
Saat ini Tina dan Doni sudah bersiap untuk tidur di kamar mereka.
Dengan gugup Tina mengikuti langkah Doni masuk kedalam kamarnya, kedua tangan Tina samping meremas gugup.
Ceklek
Tina membuka pintu dan masuk terlebih dahulu.
Doni binggung saat melihat ranjang di kamar ini terlalu kecil untuk di tempati berdua.
"Aku tidur dimana?" Batin Doni penuh tanya saat melihat ukuran ranjang itu.
"Masa aku tidur di luar padahal aku ingin memeluk dia sampai pagi," sambung Doni dalam hatinya lagi.
"Mas Doni bisa tidur di ranjang sedangkan aku bisa tidur di bawah," usul sang istri saat melihat suaminya terlihat kebingungan.
"Bagaimana bisa begitu," protes Doni tak terima kalau niatnya harus pupus.
"Kita tidur berdua," putus Doni yang tak ingin rencana tidur sambil memeluk sang istri terganggu, tiba-tiba Doni merangkul sang istri dari belakang dan langsung merebahkan tubuh keduanya di atas ranjang.
"Ih mas Doni ngagetin saja," kata Tina bercampur kaget, Tina langsung mengerucutkan bibirnya.
Cup...
Doni mencium bibir istrinya dengan singkat, hal itu membuat Tina melotot dan memegang sesaat.
Doni terkikik saat melihat reaksi istrinya itu. Tina langsung sadar dan pipinya memanas mengingat kejadian tadi.
Krekkk...
Terdengar suara aneh yang membuat Doni menyergit. "Suara apa itu?" Tanya Doni penasaran.
"Suara apa sih mas, aku tidak dengar apapun itu," jawab sang istri memang dia tadi melamun dan tak mendengar suara apapun.
Krekkkkkk....
Suara itu semakin keras, keduanya saling berpandangan namun sesaat kemudian...
Kraaakkk...... Brughhhh
Keduanya terbengong syok dengan apa yang dialami. Keduanya tak menyangka semua ini terjadi kepada mereka berdua. Merasa lucu, keduanya pun tertawa terbahak-bahak.
Ha ha ha ha ha....
Ha ha ha ha ha...
"Kok bisa ya mas," Tina masih belum percaya kalau kejadian memalukan ini terjadi.
__ADS_1
"Ha ha ha ha, lucu banget sih baru kali ini aku ngalamin yang begini. Kok bisa sih ranjangnya ambruk," kata Doni sambil tertawa karena merasa lucu.
"Mungkin kayu nya sudah lapuk mas," keluh Tina.
"Ha ha ha ha..... Aduh perutku sampai kram gara-gara tertawa," kata Doni sambil tertawa.
"Ish mas Doni buat Tina malu saja, jangan tertawa lagi," Rajuk sang istri begitu malu dengan kejadian ini, bagaimana bisa ranjang ini ambruk.
Ya kejadian tak terduga yang mereka alami membuat keduanya tertawa adalah ambruknya ranjang milik Tina itu dan suara tadi adalah suara patahan kaki kayu yang sudah rapuh dan tak kuat menyangga bobot tubuh keduanya. Sungguh kejadian itu akan selalu menjadi momen yang lucu dan di kenang mereka berdua.
Tok tok tok tok....
Ketukan pintu membuat keduanya berpandangan. "Ayo buka saja," kata Doni.
"Ah mas Doni saja lah, Tina malu," tolak sang istri yang masih terduduk di atas ranjang ambruk itu.
Mau tak mau Doni pun berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Eh bapak dan ibu ada apa ya?" Tanya Doni dengan kikuk.
"Ada apa nak?" Tanya bapak.
"Iya nak, mana Nana?" Tanya ibu khawatir.
Doni pun menyingkirkan dari pintu namun kedua orang tuanya di buat melongo saat melihat anaknya.
"Duh buat malu saja tuh ranjang," grutu bapak dalam hati.
"Kok bisa ranjangnya ambruk?" Guman ibu.
