
"Mario! Yang lain kemana? Kenapa sepi sekali?" tanyanya seraya memeluk boneka dorami dan masih mengenakan piyama tidur.
"Sayang, sudah bangun?"
Mario yang masih memasak pun segera menghentikan aktivitasnya. Kemudian, Ia berjalan mendekati sang istri yang sudah menduduki kursi di samping kulkas.
"Abah dan ummi pagi-pagi tadi berangkat ke Semarang. Dan Si Arumi mamah kesayangan aku, dia udah pulang sejak tiga puluh menit yang lalu. Jangan tanya kenapa mereka tidak ada yang berpamitan denganmu, Rain."
"Minum dulu. Segelas air mineral di pagi hari itu sangat bagus untuk kesehatan tubuh kita. Salah satunya menghilangkan racun dalam tubuh, meningkatkan metabolisme, memperkuat kekebalan tubuh, dan masih banyak lagi," timpalnya untuk yang kesekian kali.
Setelah menegak air mineral tersebut, Rain kembali berucap kepada suaminya. "Kamu masak?" katanya dengan arah bola mata yang menuju sebuah hidangan yang masih mengepul asapnya.
"Iya, Manusia Purba. Cepat mandi, aku akan menyiapkan pakaianmu."
"Apa tidak kebalik? Itu semua tugasku, Mario. Kamu saja yang mandi. Hari ini ke Rumah Sakit, kan?"
"No problem, Baby. Aku ke Rumah Sakit jam sembilan. Dan ini masih ada waktu satu jam lagi untuk mengurus istriku yang cantik."
"Mario, aku tidak ingin dimanjakan. Sudah, kamu cepat mandi dan aku akan menyiapkan pakaianmu. Lagian bajumu masih di koper, belum aku tata ke dalam lemari," jelasnya kepada seseorang yang mempunyai bola mata berwarna kebiruan.
"Mandi bareng tapi!"
Terdiam beberapa saat ketika kalimat singkat itu terucap dari bibir tipis sang suami yang berwarna merah jambu. Rain masih memerlukan waktu untuk membiasakan dirinya dengan hal baru yang akan Ia jalani.
"Jangan dipaksa jika memang kamu belum siap. Baiklah, aku tinggal mandi dulu, ya. Jangan lupa dicek seprai kamu, tampaknya ada yang bocor dan perlu diganti."
__ADS_1
Ungkapnya disertai sebuah cengiran. Dan kalimat terakhir suaminya sukses membuat Rain mengingat sesuatu. Seketika Ia langsung berlari guna melihat kalender. Dan benar saja, hari ini adalah hari bulanannya.
"Astaghfirullahhaladzim." Gumamnya seraya berjalan menuju kamar.
_________________
Tidak ada dispensai bagi seorang dokter yang bernama Mario Drawgalend. Sekali pun Ia baru saja melaksanakan akad nikah kemarin malam. Pagi ini sekitar pukul sembilan, Ia mengajak sang istri untuk menemaninya tugas di Rumah sakit di daerah Jawa Tengah.
Sebelumnya Mario memang sudah mempunyai klinik di daerah Magelang, Jawa Tengah tepatnya di Desa Windusari. Awalnya Rain menolak ajakan sang suami, dengan alasan Ia takut jarum suntik. Namun bukan Mario namanya jika tidak bisa meluluhkan hati sang istri.
"Susah loh, Rain. Punya suami seorang dokter. Jarang ada liburnya, sering pulang malam kalau pas banyak pasien. Dan lagi, kamu tahu, kan kalau aku ini seorang dokter spesialis kandungan serta penyakit dalam?"
"Apa saat proses persalinan, kamu juga yang menanganinya?"
"Iya."
"Jadi, kamu tahu semuanya?" tanyanya kembali.
Tidak menjawa dengan perkataan, Mario hanya melirik Rain seraya memperlihatkan cengirannya. Dokter muda itu tidak mampu menyembunyikan rasa ingin tertawanya ketika mendapati pipi sang istri sudah blushing terlebih dahulu.
Setibanya di parkiran klinik, Mario sudah turun terlebih dahulu. Setelah membukakan pintu sang istri, Ia pun segera menggandeng Rain untuk dibawanya masuk ke dalam klinik. Dari sekian orang yang ada di sini, tidak satu pun yang Ia kenali.
Namun, karena rata-rata orang Jawa Tengah yang bekerja di klinik tersebut, mereka pun sontak menunduk dan menyunggingkan senyum kepada Rain dan Mario. Seolah-olah mengerti bahwa tuan mereka sudah datang.
Hal itu membuat Rain bersorak dalam hati. Entah sorakan malu atau bahagia. Klinik tersebut terlihat tidak terlalu besar saat dipandang dari luar. Namun ketika Rain menginjakkan kaki di lorong klinik, kakinya mulai lelah sebab sedari tadi tidak sampai-sampai.
__ADS_1
"Ruangan kamu masih jauh, ya?"
"Kenapa? Kamu capek?"
"Iya."
Tanpa izin atau aba-aba lainnya, Mario sudah dengan sigapnya membopong tubuh mungil sang istri. Jelas sudah pasti jika Rain akan memberontak. Namun Mario mulai mempercepat langkahnya dan membawa masuk sang istri ke dalam ruangan yang dominan warna kuning juga sticker dorami yang menempel di dinding ruangannya.
"Mario! Turunkan aku."
Mario pun menidurkan sang istri di ranjang pasien pun dengan isengnya Ia mulai mendekatkan wajah mereka, hampir saja hidung mereka saling menempel.
"Masuk."
"Maaf, Dokter Galend. Saya hanya ingin melihat istri Anda. Ternyata seperti bidadari. Halo Bu Galend, saya Fajru salah satu pegawai di sini. Saya permisi dulu." Sesaat kemudian pintu kaca itu kembali tertutup bersamaan dengan perginya pemuda tadi.
_____________
Pukul tujuh malam keduanya memutuskan untuk pulang. Jalanan desa Windusari saat malam hari masih sangat terasa keasriannya. Tidak terlalu ramai seperti di kota-kota besar. Udara yang sejuk saat malam hari ternyata mampu membuat kantuknya hilang secara perlahan.
Mereka pun memutuskan untuk memesan gurame bakar pada pedagang kaki lima yang ada di sekitar jalan. Setelah selesai, Mario mulai membayar kepada ibu pedangang tersebut. "Berapa, bu?" tanyanya.
"Empat puluh dua ribu saja, Mas."
Mario menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada ibu-ibu itu. Setelahnya Ia pergi tanpa menunggu kembaliannya.
__ADS_1
"Kembaliannya titip dikasihkan untuk anak ibu saja, ya."
Rain merasa terenyuh kala itu. seorang Mario Drawgalend rupanya memiliki sisi baik yang tak pernah dirinya ketahui.