Suamiku Gila. (Sad Hurt)

Suamiku Gila. (Sad Hurt)
Bab 15. Bukan Allah yang Menghukum. Tetapi Manusia Sendiri.


__ADS_3

"Iya. Lusa aku akan kembali ke Indonesia. Pastikan perempuan itu baik-baik saja. Beritahu aku ketika ada berita mengenainya."


Sambungan telepon itu terputus sepihak.


Terlihat seorang yang tengah duduk santai di balkon kamarnya. Tengah menyunggingkan senyuman.


"Oh Lord! Semoga kamu menyukai pemberianku, wanita manis."


****


Restu, Rain, dan Yordhii. Hari ini bersiap-siap hendak mengunjungi para korban gempa bumi. Tidak lupa membawa beberapa bahan makanan, obat-obatan, pun beberapa pakaian. Sekitar dua jam lebih, akhirnya mereka sampai di lokasi pengungsian.


"Inalilahi."


Rain menyalami beberapa penghuni tenda tersebut. Matanya menangkap sosok bayi yang hanya memakai kain kumal yang dililitkan di tubuhnya. Kemudian, Restu dan Yordhii datang seraya membawa beberapa kantong plastik. Bau tak sedap menyengat hidung mereka. Udara di sini begitu lembab. Bau darah dan bau busuk begitu tajam menyengat indera penciuman.


Restu dan Yordhii yang tidak tahan dengan bau itu pun memutuskan untuk segera pergi. Tetapi lain dengan perempuan itu, Ia masih setia duduk di tempat tersebut. Terlihat sekali jika Rain tampak akrab dengan orang-orang korban gempa bumi.


"Anda tidak hanya cantik dan shalehah. Tapi hati Anda seperti malaikat. Saya sangat berterima kasih kepada Anda karena sudah mengunjungi, Kami," kata salah satu penghuni tenda tersebut.


"Ini sudah kewajiban saya sebagai seorang muslim. Bukankah kita harus menjalin ukhuwah islamiah?¹ Saya hanya mampu berdoa, saya tidak mampu membantu lebih dari ini."

__ADS_1


"Ini sudah lebih dari cukup untuk kami."


Manik mata Rain kembali mengamati sekitar tenda. Di sini tidak ada dapur dan kamar mandi. Di pojok tenda nomor dua terdapat tiga sampai empat tungku. Mungkin mereka menggunakannya untuk memasak.


Rain mencoba mendatangi setiap tenda. Ia kembali disuguhi pemandangan memprihatinkan. Seorang kakek tua yang terbaring lemah di atasi tikar lusuh. Dengan goresan luka di beberapa bagian tubuhnya. Rain tiba-tiba ingat dengan abahnya.


Tak dapat Ia bayangkan jika semua ini menimpa kedua orang tuanya. Demi Allah, hatinya ngilu bukan main. Sesak sekali rasanya. Melihat Kakek tua yang badannya penuh luka.


Allahhumaghfirli wali-wali Dayyah, warhammhumma kama rabbayani sakhirah.³


"Kakek, bersabarlah. Ini ujian dari Allah," ujarnya lembut.


"Tapi kenapa Allah memberikan ujian seberat ini, Nak?"


Dari Ibnu Qayyim juga menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kapada, Allah.


____________


"Maafkan kita berdua, Kak. Sungguh, aku tidak tahan dengan aroma seperti itu," ujar Yordhii yang mewakili Kakaknya.


"Lain kali jangan seperti itu. Kesannya nggak baik. Sekarang mau kemana lagi, Mas?"

__ADS_1


"Cari makan ya, Rain?"


___________


Sembari menunggu pesanan datang. Kedua Adik Kakak itu berbincang-bincang. Mereka sudah tidak menggunakan panggilan 'Lo Gue' lagi. Dan itu membuat Rain senang.


"Kak Restu, pintar geografi, kan? Gempa bumi itu proses pergerakan lempeng bumi, ya? atau itu fenomena alam?"


"Kakak sudah lupa, materi geografi."


"Gempa bumi itu bukan sekedar fenomena alam, Dik. Ya, memang benar, gempa bumi ini terjadi karena pergeseran lempeng bumi, tapi semua itu merupakan kehendak dan peringatan dari Allah agar manusia kembali pada-Nya."


"Oh, iya benar, Kak. Aku dulu pernah baca buku tentang pesan K.H ACHMAD DAHLAN yang menyatakan "Perhatikanlah alam dan bangsamu, jika di suatu bangsa yang beriman, mereka mengaku sebagai pemimpin yang baik, namun jika terjadi sebuah kerusakan akibat bencana alam yang berturut-turut, maka itu pertanda rusak pemimpinnya."


Yordhii yang menjelaskan dengan nada bicara lantang pun, langsung menjadi pusat perhatian pengunjung restaurant. Penjelasannya yang rinci mampu menciptakan daya tarik tersendiri bagi pendengarnya.


"Ternyata Dik Yordhii pandai juga mengenai ilmu agama. Apa Dik Yordhii tahu, ayat Al-Qur'an atau hadist yang menjelaskan tentang bencana alam?"


"Aduh, Dik. Jangan terbang deh. Baru dipuji gitu aja, ingat! Dipuji jangan terbang, dihina jangan tumbang!" ketus Restu kepada adiknya.


"Maka akan aku turunkan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang kami benamkan di dalam bumi, dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS.AL A'RAF ayat 77.)

__ADS_1


"Subhanallah, Mas Restu. Di balik Yordhii yang nakal ternyata ada jiwa yang beriman. Tapi maksudnya bagaimana, Dik. Coba kamu jelaskan?" ungkapnya Rain sedikit memancing, pasalnya Ia sudah paham dengan ayat tersebut.


"Ah, seperti ini, Kak. Jadi Allah menimpakan segala macam bencana alam sebagai peringatan agar hamba-Nya meninggalkan segala maksiat. Sebenarnya Allah tidak menganiaya hamba-Nya. Tetapi hamba-Nyalah yang manganiaya diri mereka sendiri dengan melakukan maksiat," jelasnya.


__ADS_2