Suamiku Bodyguard Buruk Rupa

Suamiku Bodyguard Buruk Rupa
9. Rasa yang patah sebelum berkembang


__ADS_3

"Hmmm....." Jawab Doni mengangguk pahit.


"Em e a-ku balik dulu ya bang, takut ayah nyariin," kata Rani binggung harus bagaimana saat berada di dekat Doni saat ini, jujur Rani sedikit kecewa mendengar kalau wajah pria di depannya tak mungkin bisa pulih seperti sedia kala.


"Iya," Doni menyahut namun hatinya bergejolak menahan rasa kecewa, Doni tahu kalau Rani sengaja tak ingin berlama-lama di sini saat mengetahui dirinya mungkin akan cacat, lagi-lagi Doni tersenyum getir menahan rasa kecewa dari wanita di depannya saat ini. Sepertinya wanita itu akan benar-benar pergi menjauhi dirinya.


"Ha ha ha ha ha ha, di dunia ini tak ada yang setia selain Bimo. Mungkin dengan musibah ini aku bisa tahu mana yang benar-benar tulus kepada ku," batin Doni dengan tertawa getir sambil menatap wanita di depan dengan perasaan yang rumit.


"Bang Doni istirahat saja, saya pamit pulang dulu," kata Rani sebelum dia berlalu pergi meninggalkan Doni yang tersenyum namun bukan senyum bahagia melainkan senyum masam.


"Lho kok cepat?" Tanya Bimo heran biasanya keduanya akan sering mengobrol cukup lama saat keduanya tak sengaja berpapasan.


"Mungkin dia ada urusan lain," jawab Doni mencoba menutupi rasa sakit hatinya, apalagi melihat perubahan wajah dari perempuan yang selama ini dekat dengan dirinya itu.


"Oh...."


"Aku mau keluar cari cemilan, kamu mau nitip apa?" Tanya Bimo yang sudah berganti dengan celana pendek selutut dan kaos oblong.


"Tidak, aku ingin istirahat," jawabnya.


Bimo pun mengangguk mengerti tanpa banyak bertanya lagi dia pun keluar dari kamarnya.


"Nanti akan ku bawakan cemilan takutnya nanti dia lapar," batin Bimo. Meskipun Doni tak meminta namun Bimo tahu kalau Doni belum makan siang tadi, ya Doni menolak makan siang tadi saat di rumah sakit tentunya sebelum Reza menjemput mereka tadi, Bimo paham mungkin Doni masih sedih jadi dia tidak nafsu makan.


DI LUAR HALAMAN...


Tepatnya di taman tak jauh dari paviliun tempat para bodyguard, ada jalan kecil yang menghubungkan paviliun dengan mansion.


Rani berjalan sambil melamun.


BRUGH...


"Eh bapak?" Sapa Rani saat dirinya tak sengaja menyenggol seseorang.


"Kamu kenapa di sini?" Tanya kepala pelayan yang tak lain adalah ayah dari gadis cantik di depannya.


"Eh tidak apa-apa kok yah, aku cuma lagi nikmati suasana sore hari, siapa tahu bisa melihat matahari tenggelam," elak Rani dengan senyum terpaksa.

__ADS_1


"Melamun atau menikmati? Sampai ayah lewat saja tak tahu," sindir sang ayah menatap ke arah sang anak.


"He he he he he he, ah ayah," rengek Rani manja.


"Sudah sana balik, tak baik anak perempuan bengong di sini nanti nanti ketempelan penunggu pohon yang ada di sana," jawab sang ayah mencoba menakut-nakuti sang anak agar cepat kembali ke dalam mansion apalagi hari sudah sore, waktunya para bodyguard itu kembali ke paviliun.


"Baik yah," jawab Rani patuh.


Setelah itu kepala pelayan menuju tempat penyimpanan bahan makanan untuk mengecek persediaan bahan makanan, apakah cukup untuk satu bulan ini atau tidak.


.


.


Doni bilang kepada Bimo kalau dia ingin beristirahat namun ucapannya tak selaras dengan hatinya, dia masih tak bisa tertidur dan memejamkan matanya.


