
Doni menggeliat, menoleh ke samping ternyata Doni baru menyadari kalau dirinya ketiduran. Dengan cepat Doni langsung terbangun dari tempat tidurnya. Dia menatap jam dinding itu dengan kaget.
"Hah sudah jam 1, kenapa aku bisa seceroboh ini ketiduran padahal tuan muda tadi memintaku mengantarkannya," guman Doni dengan cepat menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan menyegarkan pikirannya supaya lebih segar lagi. Setelah selesai mandi Doni dengan cepat juga berganti pakaian, mengambil sepatu dan keperluan lainnya.
Doni berlari menuju ke kamar sang Guan muda.
Tok tok tok tok tok....
"Tuan muda," panggil Doni.
Tok tok tok...
"Tuan muda," panggil Doni sekali lagi karena tak ada sahutan dari dalam.
"Tuan muda tidak ada di kamarnya," jelas salah satu asisten sang koki saat Sedati tadi melihat Doni mengetuk pintu kamar tuan mudanya.
"Kemana?" Tanya Doni.
"Tuan muda sudah berangkat dari tadi diantar supir dan Bimo," jelasnya.
"Oh ya sudah terima kasih," kata Doni berterima kasih kepada asisten koki itu.
"Iya sama-sama."
Doni pun meninggalkan tempat itu dan menuju dapur untuk makan siang namun saat di tengah jalan ponsel miliknya berbunyi.
Doni tersenyum saat membaca pesan tersebut, setelah itu dia berlari menuju ke arah mobilnya dengan tergesa-gesa. Dia hanya membawa ponsel dan dompetnya saja, tentunya masker dan kaca mata juga selalu tersedia di dalam mobilnya.
"Akhirnya," guman Doni setelah menunggu beberapa hari.
Doni segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
.
.
Mobil berhenti di sebuah restoran, Doni segera menuju ke arah orang yang menghubunginya tadi.
"Di mana dia sekarang?" Tanya Doni tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Arah jam 9 bos," jelasnya tanpa menoleh ke belakang takut orang itu sadar kalau dia sedang di awasi.
"Bagus kerja kalian," kata Doni dengan puas.
"Mereka juga baru saja tiba," jelas pria itu kepada Doni.
"Ya sudah bos kami pamit dulu," kata pria itu memohon ijin untuk pergi.
"Terima kasih kalyan telah bekerja dengan baik," kata Doni.
Setelah kedua orang tadi meninggalkan tempat ini, Doni mengambil tempat duduk tak jauh dari sana agar bisa mendengarkan pembicaraan mereka, dia(Doni) duduk membelakangi target agar dia tak di curigai atau ketahuan. Untuk tak mengundang kecurigaan dari kedua orang yang sedang duduk berhadapan di belakangnya itu, Doni juga memesan minuman dan cemilan.
Di meja sebrang ....
"Kenapa kamu tidak pulang saja ke rumah kita, betah banget sih tidur di tempat kost yang sempit itu dan serba minim perabotan," kata pria tampan yang duduk di depan perempuan cantik itu.
"Kakak tahu kan alasan ku, aku ingin mencari cinta tulus dari pria bukan mencari pria yang mata duitan," protes perempuan cantik itu.
"Aruna, kakak mohon pulanglah," bujuk pria itu yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
"Tidak kak sebelum aku menemukannya," tolak wanita itu.
"Ada Wiliam yang tulus cinta kepada mu meskipun dia bukan dari golongan seperti kita," bujuk sang kakak lagi.
"Terus siapa? Jangan bilang kalau Abraham," kata sang kakak secara tepat membuat Aruna di buat bungkam.
"Ternyata benar adikku suka dengan si Abraham yang terkenal jarang bergaul dengan wanita atau membatasi diri dengan wanita," kata sang kakak, Aruna mengangguk malu.
Doni sedikit tersenyum tipis ternyata wanita ini tidak mempunyai niat buruk kepada tuannya, dia hanya ingin mencari pria yang mencintai dia apa adanya.
"Jujurlah dengan Abraham siapa kamu sebenarnya, aku takut dia akan kecewa saat tahu kamu berbohong kepadanya. Percayalah kalau pria itu suka kepada mu dan akan menerima mu apa adanya, lagian Abraham tak akan memanfaatkan dirimu karena dia bukan orang miskin, dia setara dengan kita bahkan mungkin kekayaannya di sana lebih banyak dari kita," jelas sang kakak.
Doni mendengar itupun langsung berdiri, dia pun berjalan menghampiri Aruna dan pria yang di panggilnya dengan sebutan kakak.
"Aku sarankan agar nona Aruna jujur saja, karena sekarang tuan muda Abraham juga belum menyatakan cinta dengan anda dan kalian hanya sebatas dekat saja, aku tak ingin tuan muda saya merasa di bohongi nanti kalau benar-benar kalian bersama. Cinta itu kepercayaan bukan kebohongan, permisi," kata Doni setelah itu dia pun pergi meninggalkan meja keduanya dengan gaya cool nya.
Sedangkan Aruna masih terdiam tak percaya, bodyguard kepercayaan Abraham telah mengetahui semuanya yang telah dia sembunyikan selama ini.
"Siapa dia?" Tanya kakak Aruna.
__ADS_1
"Dia bodyguard yang selalu mengawal Abraham kemanapun," jelas Aruna dengan sedikit lesu.
"Benar kata dia, kamu sebaiknya jujur saja mengenai perasaan mu yang berbalas atau tidak kamu harus menerimanya nanti," kata sang kakak menasehati.
"Iya kak, mungkin ini saatnya aku harus jujur," kata Aruna.
"Nah ini baru adik kakak, berarti kamu hari ini akan pulang ke rumah dan tidak lagi tinggal di tempat jelek itu," kaya sang kakak.
"Tetapi barang-barang ku kak?" Protes Aruna.
"Itu gampang biar orang suruhan kakak yang akan packing semua barang kamu," jelasnya.
"Benar ya, aku tidak mau ada satupun yang terlewat atau hilang kalau tidak aku akan membuat kakak menyesal," ancam Aruna.
"Beres itu," jawab sang kakak.
"Kak tetapi aku tak suka barang pribadi ku di lihat orang," lirih Aruna sedikit malu dengan wajah memerah.
Sang kakak menyerngit heran, tak tahu maksud kata-kata sang adik.
"Apa?" Tanya sang kakak.
Aruna pun membisikkan sesuatu membuat kakaknya mengelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau nanti kita mampir ke sana untuk membereskan dulu sebelum kita pulang ke rumah," usul sang kakak.
"Ok kakak ku sayang," jawab Aruna membuat sang kakak hanya bisa tersenyum melihat adiknya itu.
"Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu adikku," batinnya menatap sang adik dengan senyum mengembang.
"Ayo makan," ajak sang kakak menambahkan lagi lauk ke dalam piring Aruna.
"Kak ini nasi nya mau habis kok malah di tambahin lauk sih," protes Aruna.
"Ya sudah tinggal tambahin nasi kan beres. Lihat tuh badan kamu semakin kurus apa kamu kurang makan ya," kata sang kakak.
"Ish mana bisa, aku bukannya kurus tapi berat badan ku ini ideal," jawab Aruna manyun.
Sedangkan Doni saat ini berada di dalam mobil, melihat keakraban kedua orang yang tak lain kakak beradik itu dengan senyum tulus.
__ADS_1
"Maaf aku berfikir tidak-tidak tentang mu ternyata kamu melakukan semua ini dengan niat yang baik," guman Doni sebelum mobilnya melaju meninggalkan restoran itu.
Bersambung....