"Nana kamu keluar dulu, biar bapak dan nak Doni yang bereskan semuanya," kata bapak.
"Tidak perlu pak, sudah malam takutnya bapak lelah," tolak Doni.
"Kalau tidak di bereskan nanti kamu tidur dimana?" Tanya bapak membuat Doni menggaruk kepalanya yang binggung.
"Ayo kita bereskan sebentar biar bisa kalian tempati berdua meskipun tidur di atas kasur namun di lantai, tidak apa-apa kan nak?" Kata bapak menjelaskan dan meminta pendapat sang menantu.
"Ah iya pak, ayo," kata Doni yang setuju dengan usulan dari mertuanya, daripada tidur di ruang tamu di sofa tak ada yang bisa di peluk nantinya.
15 menit akhirnya semua sudah beres. "Terimakasih pak," kata Doni dan Tina bersamaan.
"Iya nak, bapak tidur dulu ya nak kalau ada apa-apa ketuk saja pintu kamar bapak," kata bapak.
Keduanya pun masuk di kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, untung saja rumah Tina lantainya sudah di keramik meskipun keramik jadul.
"Sini," Doni memanggil Tina untuk masuk dalam dekapannya.
__ADS_1
Setelah selesai mengunci pintu Tina dengan malu-malu mendekat ke arah sang suami.
Grepp
Tina jatuh di atas tubuh Doni karena tarikan sang suami.
"Mas...." Rengek Tina.
"Stttt, ayo tidur. Aku hanya ingin memelukmu," lirih Doni dengan suara berat seperti orang yang sudah mengantuk.
Dengan pasrah Tina pun tak bergerak, dia bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang teratur itu, sepertinya suaminya itu sudah tidur. Tina pun merasa mengantuk dan ikut tertidur.
Keesokan harinya...
"Mas Doni mau kemana?" Tanya Tina yang heran melihat suaminya dengan pakaian seperti itu. Training hitam di padukan dengan kaos tanpa lengan berwarna hitam dengan sepatu putih. Rambutnya yang dulu botak kini sudah tumbuh sedikit meskipun begitu tampilan Doni teralihkan oleh otot-otot lengannya yang begitu kekar.
Doni menoleh saat dia tengah sibuk memasang masker di wajahnya.
"Aku ingin lari pagi sekitar sini, untuk menjaga stamina ku saja meskipun tidak bekerja. Aku sudah terbiasa berolahraga pagi-pagi jadi ada yang kurang saja kalau tidak melakukannya satu hari saja," jelas Doni membuat Tina paham, dia ingat kebiasaan Doni di sana yang selalu rutin latihan dan olahraga pagi.
"Oh, jangan jauh-jauh mas," kata Tina mengingatkan.
"Iya, apa istri ku mau ikut," tawar Doni.
"Tidak ah mas, aku jarang dan tak begitu suka berolahraga," tolak Tina.
"Ya sudah, kalau begitu aku tinggal," kata Doni berlalu menjauh.
"Iya mas hati-hati, jangan jauh-jauh takutnya kesasar," teriak Tina membuat Adit yang tidur di ruang tamu terperanjat kaget.
"Buset mbak Nana, tuh mulut apa toa," kata Adit yang mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Enak saja ngatain sembarangan," grutu Tina tak terima.
"Ya mbak Nana kan tahu itu semua fakta," kata Adit dengan enteng.
"Tidur sana gih, masih pagi lagian ini hari Minggu libur," kata Tina.
"Ogah mbak, mata ku tak bisa tidur lagi," tolak Adit.
"Ya sudah, cuci muka terus ikuti mas Doni takutnya kesasar," bujuk Tina.
"Ogah mbak," tolak Adit.
"Kalau ini," kata Tina memperlihatkan uang lembar berwarna merah 2 sontak Adit mengangguk antusias.
Jadilah Adit mengikuti Doni dari jauh selain itu menyelidiki kakak iparnya sekaligus.
__ADS_1
Bersambung....