
Doni sering mendapatkan tugas untuk mengikuti tuan mudanya itu, awalnya Doni menolak permintaan sang tuan muda karena merasa dirinya tak pantas mengingat wajahnya kini yang terlihat menyeramkan, dalam hatinya Doni takut tuan mudanya itu akan malu, namun justru tuan mudanya tak pernah bersikap demikian malah tuan mudanya sering menyemangati dirinya agar tak merasa minder ataupun malu. Dengan segala paksaan dari tuan mudanya itu akhirnya Doni hanya bisa mengangguk setuju.
Doni ingat saat pembicaraan waktu itu dengan sang tuan muda.
FLASHBACK ON
Doni tengah berjalan menuju ke arah kamarnya, di jalan dia berpapasan dengan sang tuan muda.
"Tuan muda," Doni menyapa sang tuan muda dengan menunduk sopan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Abraham.
"Saya ingin ke kamar untuk beristirahat," lirih Doni.
"Kenapa kamu tidak berlatih dengan mereka?"Tanya sang tuan muda dengan menatap Doni penuh curiga.
"Em m m.... Saya merasa tak enak badan," bohong Doni menampilkan senyum palsunya.
Abraham tau dengan isi hati Doni saat ini, dia hanya mengangguk saja dan berpura-pura tak mengerti.
Tuan muda Abraham tersenyum setelah selesai membujuk Doni, dia menepuk pundak Doni sebelum itu dia memberikan sebuah kotak kecil itu Doni. "Pakailah nanti kalau kamu bertugas."
Abraham pergi meninggalkan Doni yang masih binggung menatap sebuah kotak yang di berikan oleh tuan mudanya itu, kotak itu terasa ringan membuat Doni semakin dilanda rasa penasaran.
Dengan ragu Doni membukanya.
D E G G...
Sudut bibirnya tersenyum namun setelah itu Doni mengelengkan kepalanya. "Tuan muda pasti tak ingin aku malu dan memberikan ku masker dan kaca mata untuk menutupi wajahku saat bertugas," lirihnya.
Bukannya marah atau merasa terhina, justru Doni terharu dengan apa yang di pikirkan tuan mudanya. Saat Doni mengambil masker itu terdapat kertas kecil di sana.
Doni mengambilnya dan membaca isi pesan yang sengaja tinggalkan oleh tuan mudanya tadi.
"Aku bukan berniat menyinggung perasaan mu dengan barang-barang itu, namun aku hanya ingin kamu selalu berada di sisi ku menemaniku kemanapun aku pergi karena aku dapat melihat ketulusan di mata mu saat menolong ku waktu itu."
Isi pesan dari Tuan Muda Abraham....
__ADS_1
Doni dengan cepat memasukan semua dengan rapi ke dalam kotak dan berjalan menuju ke dalam kamarnya.
SEDANGKAN DI SISI LAIN....
Abraham datang menuju ke lapangan di mana sebagian besar para bodyguard itu berkumpul untuk berlatih.
"Tuan muda," sapa Tito yang langsung menunduk saat bertemu dengan tuan mudanya itu.
"Apa yang membawa anda sampai ke sini tuan muda?" Tanya Mark dengan sopan karena dia tahu seberapa sibuknya tuan mudanya itu.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu dengan kalian semua," jelas tuan muda Abraham dengan sorot mata tajam penuh dengan ketegasan.
Tito maupun Mark terdiam sesaat namun dengan wajah yang terlihat kaget.
"Ba-ik tuan muda," jawab Tio dengan raut wajah gugup, dia binggung apa yang membuat tuan mudanya itu sampai ingin berbicara dengan anak buahnya.
"Apa ada yang membuat tuan muda marah," batin Mark.
"Apa yang ingin tuan muda sampai kan kepada kita? Atau ada yang menyinggung tuan muda?" Batin Tito bertanya-tanya karena dia tahu sifat tuan mudanya mengingat dirinya sudah lama mengikuti keluarga ini.
"Posisi barisan siap gerak .." Mark berteriak kencang membuat semua bodyguard yang bersantai pun berbaris rapi sesuai dengan arahan.
