
Tidak ada yang perlu disesali, tidak ada yang perlu ditangisi. Semua sudah terjadi. Rain hanya akan mencoba menerima serta ikhlas menjalani semua ini. Jika sekarang Ia tidak bisa, mungkin lambat laun Ia akan terbiasa. Selama di perjalanan Ia tak henti-hentinya bertasbih.
"Siapa itu? Pagi-pagi begini sudah ada di toko?" gumamnya.
Rain turun dan bermaksud mendatangi pria itu. Naas, Ia terlambat, pria bertopi itu sudah lari terlebih dahulu.
"Mbak Rain?"
"Itu siapa, Sar? Kok pagi-pagi sudah di toko?"
"Dia setiap pagi selalu datang kemari, Mbak. Dia juga yang nitipin dorami untuk Mbak Rain."
Rain tengah berpikir seraya menyiapkan beberapa bahan untuk membuat donat. Mulai dari tepung terigu, telur, gula, kentang, dan lainnya.
"Yasudah biarkan saja. Kalian sudah sarapan belum?"
"Sudah, Mbak Rain." jawabnya.
____________
Biasanya toko tutup pukul lima sore. Tetapi sore ini Rain sengaja tidak menutup tokonya. Ia enggan untuk pulang lebih cepat. Sembari menunggu malam, perempuan itu membaca Nadhoman. Maghrib kembali menjumpai dirinya. Setelah menunaikan shalat, Ia memutuskan untuk pulang. Ponselnya sudah berdering sejak tadi. Namun Rain memilih untuk mendiamkannya.
__ADS_1
From : Mas Restu.
Rain kamu di mana? Kenapa tidak pulang? Ini sudah malam, Rain? Tolong angkat teleponku.
Setengah delapan, Ia sudah sampai di rumah. Sepi, itulah yang pertama kali Ia jumpai. Kemudian Rain menuju dapur guna mengambil air mineral. Tidak ada hidangan yang tersaji, meja makan kosong. Dapurnya juga tidak terlalu terang, dari kejauhan Ia melihat siluet tubuh seseorang yang Ia yakini adalah suaminya.
"Mas Restu?" ucapnya seraya mendekati seseorang tersebut.
"Rain, maaf aku tidak tahu jika kamu sudah pulang. Kamu sudah makan? Kalau belum, duduklah. Aku sedang menggoreng telur."
"Yang lain di mana? Apa Mas Restu belum makan?" selidiknya pelan-pelan.
"Duduklah, Mas. Biar aku yang masak."
Rain mengambil alih pekerjaan suaminya, Ia merutuki dirinya sendiri. Jika tahu akan seperti ini Ia akan pulang secepat mungkin. Dan menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Kamu dari mana saja, Rain? Jangan suka membuatku cemas." Celetuknya seraya memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Memangnya mbak keny ke mana, Mas?"
"Di kamarnya, Rain."
__ADS_1
Rain tetap memaksakan dirinya untuk memasak. Bagaimana pun juga, Ia adalah istri Restu. Ia mempunyai kewajiban untuk melayani suaminya.
"Duduklah, Mas. Masakannya sudah matang."
Setelah tersaji, Rain berpamitan untuk membersihkan diri, Ia merasa gerah. Sebenarnya tidak, itu hanya alasan untuk sedikit menjauh dari Restu. Canggung, itu yang Ia rasakan saat bersama.
"Makanlah, Mas. Aku ke atas dulu."
"Rain," panggil Restu.
Rain yang baru beberapa langkah pun menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa, Mas?"
"Jangan pergi! Duduk di sini. Temani aku makan."
Mau tak mau, akhirnya Rain duduk di samping Restu. Ia menemani suaminya makan malam. Sesekali Rain melempar senyuman kepada Restu. Dan sesekali juga Restu menyuapi istrinya. Jika sudah seperti ini, mereka lupa bahwa rumah tangganya sudah kedatangan orang ketiga.
Qadarullah menurut bahasa yaitu ketetapan atau kehendak Allah. Jika menurut istilah, yang berasal dari Qada merupakan suatu ketetapan Allah dari sejak zaman azali atas segala sesuatu yang berkaitan dengan kehendak-Nya, hal ini mencangkup kehendak Allah yang bersifat baik atau buruk, hidup mati seseorang dan lainya.
__ADS_1