Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 40. Bayang-bayang Masa Lalu.


__ADS_3

Siang ini sidang perceraian telah usai, semua berjalan dengan lancar walaupun Restu sempat adu mulut dengan pihak pengadilan.


"Rain, tunggu." Panggil Restu dengan tangan yang mencekal lengan kanan mantan istrinya.


"Iya, ada apa?"


"Aku ...." Belum rampung ucapan itu keluar dari mulut Restu, Rain sudah memotongnya. Rain selalu tahu dengan apa yang akan diucapkan oleh mantan suaminya.


"Ingin minta maaf? Aku sudah memaafkanmu, Mas."


"Aku juga minta maaf, ya, Mas. Jika selama kita bersama aku selalu mengukir luka di hati, Mas Restu."


Restu tak mengeluarkan kata sepatah pun, lelaki itu hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat kata iya. Mungkin saat ini Restu menyesal, terlihat jelas dari sorot mata. Lelaki itu menangis seraya menggenggam tangan mantan istrinya dengan erat.


"Aku minta kepada Mas Restu untuk menemaniku datang ke rumah abah dan ummi. Bagaimana pun juga mereka harus mengetahui semua ini," pintanya dengan sesekali menyeka air mata.


"Baik, Rain."


"Kalau begitu aku pamit dulu, assalamualaikum."


Saat Rain hendak melangkah, lagi-lagi Restu mencekal lengannya.


"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir?"


"Maaf, Mas. Kita sudah bukan muhrim."

__ADS_1


*****


Lima hari pasca perceraian itu Rain menjadi seseorang yang tertutup. Ia lebih sering mengurung diri di kamar yang terletak di toko kuenya. Daging bernama hati sudah benar-benar remuk. Seperti ada sesuatu yang mati pada raganya. Tak semangat melanjutkan hidup, itulah yang sedang Ia rasa.


Kala senja, Rain tengah berada di taman kota. Ia ingin melihat senja untuk yang terakhir kalinya. Rain adalah orang yang sangat menyukai senja. Namun setelah perceraian itu, mungkin Ia akan membenci senja. Memang tak selayaknya seperti itu.


"Cangciment ... cangciment ... permennya, Bu?"


"Maaf, saya tidak menyukai permen."


"Sukanya apa?"


"Tidak tahu."


Rain sudah menduga jika seseorang di belakangnya adalah Mario. Dan benar, Mario tengah memakai atribut pedagang asongan. Senyum simpul terbingkai di bibir Rain. Lalu perempuan itu bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkn Mario.


"Kau mau ke mana?"


"Mencari kebahagiaan."


"Berhentilah, bahagiamu ada bersamaku, Rain."


Di toko Ia pun segera mengambil air wudhu. Dia benar-benar menangis di dalam sujud. Ada rasa tidak rela yang menghantui hatinya. Restu, lelaki itu lagi-lagi menjadi alasan utamanya menangis.


Saat hendak melepas mukena, tiba-tiba saja dirinya dikagetkan oleh bunyi telepon. Rain pun segera menghampiri benda pipih berbentuk persegi panjang tersebut. Nomor telepon rumah Mas Restu, ada apa malam-malam begini menelepon? tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bunda."


"Waalaikummussalam, Sayang. Ada apa kok malam-malam telepon bunda? Rara sehat, Nak?"


"Daddy sakit, Bunda. Mommy keny tidak ada di rumah. Rara sehat bunda. Bunda kapan pulang, rara rindu Bunda,"


Hati Rain ngilu sendiri ketika mendengar rentetan kalimat dari Rara. Naif sekali jika dirinya tak merindukan Rara dan mantan suaminya. Terlebih lagi sekarang Restu sedang sakit. Dan Rara, ah, semuanya berubah menjadi rumit dalam seketika.


"Bunda?"


"Ah, iya. Rara bisa berikan teleponnya ke Daddy?"


"Sebentar, Bunda."


"Ada apa, Rain? Maafkan Rara jika dia mengganggumu. Aku tidak tahu jika dia meneleponmu."


"Sudah minum obat?"


"Sudah, Rain. Kamu sehat, kan?"


"Alhamdulillah. Yasudah aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum."


Tangisnya kembali luruh tanpa diminta. Ia sungguh tidak tega jika mendapati Rara dan Restu seperti itu. Rain menyadiri jika mukenanya belum Ia lepas, setelah melepas mukena Ia pun memilih untuk rebahan di atas ranjang.


Malam yang sunyi tanpa gemerlap bintang. Udara yang dingin dan gemercik air hujan yang terus saja membasahi semesta. Seolah-olah mengerti jika salah satu penduduk buminya tengah terluka.

__ADS_1


__ADS_2