
Pasangan suami istri itu tak henti-hentinya mengucap syukur kala toko kuenya mendapat tawaran kerja sama dari negara tetangga. Tuhan memang selalu jujur Ia tidak pernah berbohong sedikit pun. Kesuksesan, keberhasilan, dan juga rezeki, itu semua sudah Tuhan tentukan. Tak ada satu pun umat-Nya yang tidak mendapatkan jatah. Tuhan begitu adil bukan?
***
"Rain! Kamu lagi mikirin siapa? Dipanggil dari tadi kok nggak jawab! Rain!"
"Astaghfirullah, ya enggaklah, Mas. Aku hanya lagi mengingat masa kecilku. Dulu aku sering gagal dalam hal memasak. Namun tidak aku sangka sekarang aku bisa berhasil seperti ini."
"Karena kamu wanita hebat, Rain. Aku percaya keberhasilan itu akan selalu menyertaimu," katanya dengan bangga, seraya mengusap pucuk kepala istrinya.
"Iya, Mas. Yasudah sana Mas Restu berangkat. Nanti kesiangan lagi."
"Benar nih nggak apa-apa aku tinggal?"
"Iya, Mas. aku sudah baikan kok."
"Yasudah, aku berangkat dulu, ya, Sayang. Kalau kamu butuh apa-apa panggil bik tinah. Jangan ke mana-mana, nanti siang jangan lupa makan dan obatnya diminum."
"Iya, Sayang."
"Sini peluk dulu."
Tanpa persetujuan, Restu pun langsung membenamkan sang istri dalam pelukannya.
"Nanti aku usahain pulang sebelum Maghrib, Rain."
"Iya, Mas."
______________
Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca, air matanya mulai jatuh bersamaan dengan rintik air hujan. Entah apa yang Ia tangisi. Yang Ia tahu hanyalah sebuah kebahagiaan, karena apa yang Ia kerjakan sejak kecil kini membuahkan hasil.
Kota itu menjadi sepi tak ada manusia satu pun yang berlalu lalang. Hanya kendaraan beroda empat saja yang nekat malanjutkan perjalanannya. Sore itu kota tempat tinggal Rain diguyur hujan deras, angin yang bertiup kencang seolah-olah ingin merobohkan pepohonan yang ada.
Hari sudah menunjukkan pukul setengah enam. Namun suaminya tak kunjung datang. Hatinya mulai resah. Rain ingat dengan perkataan suaminya jika Ia akan pulang sebelum Maghrib. Dan ini tiga puluh menit lagi akan memasuki waktu Maghrib.
"Ya Allah semoga mas Restu baik-baik saja."
"Aduh, Ibu bisa tambah sakit jika berada di sini. Ayo buruan masuk."
__ADS_1
"Baik lah, Bik," lirihnya.
Deret dreeet dreeet.
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam. Kak restu di mana ya, kak? Kenapa nggak bisa dihubungin?"
"Entahlah, Dik. Kakak juga sedang mencemaskannya. Tadi pagi sih ke kantor dan dia bilang akan segera pulang sebelum Maghrib, tapi sampai sekarang belum juga datang."
"Yasudah nanti biar yordhi yang cariin kak restu. Kakak ipar tenang saja di rumah. Dan satu lagi kak, hari ini aku pulang ke Indonesia. Rencananya ingin dijemput kak restu dan Kakak ipar sih. Tapi yasudahlah, aku akan cari taxi saja."
"Dik Yordhi ingin pulang ke rumah mamah atau ke rumah kak restu?"
"Ke rumah Kakak sajalah. Nggak apa-apa, kan?"
"Ya nggak apa-apa lah, Dik. Ini, kan juga rumahmu. Yasudah kakak tutup dulu, ya teleponnya, Assalamualaikum."
Belum sempat Rain mematikan sambungan telepon, tubuhnya sudah ambruk terlebih dahulu. Membuat ponselnya jatuh menjadi beberapa keping.
****
Mata yang sipit, bibir tipis, alis tebal, jakun yang ditumbuhi rambut, dan juga hidung mancung yang menambah ketampanan pria yang mempunyai nama lengkap Yordhii Gautama Pradifta. Ya, Yordhii merupakan adik dari Restu pradifta.
"Sialan! Damn it."
"Gue pastiin lo bakalan jadi penghuni neraka permanen setelah ini!" Yordhii mulai menghujami kakaknya dengan segala sumpah serapah.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ... tut
"Gue kirim pesan aja kali ya," gumamnya.
To:Kak Res.
"Woi, makhluk *******! Lo di mana? Gue balik nih, jemput gue, ya. Di bandara."
Satu menit dua menit hingga tiga puluh menit pun tidak ada tanda-tanda sang kakak membalas pesan itu.
To:Kak Res.
__ADS_1
"Gue pastiin lo bakalan jadi penghuni neraka permanen setelah ini, kak! Lo nggak mikir gimana cemasnya kakak ipar nungguin lo! Dasar sialan, lo."
Ah percuma gue kirim pesan, nggak akan dibaca juga kali, **** banget sih gue. Batinnya.
"Apa gue harus telepon si ******? Firasat gue mendadak nggak enak gini."
"Ada apa, Adik kecil?"
Tidak menunggu lama. Suara yang melengking khas Marry Kenysha pun menembus indra pendengarnya.
"Lo sembunyikan di mana kakak gue, ******?"
"Ah, tenang saja, Adik kecil. Kakakmu aman bersamaku. Bahkan, dia tadi mengajakku Making."
"Apa!" kagetnya tak habis pikir.
"Hei! Tenang saja, kakakmu aman dan mungkin sekarang Ia sedang tertidur pulas di apartementku."
"Kau be ... sialan!" sambungan telepon tersebut sudah terputus secara sepihak.
******
Restu mulai mengerjapkan matanya, sesaat setelah itu Ia mulai mengabsen sekeliling ruang apartement. Dia begitu terkejut saat mendapati tubuhnya tanpa benang sehelai pun.
"Tidak mungkin! Ini pasti hanya akal-akal keny saja."
Restu memang menjalin hubungan gelap dengan mantan kekasihnya itu.
Bahkan tidur bersama dalam satu ranjang pun sudah pernah mereka lakoni.
Namun, seorang Restu Pradifta masih mempunyai batasan. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu dengan sembarang perempuan. Tetapi kali ini dia benar-benar dikagetkan dengan keadaan tubuh yang polos tanpa benang sehelai pun.
"Keny," teriaknya, berharap perempuan itu memberikan penjelasan.
"Kau jangan main-main denganku!"
Lagi, "Keluarlah! Sebelum aku mencakar-cakar wajah cantikmu! Aku tidak suka dipermainkan, Keny!" murkanya dengan oktav kian menggelegar.
-------------
__ADS_1