Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 38. Aku Istrimu Bukan Hanya Teman Tidurmu.


__ADS_3

Setelah selesai berbelanja mereka berhenti disalah satu rumah makan khas Jawa. Mario selalu tahu tentang Rain. Dari yang disukai sampai yang dibenci.


"Kamu dan Sari biar aku saja yang nganterin. Bang Rio antar Kak Rain, ya,"


Mereka pulang menuju arah masing-masing. Dalam perjalanan Mario tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mulutnya terasa kaku. Untung saja tak lama dalam perjalanan mereka pun sampai di pelataran rumah Rain. Namun tanpa mereka sadari Restu sudah berdiri di balik pagar besi berwarna putih.


"Oh, jadi seperti ini ya, Rain. Pantas saja nggak bilang kalau mau keluar. Senang, ya kalau suami nggak di rumah. Aku harus bilang berapa kali, jangan dekat-dekat dengan Mario!"


"Kamu masih mengakui dirimu sebagai suaminya Rain? Ingat Tuan Restu! Perjanjian kita tujuh tahun yang lalu. Ingat itu! Rain, aku pulang dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik. Jika terasa sakit hubungi saja mamahku."


Setelah kepergian Mario, Rain melangkah meninggalakan suaminya yang masih terbakar emosi. Kali ini Rain benar-benar tidak akan tinggal diam. Ia tidak akan bodoh seperti sebelumnya.


"Tunggu aku, Rain! Kau ini istri macam apa? Aku suamimu masih berbicara!"


Rain menghentikan langkahnya. Kemudian Ia berbalik menghampiri Restu. Menghujaminya dengan tatapan maut.


"Stop membentakku, Mas! Peduli apa Mas Restu denganku. Sudah cukup kau menoreh luka. Jika Mas Restu masih menganggap diri Mas Restu sebagai suami maka aku juga masih menganggap diriku sebagai istri. Jika Mas Restu masih ingin dihormati layaknya suami, tolong perlakukan aku layaknya istri pula. Kau masih punya tanggung jawab atas diriku, Mas. Mana keadilanmu untukku? Aku sudah ikhlas jika kau madu, aku sudah ikhlas berbagi rasa. Selama ini aku diam ketika Mas Restu melukai hatiku. Aku masih terima, aku masih ingin berbakti pada suamiku. Tapi untuk apa semua itu jika tak kau hargai sedikit pun? Apa hatimu sudah mati?"


Rain menyeka air matanya. Baru kali ini dirinya bicara dengan Restu menggunakan intonasi lebih tinggi. Ia sebenarnya takut dosa, tapi akan lebih dosa jika membiarkan suaminya lalai dalam tanggung jawab.


"Sudah berapa kali aku katakan. Aku bukan khadijah! Aku perempuan biasa. Hatiku bukan tercipta dari besi atau baja. Aku bisa terluka kapan pun dengan sikapmu. Ingat, Mas! Di mana letak keadilanmu? Kau bahkan berani mempunyai dua istri tapi kenapa kau tidak bisa berlaku adil kepada kedua istrimu? Apa karena aku mandul? Ah, percuma saja aku bicara dengan batu. Tak akan ada jawaban. Sungguh, maafkan atas kelancanganku."

__ADS_1


Rain secepat mungkin berlari meninggalkan Restu yang masih mematung. Namun secepat apa pun Ia berlari, tak akan bisa jauh dari jangkauan suaminya. Tangan kekar tersebut sudah sigap menahan tangan kanannya.


"Ma-," ucapan Restu terpotong saat Rain berbalik badan.


"Maafkan aku! Itu, kan yang akan Mas Restu katakan? Bosen aku dengarnya!"


Rain pun melenggang pergi meninggalkan suaminya yang mematung dalam kegelapan. Rain benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya tersebut. Mengapa bisa-bisanya seperti itu tanpa memikirkan perasaan sang istri yang benar nyeri.


"Harusnya kau sadar, Mas. Aku ini istrimu bukan hanya teman tidur," ujar Rain dalam kesendirian.






Panggilkan untuk saudara perempuan.


__ADS_1



Aku boleh duduk.




Silahkan, wahai saudara perempuanku.




Siapa namamu.




Nama saya, Loovinka Rain.

__ADS_1




__ADS_2