum terlambat," sinis Doni namun di akhiri dengan nada peringatan, kata-kata Doni itu mampu membuat mbak Tina menjadi gelisah.
Setelah itu mobil terasa sunyi tak ada lagi percakapan di antara kedua.
Tak terasa mobil susah sampai di mansion, Doni bergegas turun dari mobil.
Doni menatap perempuan di samping dengan menghela nafas panjang.
"Apa kamu tidak ingin turun dan melanjutkan melamun di sini," sindir Doni saat perempuan itu tak kunjung turun.
"Tadi saja tidak mau turun, sekarang dia malah bergegas pergi seperti di kejar hantu. Dasar perempuan aneh," guman Doni mengelengkan kepalanya saat menatap punggung mungil mbak Tina yang menjauh dari tempat itu.
Doni pun cuek saja langsung menuju paviliun untuk beristirahat, lumayan masih ada waktu beberapa jam sebelum tuan mudanya itu pulang.
Sedangkan mbak Tina jalan tergesa-gesa tanpa sadar menabrak seseorang. Untung saja orang itu dengan sigap menangkap mbak Tina.
"Eh maaf ya mbak, aku tergesa-gesa," kata Tio.
Ya pria yang masih mendekap erat mbak Tina adalah Tio.
Buru-buru mbak Tina melepaskan diri dari pelukan Tio.
"Eh mas Tio, tidak apa-apa kok bukan mas Tio yang salah tetapi aku yang tidak melihat jalan," kata mbak Tina menyahut ucapan Tio dengan cepat.
Dia merasa canggung dengan suasana seperti tadi.
Di sisi lain ada seseorang yang menatap keduanya dengan pandangan rumit. "Ck dasar suka tebar pesona," guman pria itu berlalu pergi.
__ADS_1
Pria itu tak lain adalah Doni, dia tak sengaja melihat mbak Tina dan Tio saling berpelukan tadi.
"Oh ya mbak Tina kok sudah pulang, mana kak Arin dan si kembar?" Tanya Tio mencoba mengurai rasa canggung.
"Saya di suruh pulang oleh Bu Arin karena mereka masih ada urusan dan takut saya lelah menunggu nanti," mbak Tina menjelaskan sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Arin tadi.
"Oh begitu," jawab Tio mengangguk.
"Ah aku harus pergi sudah telat," kata Tio menatap jam di tangannya. Tio pun bergegas pergi.
"Iya mas, hati-hati," kata mbak Tina melambaikan tangan ke arah Tio membuat Tio menoleh dan ikut melambaikan tangannya dan tersenyum manis.
Setelah itu mbak Tina pun pergi menuju kamarnya.
Tio menatap punggung mungil mbak Tina dengan pemandangan rumit.
DI KAMAR MBAK TINA.
"Hiks hiks hiks hiks hiks apa salah kalau aku suka kepada tuan Abraham."
"Ini juga bukan mau ku tetapi rasa itu datang tanpa ku minta."
Mbak Tina menangis di atas ranjang tempat tidur sambil memeluk guling meluapkan rasa sesak di hatinya, mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.
Karena merasa lelah, mbak Tina pun sampai tertidur.
.
.
Doni saat ini berada di paviliun bukannya istirahat seperti keinginannya tadi namun entah ada perasaan tak terlukiskan di hatinya.
"Ah kenapa aku harus pusing-pusing memikirkan perempuan itu, dia mau sama Tio pun bagus agar dia tak menganggu tuan muda dan keluarganya," gumamnya mengelengkan kepalanya.
"Mending ngopi," kata Doni menuju dapur dan mengambil kopi bubuk plus gula dan menaruhnya di dalam gelas tak lupa memasak air.
Bersambung....
__ADS_1