"Siap..." Seru mereka semua dengan serempak.
"Silahkan tuan muda," kata Tito mempersilahkan tuan mudanya itu untuk menyampaikan pesan.
"Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang harus kalian ingat baik-baik dan apabila ada yang protes silahkan angkat kaki dari sini," tegas Abraham.
"Siap tuan muda," jawabnya serempak.
Mark dan Tito saling lempar tatapan, keduanya seolah-olah bertanya ada apa ini.
"Yang pertama aku ingin mengangkat Doni sebagai bodyguard kepercayaan ku dan Bimo. Kedua aku ingin kalian menghormati Doni dan jangan ada yang menjelekkan dirinya karena wajahnya yang tak seperti sedia kala atau kalian menyebutnya buruk rupa. ( Sesaat Abraham menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya) Apa kalian tahu kalau wajah Doni saat ini adalah bentuk tanggung jawabnya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang bodyguard sejati. Kalaupun kalian berada di posisinya, apakah kalian bisa setegar Doni, apakah kalian tidak akan menyalahkan saya karena semua itu terjadi akibat dari menyelamatkan saya."
Kata-kata Abraham begitu menohok di hati semuanya, Tito menunduk meremas dadanya. Dia merasa gagal sebagai pimpinan karena tidak ada di sana untuk melindungi tuan mudanya.
Sedangkan Mark juga ikut merasa bersalah setelah meresapi kata-kata tuan mudanya saat ini. Dia menunduk tak berani menatap Tian mudanya saat ini yang terlihat begitu bijaksana.
__ADS_1
Semua bodyguard yang sedang berbaris itu terdiam, tenggorokannya tercekat mendengar kata-kata sang tuan muda yang secara tidak sengaja menyindir mereka secara langsung, menyindir mereka yang sering membicarakan Doni di belakang.
"Sekali saya dengar kalian mengatakan hal-hal yang jelek tentang Doni, saya pastikan hari itu juga kalian akan saya berhentikan," tegas Abraham membuat semuanya gemetar ketakutan.
"Kenapa tuan muda memihak ke Doni," terdengar suara grutuan dari seseorang yang tak begitu suka dengan Doni.
Semuanya yang mendengar ucapan dari pria yang di belakang itu merutuki kebodohan pria itu, bisa-bisanya mulutnya itu berbicara begitu di hadapan sang tuan muda. Padahal baru saja tuan mudanya itu memberi peringatan.
Samar-samar namun Abraham bisa mendengarnya. Tangannya terkepal erat penuh emosi namun dengan cepat Abraham menormalkan kembali wajahnya mengatur emosinya agar tak terpancing.
"Saya bukan memihak tetapi saya menyadarkan kalian semua apa itu bodyguard sejati yang melindungi tuan mudanya tanpa kenal rasa takut," tegas Abraham dengan sinis.
"Tito....." Teriak Abraham.
G L E E K...
Beberapa orang menelan ludah kasar, mereka bisa menebak arah dari teriakan sang tuan muda.
"Habis sudah nasib mu nak," batin Tito yang kasihan dengan pria yang keceplosan berbicara tadi. Ya Tito berfikir mungkin pria itu keceplosan salah berbicara.
"Ah sudah lah itu bukan urusan ku," batin Tito seperti pemikiran semua yang ada di sana tentunya.
"Ya tuan muda," jawab Tito dengan cepat.
"Pecat pria tadi dan pastikan satu jam nanti saya tak melihat wajahnya di sekitar sini," tegas Abraham.
Pria itu langsung berlari menuju ke arah Abraham.
"Tuan maafkan kelancang saya tadi," pintanya memelas.
"Ck aku tahu permintaan maaf mu hanya di mulut saja," sinis Abraham.
"Mark seret dia pergi," titah Abraham dengan tegas membuat aura di sekitarnya semakin tegang di buatnya.
Setelah itu Abraham pergi meninggalkan mereka yang masih terpaku dengan kejadian tadi.
FLASHBACK END
__ADS_1
Bersambung....