Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 46. Weekend Bareng Mantan Suami.


__ADS_3

Sesuai permintaan Rara kemarin, Minggu ini Ia meminta agar Restu dan Rain menemaninya untuk jalan-jalan. Gadis kecil berusia empat tahun terlihat bahagia meski pun tanpa sosok Keny sekali pun.


Tawa kebahagiaan juga terus terukir dari bibir ranum Rain. Sesekali mereka mengobrol terlihat sangat asik. Jika orang tidak tahu yang sebenarnya, mungkin akan mengira jika Rain dan Restu adalah keluarga kecil yang bahagia.


"Mau naik Rollercoaster nggak?" tanyanya pada Rain dengan tangan yang masih merangkul pundaknya.


"Nggak ah, takut."


"Selagi ada aku, kamu nggak perlu takut."


Setelah kata-kata itu, Rain mulai tersadar dari semuanya. Kini Ia menyipitkan mata saat melihat tangan kekar tengah merangkul pundaknya. Restu yang menyadari akan hal itu pun segera menjauhk dari pundak Rain.


Sepertinya mereka terlalu terbawa suasana. Pukul lima sore Rara meminta untuk segera pulang dengan alasan Ia sudah kelaparan dan ingin menikmati sate di pinggir pantai.

__ADS_1


Rain sempat terdiam larut dalam pikirannya sendiri. Jika di tepi pantai, itu tandanya aku dan Mas Restu akan kembali menyaksikan senja?


"Bunda nggak mau, ya?"


Tak mampu sedikit pun Rain menolaknya. Alhasil mereka berangkat jua. Restu dari kejauhan tampak tengah mengotak-atik lensa kamera. Diam-diam lelaki itu mengabadikan gambar mantan istrinya. Kala itu Ia tengah duduk menghadap ke senja yang sebentar lagi akan kembali ke paradua.


Usai mengambil beberapa gambar, lelaki itu menyimpannya ke dalam catatan ponsel dengan disertai beberapa caption yang menarik.


Dariku untukmu bagian satu.


Dariku untukmu bagian dua.


Hembusan angin yang terus menghantam daun kelapa, seolah-olah mengerti dengan perasaan cinta yang masih aku punya untuk dia. Namun, kicauan burung yang hendak pulang ke sarangnya, seolah-olah memberiku isyarat agar aku tak melakukannya. Mungkin, karena alam sudah tidak mengizinkan aku untuk bersamanya. Atau mungkin dentuman ombak tahu, jika bahagianya tak ada bersama diriku. Entahlah, senja yang beberapa menit lagi menenggelamkan dirinya pun tak jua menjawab pertanyaan daku.

__ADS_1


******


"Terima kasih, Bunda. Rara pulang dulu, ya." Ucapnya seraya mencium pipi kanan Rain.


"Rara dan Daddy sayang sekali dengan, Bunda. Iya, kan Daddy?"


Restu kikuk ketika mendengar penuturan anaknya. Ia malu dengan Rain meski pun apa yang baru saja dikatakan putrinya memanglah sebuah kebenaran.


"I-i-iya ...," jawabnya setengah gugup.


"Iya, Sayang. Bunda juga sayang dengan Rara."


Rara kemudian memeluk tubuh kurus ibu tirinya tersebut. Selepasnya, gadis kecil itu mulai berceloteh lagi. Namun kali ini kalimatnya begitu menohok ulu hati Rain.

__ADS_1


"Sama Daddy, nggak sayang, ya, Bunda?"


Rain menoleh ke arah Restu, lalu Ia terdiam sejenak. Tiba-tiba gemuruh guntur terdengar sedikit menggelegar. Restu yang menyadari kebingungan pada Rain pun merasa kecewa. Karena dapat dipastikan rasa cinta Rain sudah pudar untuknya. Kemudian, Restu menghampiri Rara dan mengajaknya segera pulang dengan alasan akan segera turun hujan.


__ADS_2