Doni terdiam menatap ke atas, tubuhnya sudah tidak merasakan sakit atau apapun itu namun hatinya yang kini justru sakit.


Berkali-kali dia menghela nafas panjang. Dia harus memutus tunas cinta yang masih kecil di hatinya agar tidak menjalar dan tumbuh besar karena dia yakin cintanya tak mungkin berbalas dengan wajahnya yang mungkin sudah cacat itu.


Namun buru-buru dia menyangkalnya.


"Ha ha ha ha ha, tidak mungkin ada yang mau dengan ku yang jelek ini," tawa getir Doni di dalam hati.


"Memang benar tidak mungkin," gumamnya lirih .


"Apanya yang tidak mungkin?" Tanya seseorang yang sudah berdiri tak jauh dari Doni.


"Hah...." Doni merasa kaget apalagi saat mengetahui pria di depannya bukanlah Bimo.


"Tu-an muda...." Kata Doni, sejujurnya Doni merasa heran bagaimana dia tak mengetahui kedatangan tuan mudanya.


Doni berniat bangun untuk duduk karena dia merasa tak nyaman saat berbicara dengan tuan mudanya dalam kondisi tidur.


"Jangan, tidur saja," perintah tuan muda nya saat ini.


"Tetapi tuan...." Tolak Doni namun dengan cepat Abraham mengangkat tangan nya agar Doni tak menolak perintahnya saat ini.

__ADS_1


Akhirnya Doni pun terdiam mengerti.


"Bagaimana kondisi mu saat ini?" Tanya Abraham.


"Alhamdulillah saya sudah tidak apa-apa," jawab Doni namun tatapan mata Abraham tertuju ke arah wajah Doni dengan sendu.


Doni yang mengerti pun angkat bicara.


"Tuan jangan sedih, saya sudah tak apa-apa jadi anda jangan khawatir," kata Doni.


"Aku tak tahu harus berbicara apa, tetapi aku sangat berterima kasih kepada mu, jujur saat aku berada di sana sendirian.... Aku sudah menyerah mungkin ini adalah akhir hidup ku namun aku tak percaya kalau ada orang yang dengan berani menerobos api untuk menyelamatkan ku. Ini terimalah sebagai tanda terima kasih ku," jelas Abraham mengutarakan isi hatinya, dia menyerahkan sertifikat rumah kepada Doni sebagai hadiah terima kasih, meskipun itu semua tak sebanding dengan pengorbanan Doni.


"Tuan tidak boleh berkata seperti itu karena melindungi tuan muda adalah tugas kami," jelas Doni sambil mendorong map itu, Doni menolak karena itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang bodyguard.


"Terimalah, meskipun itu tak sebanding dengan apa yang kamu lakukan. Tenang saja itu bukan ku ambil atau meminta dari papa. Itu semua murni uang ku jadi kamu jangan merasa sungkan atau khawatir.


"Tetapi tuan....'' Doni ingin menolak namun wajah sedih Abraham membuatnya tak enak menolak.


Abraham kembali menyodorkan map tadi, sedangkan Doni masih binggung harus bagaimana? Menolak pun tak bisa apalagi tatapan sendu dari sang tuan muda.


"Terimalah...." Pinta Abraham.


Doni menghela nafas berat, dengan ragu Doni pun mengambil map di depannya saat ini.


"Terima kasih tuan," kata Doni.


"Meskipun itu tak seberapa dengan pengorbanan mu. Oh ya aku akan usahakan untuk mengoperasikan wajah mu agar bisa sembuh tetapi kamu harus menunggu, bisakah,'' jelas Abraham.


"Maksud tuan," Doni masih tak percaya dengan kata yang keluar dari mulut sang tuan muda yang bilang atau lebih tepatnya meminta persetujuan darinya saat ini.


"Aku kan berusaha lebih keras lagi untuk mengumpulkan uang agar wajah kamu kembali seperti semula," guman Abraham dengan lirih.


"Anda tidak perlu berkata seperti itu lagi tuan. Terima kasih karena anda sudah menyempatkan diri untuk menjenguk saya," Jawab Doni dengan formal.


"Tidak perlu berterima kasih untuk kesekian kalinya," tolak sang tuan muda.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2