Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 11. Dorami dan Pengirim Asing.


__ADS_3

Pukul empat pagi, Rain disuguhi dengan pemandangan langka. Di mana seorang Restu Pradifta dan Yordhii Gautama Pradifta tengah berkutat dengan komputernya masing-masing.


Aneh. Itu dikatakan aneh oleh Rain.


Sebab, kedua makhluk itu jarang sekali bangun sepagi ini. Bahkan untuk menunaikan shalat subuh pun, Restu sering kesiangan. Tetapi, kali ini. Ah, Rain berhuznudzan saja. Barangkali suaminya sudah merubah kebiasaan buruk itu.


"Tumben sekali, Mas. Jam segini sudah bangun?"


"Iya, Rain. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sudah adzan belum, ya?" tanyanya tanpa melihat lawan bicara. Namun, menggenggam tangan sang istri yang berada di bahu kanan Restu.


"Belum, Mas. Sepuluh menit lagi sepertinya. Aku buatkan susu, ya, Mas?"


"Boleh."


"Dik Yordhii, mau dibuatkan susu juga?"


"Teh aja, Kak. Yordhii nggak biasa nyusu."


"Pagi-pagi mesum, Lo!"


______________


Hari ini mereka berencana mendatangi toko kue, Rain. Di sepanjang jalan, ketiganya tidak ada yang bersuara. Hanya hening. Mereka asik dengan dunianya masing-masing.


"Mas Restu kenapa?"


"Ti-tidak ada apa-apa, Sayang."


"Benarkah?"


"Iya, Rain. Aku hanya sedang mengagumi karya Tuhan yang berada di sampingku," ucapnya.


"Alah! dasar, Lo. Raja gombal!"


sahut seseorang yang berada di kursi belakang yang tak lain adalah Yordhii Gautama Pradifta.


"Diem, Lo. Kutunya Mak lampir!"


"Gue nggak bisu!" ketus Yordhii.


"Memangnya, Mas Restu pernah lihat kutu di rambutnya Mak lampir?"


"Nggak pernah sih, Rain. Pernahnya lihat Kutu di rambutnya si Yordhii," jawabnya.

__ADS_1


Rain yang tidak tahan dengan lawakan suaminya pun mencoba menahan tawa. Namun Restu malah semaki menggila. Membuat Rain menutup mulut. Sebisa mungkin agar tidak tertawa.


"Kakak ipar kalau mau ketawa jangan ditahan. Di sini tidak terima kentut sembarangan."


"Assalamualaikum."


"Waalaikummussalam. Eh, Mbak Rain, Bapak, silakan masuk. Eh ... ada Mas tampan juga. Maksud saya Tuan Yordhii," jawab Liza salah satu karyawannya.


"Tuan ... tuan ... nama gue Yordhii Gautama Pradifta! Bukan Tuan-Tuan!" sahutnya ketus.


Mendengar kebisingan itu, akhirnya Sari datang menemui majikannya, "Mbak Rain, ini tadi ada pria bertopi datang kemari. Dan dia menitipkan ini untuk, Mbak Rain." Katanya, seraya memberikan boneka dorami berukuran sedang.


"Dorami?" kata Restu mengulang. Dia tampak tengah berpikir siapa gerangan yang memberikan boneka tersebut.


"Kutunya Mak lampir, Lo di sini dulu, ya. Nanti gue balik lagi. Kalau gue nggak balik lagi, Lo jalan kaki aja," teriaknya pada Yordhii.


_______________


"Kita mau kemana sih, Mas?"


"Mau ngecek rambutnya Mak lampir, ada kutunya apa nggak."


Bukannya menjawab lawakan sang suami Rain malah tertawa terpingkal-pingkal. Namun tawanya anggun, tanpa memperlihatkan rahang. Itu merupakan ajaran dikeluarganya, bahwa perempuan tidak baik jika tertawa sampai terlihat rahangnya.


Keduanya pun turun di sebuah bangunan pencakar langit yang bertuliskan 'Store Doll'


Restu meraih tengkuk istrinya. Kemudian, Ia mulai menyatukan kening mereka tanpa celah seinci pun.


"Aku tidak ingin, jika ada orang lain yang memberikanmu boneka dorami, Rain."


"Tapi Mas Restu percaya, kan?"


"Aku percaya, selagi kamu jujur."


"Selamat Datang, Bapak ... Ibu ... ada yang bisa saya bantu?" sambut karyawan toko dengan ramah.


"Saya ingin membeli boneka dorami dengan ukuran tiga kali lipat dari boneka itu." Tudingnya pada dorami yang berada di atas rak.


"Mari, Bapak ... Ibu ... saya antarkan."


"Masyaallah, niat sekali mereka membuat boneka sebesar ini dengan harga fantastis."


"Mas Restu, ayo kita pulang saja. Sayang sekali, jika uangnya dihamburkan untuk membeli boneka. Lebih baik kita sedekahkan saja, Mas," bisiknya pada Restu.

__ADS_1


"Bukankah membahagiakan istri juga sedekah?"


"Silakan dipilih, Bapak ... Ibu ... tempat ini khusus untuk boneka dorami king size," jelasnya.


Setelah melakukan pembayaran, keduanya keluar dari toko tersebut. Namun mereka kebingungan saat sudah berada di parkiran.


"Nggak muat, ya, Mas?"


"Iya, Rain. Nggak muat. Bonekanya saja seukuran dengan kamu lima kali lipat," katanya.


*****


Dihitung dari kejadian itu, mungkin sudah sekitar dua Minggu. Keny tidak lagi menghubungi, Restu. Restu tampak tenang. Kemungkinan besar Keny tidak mengandung anaknya. Tetapi Restu ingat, dirinya tidak mengenakan pengaman kala itu.


"Aarrgghhh!"


Pikirannya kalut, Restu mengobrak-abrik semua yang ada di sekitar. Laptopnya pun tak luput dari amukannya. Semua berserakan. Restu terlihat kacau dengan keadaan yang seperti itu.


"Innalilahi, apa yang Mas Restu lakukan? Istighfar, Mas."


Rain menghampiri suaminya dan memeluk lelaki yang tengah kacau tersebut, "Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Perusahaan papah kebobolan uang satu miliyar, Rain. Pencurinya mengatas namakan diriku dan besok adalah hari terakhir untuk mengganti uang tersebut."


"Kenapa tidak bilang dari kemarin? Apa seorang suami istri harus saling tertutup seperti ini? Yasudah malam ini juga Mas Restu ganti uang itu dengan tabunganku. Insyaallah nominalnya cukup."


"Ta-" ucapannya terpotong.


"Sudah! Jangan tapi-tapian. Mas Restu ini diberikan amanah oleh papah. Jadi, Mas Restu harus bisa mengembannya dengan baik."


"Baiklah, Rain. Aku pinjam dulu uangmu."


Restu pun kembali ke rumahnya pukul delapan malam. Rain yang masih setia menunggu kedatangan suaminya pun enggan untuk makan terlebih dahulu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Sudah, Mas?"


"Sudah, Rain."


"Yasudah, ayo makan dulu. Dik Yordhii sudah makan duluan tadi." Jelas perempuan itu pada restu, sembari tangannya mengambil nasi untuk suaminya.


"Kenapa kamu nggak makan dulu?"

__ADS_1


"Nungguin, Mas Restu. Sudah ayo dimakan dulu."


Keduanya pun hanyut dalam santap malam seraya terbang dalam pikiran masing-masing.


__ADS_2